Wali Kota Habib Hadi: Kami Buka Posko Pengaduan

Wali Kota Probolinggo Hadi Zainal Abidin. (Foto:Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)
image_pdfimage_print

PROBOLINGGO – Untuk mempermudah mendeteksi keberadaan warga Kota Probolinggo yang ada di Papua, khususnya Wamena, Wali Kota Hadi Zainal Abidin meminta kelurahan dan kecamatan membuka posko pengaduan per hari ini, Kamis (3/10). Posko tersebut diharapkan bisa mengetahui berapa banyak warga kota yang mengadu nasib daerah itu.

“Dengan membuka posko pengaduan, warga Kota Probolinggo bisa mengadu melalui RW dan RT lalu dilaporkan ke camat. Sehingga camat bisa ada data berapa warga di kecamatan itu yang berangkat ke Papua,” kata Wali Kota Habib Hadi.

Bekerja di berbagai wilayah baik itu di dalam maupun luar negeri memang menjadi hak setiap orang. Berbeda dengan menjadi TKI, warga yang bekerja di dalam negeri memang tidak perlu melapor ke pemerintahan setempat melalui dinas terkait.

Namun, kondisi di Wamena, Papua diberlakukan kebijakan yang berbeda. Sebab, disana masih ada antrean warga yang akan dipulangkan ke daerah asalnya masing-masing, termasuk di Kota Probolinggo.

“Oleh karena itu, masih belum adanya data kami minta pada camat lurah untuk buka posko pengaduan by name by address. Sekaligus ada nomer telponnya jadi kami monitor terus day by day,” imbuh Habib Hadi.

Orang nomor satu di Kota Probolinggo ini pun mengimbau warga di Papua agar berlindung di tempat yang aman, tempat TNI dan Polri. “Proses pemulangan memang memerlukan waktu dan kami berharap konflik disana segera reda,” harap wali kota.

Camat Wonoasih Deus Nawandi pun mengaku siap melaksanakan apa yang menjadi perintah Wali Kota Habib Hadi untuk mendirikan posko. “Kami akan memasang banner di kelurahan dan kecamatan, agar masyarakat mudah melaporkan kepada kami. Tentunya kami melibatkan RW dan RT,” katanya.

Hal senada pun disampaikan Camat Kademangan Pujo Agung Satrio dan Camat Kanigaran Pudi Adji Tjahjo Wahono ketika mendampingi wali kota menemui warga. Data sementara, dari Kecamatan Kedopok ada 30 warga yang berada di Wamena. Beberapa diantaranya sudah pulang ke Kota Probolinggo.

Kekhawatiran pun menyelimuti Wiwik, warga Cokrominoto, yang suaminya masih dalam antrean kepulangan dari Jayapura. Ia masih bisa berkomunikasi dengan suaminya yang bekerja sebagai tukang ojek, yang kini ada di penampungan. “Saya berharap bisa segera pulang dengan selamat sampai disini dan bisa berkumpul lagi,” ujar istri dari Suparlin ini. (famydecta/humas)