BJBR Pecahkan Tiga Rekor MURI

image_pdfimage_print

Bee Jay Bakau Resort (BJBR) Kota Probolinggo meraih 3 penghargaan dari Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI), Senin (28/8) lalu.  Tiga penghargaan itu diantaranya patung kuda “Cipta Wilaha” terbesar, piramida terbesar dari rangkaian botol bekas dan jembatan terpanjang di atas laut untuk bersepeda.

Manajer Tim Muri Yusuf Ngatdri menjelaskan, pada awalnya ia selalu mencari sesuatu  yang ada di Probolinggo. Selama ini di Probolinggo identik dengan Gunung Bromo dan buah mangga. Kini, ternyata ada wahana ekowisata bakau yang unik, di dalamnya ada patung kuda terbesar terbuat dari kayu yang berukuran sangat tinggi, piramida botol yang menghabiskan 11 ribu botol bekas sebagai simbolisasi pemanfaatan barang bekas. 

“Juga ada sesuatu yang menarik lagi, jembatan kayu terpanjang di atas pantai. Kami punya catatan, sejauh ini patung kuda terbesar terbuat dari kayu yang ada di BJBR Kota Probolinggo masih tertinggi,” tambahnya.

Penyampaian penghargaan tersebut dihadiri Wali Kota Rukmini, Asisten Administrasi Umum Rey Suwigtyo, Kabag Humas dan Protokol Prijo Djatmiko, Kabag Umum Sugito Prasetyo. 

Owner BJBR Benjamin Mangintung mengatakan, “Saya hanya ingin berkarya, tidak memikirkan penghargaan. Saya memikirkan bagaimana bisa menjadi manfaat  bagi warga Kota Probolinggo khususnya dan bagi Indonesia kalau bisa,” ujarnya.

  Ia menceritakan, awalnya ia membangun cycling track setelah melihat potensi hutan bakau di tepi kota. Bahkan di tengah kota tidak termanfaatkan dan menjadi tempat pembuangan sampah oleh warga. “Bagaimana masyarakat bisa datang dengan kondisi kotor dan banyak tumpukan sampah. Maka harus dibersihkan  dan harus dibuat sarana agar bisa berjalan untuk menikmati hutan bakau. Ia juga mengatakan saya ingin memberikan hiburan kepada warga Kota Probolinggo,” ujar pengusaha ini. 

Benjamin pun berpesan kepada seluruh warga Kota Probolinggo untuk leh mencintai kotanya. ”Cintailah kotamu, banggalah dengan kotamu. Kita ini tidak punya apa-apa tapi kita ini ada apa-apanya dan ada suatu yang bisa dibanggakan,” ungkapnya.

Tidak hanya disitu acara penerimaan penghargaan rekor muri dilanjutkan tasyakuran dan penyerahan bantuan kepada anak yatim, di sore hari. (noviati/humas)

 

Tourism site Bee Jay Bakau Resort (BJBR) achieved 3 awards from Indonesia Record Museum (MURI), Monday (28/8). Three awards include the biggest horse-statue “Cipta Wilaha”, biggest pyramid made of plastic bottles, and the longest cycling-track over the sea. 

MURI team manager, Yusuf Ngatdri explained that he always looks for something unique in Probolinggo city. He knows that Probolinggo is well known for Mount Bromo and mango fruits. Now, there is an eco-tourism site available. It has the biggest horse-statue made of wood and it’s very tall, pyramid that needed 11 thousands of bottles in its making-process.

“And there is another uniqueness, it has the longest bridge over the sea. Based on our record. The horse statue is the tallest one so far,” he added.

The event was attended by Mayor Rukmini, Assistant of General Affairs Administration Rey Suwigtyo, the head of Public Relation and Protocol Department Prijo Djatmiko, and General Affairs Department Sugito Prasetyo.

The owner of BJBR, Benjamin Mangintung said, “I just want to earn creative works, I don’t care about awards. I just think how this site can be useful for the citizens, or even for Indonesian people,” he said.

He told that at first he built a cycling track after he managed to see the potency of mangrove site at the side of the city. He thinks that the site of cycling track was abandoned and it became a ‘public landfill’. “How come the citizens would visit the site if it’s very dirty. Then I had an idea to maximize the potency of the site to change it into a cycling track. He also said that he’d like to give entertainment to the citizens,” he said.

Benjamin sends a message to the citizens to always love their city. “Love your city, be proud of it. It’s our job to develop our city and make it something to be proud of,” he said. The event was continued by holding tasyakuran as a form of grateful and giving aid to orphans.(translator:alfienhandiansyah)

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.