Salah satu sapi yang larinya sangat kencang menuju garis finish. (Foto:Rifki/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)
image_pdfimage_print

WONOASIH – Sebagai atraksi budaya khas Kota Probolinggo, Karapan Sapi Brujul terbilang eksis di tanah kelahirannya. Sampai saat ini, masyarakat Kota Probolinggo masih mempertunjukkan atraksi budaya itu, khususnya setelah musim panen usai.

Pemerintah Kota Probolinggo-pun mewadahi aktivitas ini melalui beberapa event yang diselenggarakannya, salah satunya Seminggu di Kota Probolinggo (Semipro). Pada gelaran Semipro ke XI tahun ini, Sapi Brujul kembali menjadi salah satu agenda favorit masyarakat, dan pemburu seni fotografi. Seperti yang terjadi pada Minggu (8/9), lomba karapan sapi brujul memasuki tahap final yang memperebutkan piala bergilir wali kota.

Karapan sapi brujul digelar di Lapangan yang khusus diperuntukkan untuk Sapi Brujul, di Kelurahan Jrebeng Kidul, Kecamatan Wonoasih. Wakil Wali Kota Probolinggo Mochammad Soufis Subri resmi menutup sekaligus memberikan hadiah kepada para pemenang. Pj Sekda Achmad Sudiyanto, Ketua Semipro ke 11 Gogol Sudjarwo, Camat Wonoasih Deus Nawandi, Kapolsek Wonoasih dan Danramil Wonoasih turut hadir pada kesempatan tersebut.

Kabid Destinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada Dinas Budaya dan Pariwisata Pramito Legowo berharap karapan sapi brujul menjadi salah satu potensi pariwisata yang terus dikembangkan. Sebanyak 50 peserta ikut karapan sapi brujul pada tahun ini, jumlah tersebut dibagi menjadi 2 yaitu kelas A dan kelas B.

“Melalui kegiatan ini, kami memiliki tujuan melestarikan dan mengembangkan budaya lokal sebagai potensi budaya, sekaligus sebagai ajang promosi wisata yang diharapkan dapat menambah daya tarik wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk berkunjung ke Kota Probolinggo. Dan juga meningkatkan harga jual sapi yang sudah juara,” tutur Pramito.

Wakil Wali Kota memberikan piala bergilir kepada pemenang. (Foto:Rifki/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)

Wakil Wali Kota Probolinggo Subri mengatakan, karapan sapi brujul merupakan sebuah kesenian budaya lokal asli Kota Probolinggo yang sudah diakui Pemerintah Pusat termasuk kesenian jaran bodhag. “Tentunya patut kita syukuri kita banggakan dan kita harus pelihara kesenian budaya lokal Kota Probolinggo yang sudah diakui secara regional dan nasional. Saya harap untuk seluruh masyarakat dan stakeholder terkait, dan pengurus kesenian untuk menjaga kesenian yang sudah menjadi predikat asli Kota Probolinggo ini,” kata Subri.

Subri juga menegaskan kepada seluruh penggemar karapan sapi brujul agar tidak menjual sapinya yang sudah mendapat juara ke luar kota.” Saya ingatkan kepada seluruh penggemar karapan sapi brujul agar tidak menjual sapinya ke luar kota, kalau mau dijual ke orang Kota Probolinggo juga, agar bibitnya tetap berada di Kota Probolinggo,” harap Subri

Pada tahun ini Dji Sam Soe asal Ketapang menjadi juara piala wali kota untuk kelas A. Juara kedua dimenangkan Densus 88 asal Ketapang, juara ketiga Pesawat asal Triwung Lor. Sedangkan untuk kelas B juara satu diraih Gajah Mada asal Pohsangit Leres, juara dua Macan Gila asal Triwung Kidul dan juara tiga diraih Brieng asal Ketapang.

