Wawali Harap Karapan Kambing Diakui Sebagai Budaya Lokal

Kedopok – Karapan kambing masih menjadi agenda rutin yang tidak pernah absen pada event Seminggu di Kota Probolinggo (Semipro) memperebutkan piala bergilir Wali Kota Cup. Pagelaran tersebut selalu ditunggu oleh seluruh pecinta karapan kambing di Kota Probolinggo.
Sama seperti tahun tahun lalu karapan kambing digelar di Lapangan Progo, Kelurahan Jrebeng Kulon, Kedopok. Wakil Wali Kota Probolinggo Mochammad Soufis Subri hadir sekaligus memberikan hadiah kepada para pemenang, Rabu (4/9) sore, turut hadir juga Asisten Pemerintahan Gogol Sudjarwo, Camat Kedopok Imam Cahyono.

Kabid Destinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada Dinas Budaya dan Pariwisata Pramito Legowo menginginkan karapan kambing menjadi salah satu potensi pariwisata yang harus terus dikembangkan, mengingat ini merupakan salah satu budaya lokal. Sebanyak 96 peserta karapan kambing pada tahun ini, jumlah tersebut dibagi menjadi 2 yaitu kelas A Besar 48 dan B Besar 48 peserta.

“Melalui kegiatan ini, kami memiliki tujuan melestarikan dan mengembangkan budaya lokal sebagai potensi budaya, sekaligus sebagai ajang promosi wisata yang diharapkan dapat menambah daya tarik wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk berkunjung ke Kota Probolinggo, dan juga meningkatkan harga jual kambing di pasaran,” tutur Pramito.

Wakil Wali Kota Soufis Subri menyampaikan Pemerintah Kota Probolinggo telah mengagendakan kegiatan tahunan yakni Semipro, yang dimulai tanggal 31 Agustus – 7 September dengan berbagai kegiatan. “Selama seminggu ini diharapkan masyarakat Kota Probolinggo cukup berlibur di Kota Probolinggo. Bahkan, diharapkan warga luar kota datang ke Kota Probolinggo untuk menyaksikan gelaran Semipro,” kata Subri.

Subri juga menyampaikan karapan kambing merupakan kesenian budaya yang dipelihara dan dilestarikan, agar menjadi sebuah budaya lokal yang diakui baik regional bahkan nasional. ”harapan kami, karapan kambing dapat diakui sebagai kesenian asli Kota Probolinggo,” harapnya.

“Kita sudah mempunyai kesenian budaya lokal yang sudah diakui oleh Pemerintah Pusat yakni kesenian Jaran Bodhag dan Karapan Sapi Brujul. Dan itu memerlukan suatu perjuangan serta upaya yang luar biasa agar kesenian tersebut dapat diakui sebagai kesenian asli dari Kota Probolinggo,” sambungnya.

Sesuai arahan wali kota, Subri mengingatkan kepada seluruh penggemar karapan kambing di Kota Probolinggo agar tidak menjual kambingnya yang sudah juara ke luar kota. “ Saya ingatkan kepada seluruh penggemar karapan kambing agar tidak menjual kambingnya ke luar kota, kalau mau dijual ke orang Kota Probolinggo juga, agar bibitnya tetap berada di Kota Probolinggo,” ucap Subri.

Putri Pesawat asal Curahgrinting menjadi juara bertahan dalam merebutkan piala wali kota cup serta juara satu A Besar tahun ini, dengan mengalahkan peserta lainnya. Untuk juara kedua dimenangkan Mak Lampir asal Pohsangit Tengah, juara ketiga Sriti Muda asal Kareng Lor. Sedangkan untuk kelas B Besar juara satu diraih Bintang Merdeka asal Wonoasih, juara dua Tembak Sakti asal Kareng Lor dan juara tiga diraih Tammeng asal Triwung Lor. (soni/humas)

Wakil Wali Kota Soufis Subri memberikan hadiah kepada pemenang lomba karapan kambing. (Foto:Welly/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)