Wali Kota Habib Hadi Kunjungi Warga Probolinggo yang Baru Pulang dari Wamena

Wali Kota Habib Hadi saat menyerahkan tali asih untuk membantu kebutuhan sehari-sehari kepada salah satu warga Kota Probolinggo yang baru pulang dari Wamena. (Foto: Rizal/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)
image_pdfimage_print

PROBOLINGGO – Raut wajah delapan warga Kota Probolinggo yang tiba dari Papua menunjukkan ekspresi beragam. Ada yang masih cemas, ada yang sedih, ada pula yang merasa lega bisa kembali ke tanah kelahirannya. Mereka semua kompak tidak ingin kembali ke Papua, tapi memilih menetap di Kota Probolinggo.

Kondisi di Wamena memang sedang tidak kondusif, maka mereka harus dipulangkan ke daerah masing-masing. Rabu (2/10) malam, delapan orang tersebut sudah tiba dijemput Dinas Sosial dari Bandara Abdurahman Saleh, Malang.

Kamis (3/10) pagi, Wali Kota Probolinggo Hadi Zainal Abidin langsung mengunjungi delapan orang tersebut. Kali pertama yang dikunjungi adalah Nur Faizin, warga Jalan Semeru, Kecamatan Kademangan. Pagi itu Nur sedang tidak enak badan. Ia demam.

Kepada Habib Hadi-sapaan akrab wali kota, Nur bercerita, ia harus pulang ke Kota Probolinggo karena kondisi di Wamena tidak memungkinkan untuknya dan warga bukan Papua. Lelaki berusia 52 tahun itu pulang dengan pesawat Hercules milik TNI AU bersama rombongan warga lainnya pada 30 September lalu dari Jayapura menuju Biak (bermalam satu malam).

Lalu pesawat berhenti di Ambon untuk mengisi BBM, sampai akhirnya tanggal 2 Oktober tiba di Bandara Abdurahman Saleh Malang disambut Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. Nur Faizin tinggal di Wisaput, Wamena sejak 1,5 tahun lalu. Kesehariannya bekerja sebagai tukang ojek dengan pendapatan sekitar Rp 200 ribu per hari.

Kini ia mengaku tidak akan kembali ke Papua. “Saya tetap disini saja, cari yang Rp 50 ribuan-lah, kembali nukang saja. Mau cari pendapatan yang besar tapi kayak begini,” tegas Nur Faizin, yang sebelum ke Papua ia sudah jadi tukang bangunan di Kota Probolinggo.

Habib Hadi lalu bertemu dengan M Lutfi, warga Kelurahan Jrebeng Kulon, Kecamatan Kedopok. Usia M Lutfi lebih muda, ia juga sudah empat tahun tinggal di Wamena sebagai tukang bangunan. Setiap bercerita, pria berambut gondrong ini matanya memerah dan berkaca-kaca.

Wali Kota Habib Hadi didampingi Camat Kanigaran mengunjungi salah satu warga Kota Probolinggo yang baru pulang dari Wamena. (Foto: Rizal/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)

Lutfi mengaku agak sedih karena ia merantau bertahun-tahun tapi belum bisa menunjukkan keberhasilannya kepada keluarga. “Yang penting selamat, rejeki bisa dicari,” ujar Habib Hadi menenangkan Lutfi.

Dari delapan warga yang dipulangkan, dua diantaranya satu keluarga. Seperti Abdullah bersama istri Supainah dan anaknya Hairul Wildan warga Jalan Cokroaminoto, Kanigaran. Abdullah dan istrinya Dewi, warga Jalan KH Hasan Genggong Gang Lele.

Sedangkan Abdullah Sihabudin, warga Kelurahan Sumbertaman, Kecamatan Wonoasih pulang sendirian. Istri dan kedua anaknya menggunakan pesawat komersil, yang diperkirakan sampai di Surabaya pada pukul 14.00 hari ini (3/10).

Pada kesempatan itu, Wali Kota Habib Hadi juga menyerahkan tali asih untuk membantu kebutuhan sehari-sehari sesampainya di Kota Probolinggo. Bantuan itu berupa beras 20 kg dan nutrisi tambahan seperti telur, susu, gula, teh, kopi dan mie instan.

Mon setiah kan la oneng, gik a belia poleh? (kalau sudah tahu begini apa masih mau kembali?),” tanya Habib Hadi ke Abdullah. Seketika pun pria yang punya toko di Papua ini menjawab,”Insyaallah pun enten (insyaallah tidak).”

Wali kota bersyukur delapan warga Kota Probolinggo yang terdampak konflik di Wamena sudah sampai di rumah masing-masing. Ia berkeliling untuk mengetahui kondisi langsung semua warga yang pulang tanpa membawa harta benda.

Alhamdulillah sudah sampai dengan selamat. Kami juga akan menugaskan tim medis dari puskesmas untuk memeriksa kesehatan mereka. Mereka harus tenang, tanpa tekanan psikis karena kondisi di Wamena membuat mereka trauma,” kata Habib Hadi.

Selanjutnya, yang menjadi tantangan Pemerintah Kota Probolinggo adalah bagaimana mereka bisa tetap mempunyai pendapatan dengan skill yang dimiliki. “Senyampang dengan program pemerintah kota menggerakkan 500 UMKM per tahun, kami akan lihat keluarga ini punya keahlian apa lalu kita fasilitasi untuk yang terbaik bagi warga Kota Probolinggo. Jadi mereka tidak perlu jauh-jauh cukup di Kota Probolinggon saja,” tegas wali kota. (famydecta/humas)

Suasana saat Wali Kota Probolinggo Hadi Zainal Abidin langsung mengunjungi warga Kota Probolinggo yang baru pulang dari Wamena. (Foto: Rizal/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)