Dishub Tingkatkan SDM Jukir dan Petugas Pengatur Lalin

Wakil Wali Kota Probolinggo memberikan kartu Identitas kepada peserta diklat. (Foto:Welly/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)
image_pdfimage_print

KADEMANGAN – Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Probolinggo berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) khususnya bagi petugas juru parkir (jukir) dan petugas pengatur lalu lintas. Diklat ini kerjasama Dishub setempat dengan Balai Diklat Transportasi Darat Mempawah Kalimantan Barat.

Peserta diklat antara lain pengatur lalu lintas diikuti 60 orang yang terbagi dalam dua angkatan terdiri atas petugas motoris dan wasdal Dishub 22 orang, Satpol PP 8 orang, pengatur lalu lintas di SD/SMP/SMA sebanyak 30 orang dan 120 jukir. Diklat ini terbagi enam angkatan yang dilaksanakan selama dua pekan. Mulai 24 September sampai 4 Oktober, di Balai Latihan Kerja Disnaker Jalan Brantas.

Kepala Dishub Kota Probolinggo Sumadi menjelaskan, melalui diklat ini diharapkan dapat memberikan pemahaman tentang peraturan, sistem dan penataan perparkiran dan pengaturan lalu lintas sehingga meningkatkan kemampuan dan kompetensi SDM dalam meningkatkan kinerjanya.

“Kami ingin meningkatkan sinergitas semua stakeholders bidang perhubungan khususnya yang terkait dengan lalu lintas, angkutan jalan dan perhubungan. Selain itu untuk menyamakan persepsi dan mengoptimalkan kinerja demi meningkatkan pelayanan kepada masyarakat,” beber Sumadi, saat pembukaan diklat, Selasa (24/9), yang dihadiri Wawali Mochammad Soufis Subri, Kepala Balai Diklat Transportasi Darat Mempawah Kalimantan Barat serta staf ahli wali kota.

Pemateri diklat dari Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur; Kasatlantas Polres Probolinggo Kota dan Dinas Kesehatan Kota Probolinggo.

Menurut Wawali Mochammad Soufis Subri, Kota Probolinggo sudah meraih WTN sebanyak 10 kali yang tentunya menjadi penghargaan luar biasa dan patut disyukuri dan dipelihara hingga implementasi berjalan dengan baik di masyarakat.

“Ini (penghargaan) juga hasil kerja sama stakeholder hingga terwujud tata kelola transportasi yang baik. Ini juga tidak luput dari peran jukir, pengatur lalu lintas dan motoris yang ikut menertibkan tata kelola transportasi dan perhubungan di Kota Probolinggo,” katanya.

Keterlibatan secara aktif itu tidak disadari oleh para jukir dan pengatur lalu lintas. “Panjenengan semua ini ujung tombak penghargaan ini. Panjenengan semua ikut membantu menyukseskan sampai 10 kali dapat penghargaan,” imbuh Subri.

Wawali pun menambahkan, selain sebagai ujung tombak ketertiban lalu lintas, mereka juga ujung tombak PAD serta penentu jendela atau wajah Kota Probolinggo. Sikap jukir disebut menggambarkan sebuah kota, jika jukir baik dan disiplin serta tertib maka warga melihat begitulah kondisi kotanya.

“Namun sebaliknya kalau jukir punya sikap tidak pas, tidak bisa senyum, ya Kota Probolinggo dianggap tidak bisa mesem orang-orangnya. Pesan saya, laksanakan tugas dengan profesional dan terima kasih telah membantu pemerintah,” ungkap Subri. (famydecta/humas)