Paripurna Istimewa Peringati Hari Jadi Kota

Wali Kota Probolinggo Habib Hadi saat sambutan pada rapat Paripurna Istimewa Hari Peringatan Hari Jadi Kota Probolinggo ke 660. (Foto:Rizal/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)
image_pdfimage_print

MAYANGAN – Rampung melaksanakan apel Hari Jadi ke 660 Kota Probolinggo, Wali Kota Hadi Zainal Abidin dan Wawali Mochammad Soufis Subri melanjutkan Paripurna Istimewa Hari Peringatan Hari Jadi Kota Probolinggo, Rabu (4/9) siang. Paripurna dipimpin Ketua Sementara DPRD Abdul Mujib.

Dalam sambutan yang dibacakannya, Wali Kota Habib Hadi menyampaikan bahwa penetapan Hari Jadi Kota Probolinggo tidak lepas dari sejarah kerajaan Majapahit. Perintah Prabu Hayam Wuruk untuk membuka Hutan Banger (babat alas banger) pada tanggal 4 September 1359, kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Probolinggo tercinta ini.

Tema peringatan hari jadi ke-660 kota probolinggo tahun 2018 adalah “Membangun Kota Probolinggo cerdas, menuju indonesia unggul”. Tema ini merupakan pesan penting bagi warga masyarakat bahwa untuk membangun Kota Probolinggo tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur seperti jalan, pasar, perkantoran yang memadai. Namun yang paling penting adalah bagaimana membangun masyarakat menjadi masyarakat yang cerdas, menjadi Sumber Daya Manusia yang unggul.

Pada masa kepemimpinannya, Pemerintah Kota Probolinggo sudah menggratiskan biaya pendidikan untuk SD dan SMP negeri/swasta sekaligus seragam sekolahnya. Tidak hanya SD dan SMP saja, bagi anak Kota Probolinggo yang berprestasi namun keluarganya tidak beruntung, akan memberikan beasiswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.

“Jadi, anak Kota Probolinggo yang pandai tapi secara ekonomi kurang mampu, tidak perlu takut jika ingin melanjutkan kuliah karena pemerintah siap membiayai,” katanya.

Soal pengendalian lingkungan, pemkot kerap melakukan razia pelajar yang kedapatan membolos; merazia penjual minuman keras hingga secara tegas menutup tempat hiburan malam karaoke. Kebijakan itu pun mendapat banyak dukungan dari berbagai pihak baik itu organisasi masyarakat, organisasi keagamaan serta kalangan masyarakat Kota Probolinggo.

Pemkot Probolinggo tengah mewujudkan pembangunan rumah sakit baru yang akan dimulai tahapan secara fisik pada tahun 2020 dan dilakukan secara bertahap hingga beberapa tahun ke depan. Wali kota memohon doa restu serta dukungan agar fasilitas kesehatan yang lebih memadai dapat dinikmati oleh masyarakat yang membutuhkan.

Wali Kota dan Wakil Wali Kota Probolinggo bersama Ketua DPRD sementara dan Wakil Ketua DPRD sementara saat rapat Paripurna Istimewa Hari Peringatan Hari Jadi Kota Probolinggo ke 660. (Foto:Rizal/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)

Masih di bidang kesehatan, pemkot akan mendirikan rumah sakit pendidikan usai ditandatangani perjanjian kesepakatan bersama dengan Poltekes Surabaya. Di Kota Probolinggo rencana akan ada D1 atau D3 keperawatan, kebidanan, analisis kesehatan dan farmasi.

Selain itu, per tanggal 1 September Pemerintah Kota Probolinggo telah menerapkan program Universal Health Coverage (UHC). Dengan demikian sebanyak 97,24 persen warga Kota Probolinggo sudah terjamin layanan kesehatannya jika akan berobat ke puskesmas atau rumah sakit. Sisanya 3 persen sekian masih menunggu entry NIK (nomer induk kependudukan) sebagai salah satu syarat masyarakat tercover dalam program UHC ini.

