Renovasi Sumber Naga Dimulai

Penghancuran bagian bangunan klenteng oleh Wakil Wali Kota Mochammad Soufis Subri bersama beberapa tokoh sebagai tanda dimulainya renovasi Klenteng Tempat Ibadat Tri Dharma (TITD) Sumber Naga. (Foto:Rifki/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)
image_pdfimage_print

MAYANGAN – Renovasi Klenteng Tempat Ibadat Tri Dharma (TITD) Sumber Naga di Kota Probolinggo akhirnya dimulai setelah empat bulan peristiwa kebakaran yang melalap sejumlah ruangan. Secara resmi renovasi ditandai dengan penghancuran bagian bangunan klenteng oleh Wakil Wali Kota Mochammad Soufis Subri bersama beberapa tokoh, Selasa (17/9) siang.

Pembangunan kembali klenteng dilaksanakan oleh PT Karya Nusajaya Abadi yang dipimpin Matius Kosasih, yang ikut hadir dalam acara seremonial tersebut. Selain itu nampak Nur Fadilatus Safiyah, Kasub Unit Pengembangan dan Pemanfaatan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan.

Sesuai rencana pembangunan klenteng akan memakan waktu sekitar satu tahun. Bahkan untuk memaksimalkan pengerjaan renovasi, sudah dibentuk panitia yang mengawal pembangunan diketuai Budi Harsono.

“Kami memastikan tidak merubah bentuk bangunan, sesuai dengan yang lama. Untuk bahan disesuaikan dengan saat iniKami memohon doa restu agar pembangunan sesuai rencana dan dijauhkan dari halangan,” kata Ketua TITD Sumber Naga, Adi Sutanto Saputra.

Sementara itu, Wawali Subri menyampaikan ucapan terima kasih kepada etnis Tionghoa yang masih berkenan menyempatkan diri membantu kemeriahan Semipro 2019 lalu. Ia pun mengucapkan duka mendalam atas terbakarnya musibah di klenteng.

“Dan, alhamdulillah sudah empat bulan dan tidak berlarut-larut, klenteng yang berdiri sejak tahun 1865 ini dengan bahu membahu akhirnya dibangun kembali. Usahakan (bangunan) bisa kembali seperti semula karena setiap sudut klenteng ini ada ukuran dan nilai historisnya,” kata Subri yang punya basic arsitektur ini.

Wawali meminta ada maket desain renovasi klenteng yang dikirimkan ke pemkot untuk dibantu mengurus IMB (Izin Mendirikan Bangunan). “Agar punya legalitas sempurna, selain sertifikat juga IMB yang menjadi dokumen sah agar klenteng diakui secara historis dan secara legal juga,” ujarnya.

Wawali memberikan sambutan pada saat Renovasi Klenteng Tempat Ibadat Tri Dharma (TITD) Sumber Naga sebelum dimulai. (Foto:Rifki/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo) 

Menurut Kasub Unit Pengembangan dan Pemanfaatan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, Nur Fadilatus Safiyah, pihaknya sudah duduk bersama dengan Disbudpar Kota Probolinggo dan panitia pembangunan klenteng untuk melakukan penyusunan pada bangunan cagar budaya.

“Intinya tidak merubah bentuk bangunan dan beliau sepakat tidak akan merubah apapun termasuk ornamen. Karena lingkungan lebih rendah dari jalan akan ada peninggian sekitar satu meter namun ornamen dan bangunan seperti awal,” ucap Nur.

“Peninggian diperbolehkan karena kondisi saat ini jalan lebih tinggi, selama tidak merubah dari bentuk fasad (bentuk bangunan) tidak masalah,” sambungnya.

BPBC Trowulan ternyata menyimpan dokumentasi beberapa bentuk ornamen di klenteng Probolinggo ini. Dokumentasi itu diperlukan untuk dikonsultasikan dengan ahlinya. Sebab dinding klenteng yang sebelumnya dipenuhi lukisan harus dikembalikan seperti semula.

“Kami sudah memberikan data yang kami miliki dan beliau semua concern. Segala bentuk perkembangannya pun kami selalu dilibatkan. Untuk pembangunannya, proses ke depan mungkin akan melakukan peninjauan,” ucap Nur Fadilatus lagi.

Pengerjaan Harus Detail Sesuai Filosofi Bangunan
Matius Kosasih dari PT Karya Nusajaya Abadi mengatakan, pengerjaan awal yang akan dilakukan adalah pengukuran eksisting. Setiap dimensi diukur dahulu karena prinsip restorasi yaitu mengembalikan bentuk sesuai asal mulai dari bawah sampai ke atas.

“Barang yang putus mempunyai tingkat resiko berbahaya akan diturunkan bertahap. Yang bahaya kita turunkan. Lalu membuat kuda-kuda dan lengkungnya disesuaikan seperti awal. Setiap dimensi yang sudah siap, kami cek bersama-sama baru dibongkar. Prinsipnya ada kenaikan satu meter,” jelasnya.

Matius memperkirakan, secara main structure harus selesai dalam waktu satu tahun. Untuk final touch ia tidak menjamin akan selesai di tahun yang sama. “Kami harus mendapat referensi dari banyak sumber. Tulisan, lukisan yang rusak harus cari sumber yang cocok dan ini upredictable. Kalo struktur sangat cepat, tetapi ornamen lainnya harus terukur dan ada filosofinya,” terang pria berkacamata ini.

Tenaga kerja yang dilibatkan dalam renovasi klenteng ini tidak bisa secara frontal karena ada detail yang harus diperhatikan. Saat ditanya soal anggaran yang dibutuhkan, Matius mengaku masih menghitung antara material yang dibutuhkan dan budget. Ia juga akan melibatkan ahli feng shui dalam proses renovasi klenteng di Jalan WR Supratman Kota Probolinggo ini. (famydecta/humas)