Tiga Proyek di Kota Probolinggo, Ini Catatannya

Wawali saat mengecek bahan-bahan untuk pembangunan revitalisasi Pasar Kronong. (Foto: Agus/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo
image_pdfimage_print

MAYANGAN – Tiga pengerjaan proyek milik Pemerintah Kota Probolinggo yakni revitalisasi Pasar Baru, Pasar Kronong Mayangan dan Alun-alun terus dipantau. Ini dilakukan untuk memastikan progres pekerjaan, kualitas pekerjaan dan sounding kapasitas kontraktor. Hasilnya, progres paling lambat adalah pekerjaan di Alun-alun yang diperkirakan minus 5 persen.

Jumat (13/9) pagi, Wawali Kota Probolinggo Mochammad Soufis Subri memantau tiga proyek tersebut bersama Asisten Pemerintahan Gogol Sudjarwo, Kepala Dinas PUPR Amin Fredy, Kepala DKUPP Gatot Wahyudi dan Kepala Bappeda Litbang Rey Suwigtyo.

Lokasi pertama yang dituju adalah proyek revitalisasi Pasar Baru (lanjutan) Dinas PUPR yang dikerjakan PT Trisna Karya dari Surabaya, dengan nilai pekerjaan Rp 10.500.029.469. Kondisi pasar baru sudah rata dengan tanah. Saluran air yang disebut terusan dari Kali Banger pun sudah terlihat dan akan dipasang box culvert. Alat berat berupa eksavator sudah ada di dalam pasar yang bentuknya berliku-liku itu.

Di lokasi proyek, Wawali Subri ditemui Pengawas PT Trisna Karya, Adi Fatorohman. Beberapa hal pun disampaikan oleh Subri terkait proyek yang sangat bertahun-tahun dinanti oleh masyarakat Kota Probolinggo. PT Trisna Karya punya waktu 105 hari sejak 2 September lalu untuk mulai pengerjaan berupa saluran pemasangan box culvert, titik pancang dan beberapa pekerjaan lainnya.

“Beliau (wawali) ingin proyek ini segera selesai dengan kualitas yang baik. Karena bagaimana pun juga proyek ini sudah ditunggu-tunggu masyarakat setelah bertahun-tahun. Beliau juga berharap sesuai kualitas dan kami sangat menghargai antusiasme beliau yang luar biasa,” kata Adi, kepada sejumlah media, sesaat setelah rombongan keluar dari proyek di Jalan Pahlawan.

Lokasi kedua di proyek milik DKUPP, yaitu revitalisasi Pasar Kronong di Mayangan yang juga sempat mandeg. Pasar ini dikerjakan CV Anugrah Purnawira selama 120 hari menggunakan DAU senilai Rp 704.798.074. Bedak-bedak permanen sudah mulai dikerjakan.

Di proyek ketiga, revitalisasi Alun-alun mendapat sorotan dari Kepala Dinas PUPR Amin Fredy. PT Faradis Mulia Makmur, yang mengerjakan revitalisasi dianggap kurang cepat karena masih berkutat pada pengangkatan paving yang ada di area dalam Alun-alun.

Dengan total anggaran Rp 4,8 M revitalisasi Alun-alun dikerjakan 120 hari. Nantinya, Alun-alun akan diurug setinggi 80 cm dan pemugaran pagar keliling yang semula tembok berubah jadi tanaman hidup. Alun-alun perlu ditinggikan karena selalu terjadi genangan air ketika hujan.

Monitoring yang dilakukan Pemerintah Kota Probolinggo pada proyek yang dikerjakan oleh pihak ketiga ini dilakukan secara rutin, sesuai arahan Wali Kota Hadi Zainal Abidin kepada Wawali Subri.

Wawali saat mengecek perlengkapan untuk pembangunan tiga proyek milik Pemerintah Kota Probolinggo. (Foto:Agus/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)

“Kami memantau sampai dimana progres pengerjaan dilakukan, kualitas material, kualitas pekerjaan dan sounding kapasitas kontraktor. Overall masih on the track tapi masih harus kami pantau lebih baik lagi karena semua proyek ini urgent dengan historisnya masing-masing,” kata Wawali Subri.

Kepala Dinas PUPR Amin Fredy menambahkan, progres dari masing-masing proyek bermacam-macam. Proyek dibawah Dinas PUPR, untuk Pasar Baru sudah jelas pengerjaannya plus 3 persen. Sedangkan di Alun-alun pengerjaannya minus 5 persen.

“Kami berikan arakan supaya ada percepatan dengan metode apa yang digunakan. Bisa menambah alat berat sampai lembur. Pasar baru plus di atas target tetapi tetap kami awasi karena pernyataan dari kontraktor ada long shift,” jelas Amin.

Dalam pemantauan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Probolinggo, kondisi eksisting dan progres akan dicocokkan. “Kami lakukan pemantauan agar pekerjaan sesuai tepat waktu dan kualitasnya tidak main-main,” imbuh Amin.

Sementara itu, Kepala DKUPP Gatot Wahyudi menjelaskan, revitalisasi Pasar Kronong Mayangan ada tambahan bangunan baru berupa kantor. “Progres kurang lebih 25 persen. Jumlah lapak disesuaikan dengan pedagang yang ada, bila perlu bisa lebih. Yang terdata ada 224 pedagang,” terangnya.

Proyek di Pasar Kronong pun ditempel bahwa pengerjaan tersebut dalam pengawasan Tim Pengawal dan Pengaman Pemerintah dan Pembangunan Daerah (TP4D). Wawali mengatakan, pola ini sudah dibuat sehingga sinergi antara Pemerintah Kota Probolinggo dengan APH (Aparat Penegak Hukum). “Ya pengawasannya sangat ketat, ada TP4D agar tidak terjadi hal-hal di kemudian hari,” ungkap Subri. (famydecta/humas)

Salah satu proyek milik Pemkot Probolinggo yang masih dalam pengerjaan. (Foto:Agus/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)