Nur Soleh, pemilik sapi Dji Sam Soe mengaku sangat bersukur dan senang tahun ini bisa menjadi juara satu sekaligus meraih piala bergilir kejuaraan wali kota. “Alhamdulillah mas, sapi saya bisa juara dan bisa mengalahkan sapi yang diunggulkan menjadi juara. Sapi saya ini tidak diunggulkan untuk jadi juara dalam karapan tahun ini, tapi tidak menyangka bakal juara satu tahun ini,” tutur Nur Soleh dengan rasa bangganya.

Nur Soleh juga mengungkapkan, untuk menghasilkan sapi bagus dan larinya kencang tidak mudah. Perawatannya harus benar-benar dijaga. “Tapi berkat kerja keras, saya terus melatihnya hampir setiap hari, dan saya juga merawatnya dengan benar seperti memandikan setiap pagi. Selesai mandi, langsung dijemur serta memberikan jamu seperti telur yang dicampur dengan rempah rempah lainnya sehingga sapi saya bisa juara,” pungkas Nur Soleh. (soni/humas)

 

As one of the cultural attractions of Probolinggo city, a muddy cow race, locally known as Karapan Sapi Brujul fairly exists in the land of its birth. Until now, the people of Probolinggo City still show their incredible attraction to the race, especially after the harvest season is over.

Probolinggo municipal administration also accommodated this activity through several events the city held, one of which was on the annual event Semipro. At ninth Semipro this year, Karapan Sapi Brujul has again become one of the people’s favorite agendas, and photographers who’d like to take this special moment on a picture. The race has reached the final stage on Sunday (8/9) to fight for the mayor’s trophy.

Karapan Sapi Brujul is held at a field specifically designated for the race in Jrebeng Kidul urban village, Wonoasih Sub-District. Vice Mayor of Probolinggo Mochammad Soufis Subri officially closed the race and gave prizes to the winners. Acting Regional Secretary Achmad Sudiyanto, eleventh Semipro Chairperson Gogol Sudjarwo, Wonoasih Sub-district Head Deus Nawandi, Wonoasih Police Chief and Danramil Wonoasih were also present at the occasion.

Head of Tourism and Creative Economy Destinations division at the Office of Culture and Tourism, Pramito Legowo hopes that the race will be one of the tourism potentials to be developed. As many as 50 participants participated in the race this year, divided into 2 groups: class A and class B.

“By holding this activity, we have the goal of preserving and developing local culture as a cultural potential, as well as a tourism promotion event which is expected to increase the attractiveness of both local and foreign tourists to visit Probolinggo City. And also to increase the selling price of the winning cow,” said Pramito.

Probolinggo Vice Mayor Subri said karapan sapi brujul is an authentic local cultural art that has been recognized by the Central Government apart from jaran bodhag. “Of course we should be grateful for our pride and we must maintain the local cultural arts that have been recognized regionally and nationally. I hope for the entire community, related stakeholders, and the arts management to maintain the arts which have become the original culture of Probolinggo City,” Subri said.

Subri also emphasized to all fans of the race not to sell the winning cow out of town. “I’d like to remind you all not to sell your cows outside the city. If you want to, sell them to the people of Probolinggo City, so that it would still be the city’s pride,” hoped Subri.

This year, Dji Sam Soe from Ketapang urban village won the mayor’s trophy for class A. The second winner was won by Detachment 88 from Ketapang, the third winner from Triwung Lor. As for class B, Gajah Mada won first place from Pohsangit Leres, Mad Tiger Tigers from Triwung Kidul and Brieng from Ketapang won third place.

Nur Soleh, the owner of the Dji Sam Soe cow, admitted that he was very grateful and happy to become the first champion and get the mayor’s championship rotating trophy. “Alhamdulillah, my cow can win and can defeat the superiors to be champions. My cow was an underdog in this championship; I did not expect to be the champion of this year,” said Nur Soleh with pride.

Nur Soleh also revealed, to produce good cows with fast-running ability is not easy. Treatment must be strictly maintained. “But thanks to hard work, I continue to train him almost every day, and I also take care of him properly like bathing every morning. After bathing, it is directly dried and provides herbs such as eggs mixed with other spices so that my cow can win,” concluded Nur Soleh.