Di bidang instruktur, pemkot akan merevitalisasi Alun-alun; pembangunan kawasan Mayangan melalui program kota tanpa kumuh;  pengembangan Pantai Permata Pilang; pembangunan Pasar Baru yang mulai masuk progres pelelangan. Kabar baik lainnya akan ada pasar agro diintegrasikan pasar ikan dan hewan di Wonoasih.

Untuk menyejahterahkan PTT di lingkungan Pemerintah Kota Probolinggo, kami berencana menaikkan gaji PTT sebagai bentuk perhatian terhadap kesejahteraan dan beban kerja yang sudah dilaksanakan dalam membantu menjalankan tugas di masing-masing OPD.

“Terkait pengadaan ambulance, mudah-mudahan semua kelurahan segera terpenuhi agar akses masyarakat menuju fasilitas kesehatan tidak kesulitan,” kata Habib Hadi.

Sejumlah penghargaan sepanjang tahun 2019 telah diterima oleh Pemkot Probolinggo. Antara lain penghargaan Adipura ke 12 berturut-turut; penghargaan SAKIP 2018 dari Kementerian PAN RB dengan predikat nilai BB; penghargaan Kearsipan dengan Kategori Baik Dari Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia; Penghargaan Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK-RI Tahun Anggaran 2017 & 2018; Penghargaan Kota Layak Anak (KLA) kategori madya tahun 2019 dan penghargaan  sebagai Pemerintah Daerah yang berkomitmen tinggi terhadap pengelolaan inovasi administrasi negara dari LAN Tahun 2019.

“Prestasi ini tidak hanya untuk pemkot, tapi karena kebersamaan dengan masyarakat. Tanpa dukungan dari swasta dan masyarakat, sangat mustahil Kota Probolinggo bisa mempertahankan penghargaan tersebut,” ujar wali kota.

Wali Kota Habib Hadi saat bersalaman dengan salah satu anggota DPRD Kota Probolinggo saat selesai rapat Paripurna Istimewa Hari Peringatan Hari Jadi Kota Probolinggo ke 660 (Foto:Rizal/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)

Perbedaan Menjadi Sumber Kekuatan

Kepada anggota DPRD Kota Probolinggo, Wali Kota Habib Hadi mengajak legislatif mewujudkan masyarakat yang sejahtera, bahagia lahir dan batin. Karena banyak PR yang harus diselesaikan secara bersama-sama.

Pihaknya berkomitmen merealisasikan program sesuai visi misi. “Tentunya dengan dukungan dari Bapak-Ibu anggota DPRD Kota Probolinggo menjadi semangat bagi kami dalam menjalankan dan menyukseskan  program prioritas guna mewujudkan masyarakat Kota Probolinggo yang sejahtera, cerdas dan unggul,” terangnya.

Kekompakan di kalangan legislatif eksekutif dan yudikatif semakin berkelanjutan untuk merealisasikan program prioritas pemerintah demi kemaslahatan masyarakat.

Sama halnya di apel Hari Jadi, paripurna istimewa yang dihadiri mantan Ketua DPRD Kusnan itu juga banyak wakil rakyat yang memakai pakaian adat. Ini diartikan perbedaan di Kota Probolinggo itu ada namun tidak menimbulkan perpecahan.

“Kostum yang saya dan wakil gunakan, menunjukkan etnis yang minoritas di Kota Probolinggo tapi bisa bersama-sama dengan warga lain. Kota Probolinggo luar biasa dan punya toleransi yang tinggi. Perbedaan tidak menjadi tantangan tapi kekuatan untuk kota kita tercinta,” tegas Habib Hadi.

Sementara itu, Ketua Sementara DPRD Abdul Mujib menambahkan, ada rentetan perjuangan terbentuknya Kota Probolinggo. Dari perjuangan itu tidak bisa dihindarkan ada perbedaan. Menurutnya, perbedaan menjadi suatu kekuatan membangun Kota Probolinggo secara bersama-sama.

“Harapan untuk Kota Probolinggo, masih banyak potensi yang harus dikembangkan terutama masyarakat Kota Probolinggo yang terdiri dari berbagai macam etnis. Ke depan ada kebersamaan lebih baik lagi untuk menciptakan Kota Probolinggo lebih maju,” tutur Abdul Mujib, saat ditemui usai paripurna. (famydecta/humas)