Bertambah Lagi, Warga Kota yang Kembali Dari Wamena

Wali Kota Habbib yang didampingi kepala Dinas Sosial dan Camat Kademangan saat mengunjungi rumah warga Kelurahan Pilang, Kota Probolinggo yang baru pulang dari Papua. (Foto: Rifki/Humas dan Protokol Kota Probolinggo)
image_pdfimage_print

PROBOLINGGO – Pemulangan warga dari Wamena terus berlangsung. Enam warga sudah tiba di Kota Probolinggo, Rabu (9/10) malam. Wali Kota Hadi Zainal Abidin pun istiqomah mengunjungi semua warga yang baru saja pulang dari daerah tersebut, Kamis (10/10). Kepada wali kota, beberapa diantaranya mengaku tidak ingin kembali, tetapi masih ada yang berencana akan ke Wamena setelah situasi membaik.

Berdasarkan data posko di masing-masing kecamatan (per 10 Oktober) siang, Kecamatan Wonoasih ada 121 warga (20 diantaranya sudah pulang); Kecamatan Kanigaran ada 27 orang (11 orang sudah pulang); Kecamatan Kedopok ada 26 orang (5 orang sudah pulang); Kecamatan Mayangan ada 13 orang tersebar di berbagai daerah di Papua (1 orang sudah pulang).

Kecamatan Kademangan ada sekitar 22 warga (3 orang sudah pulang). Data dari posko tersebut masih terus mengalami pergerakan sesuai laporan warga dan gelombang kepulangan baik secara pribadi atau bantuan pemerintah.

Warga pertama yang dikunjungi Habib Hadi-sapaan akrab wali kota- adalah pasutri Samsul Arifin dan Siti Nur Fadilah, warga Jalan Soekarno Hatta, Kelurahan Pilang, Kecamatan Kademangan. Habib Hadi didampingi Kepala Dinsos Zainullah dan Camat Kademangan Pujo Agung Satrio.

Pasutri ini sudah ber-KTP Wamena, Papua. “Memang harus KTP sana (Wamena) sebagai persyaratan karena kalau tidak begitu tidak dapat meja jualan di pasar,” kata Siti Nur Fadilah. Sehari-hari Siti memang berjualan sayur dan bumbu di pasar, sedangkan suaminya sebagai sopir.

Samsul sudah berada di Wamena sejak 2006 lalu, namun ia pulang dan kembali Wamena sekitar dua bulan lalu. “Baru kembali dua bulan lalu dan ramai seperti itu, akhirnya kembali lagi kesini (Probolinggo),” imbuh Samsul.

Saat dicek oleh tenaga medis dari puskesmas terdekat yang sengaja dibawa oleh wali kota, Siti diketahui tengah hamil dua bulan. Seketika itu juga, wali kota meminta Siti diperiksa secara intensif di puskesmas.

Kemudian Habib Hadi beranjak ke rumah Khusnan, di Jalan Musi, Kelurahan Jrebeng Kulon, Kecamatan Kedopok. Khusnan baru satu bulan berada di Wamena untuk menjadi guru drum band di salah satu sekolah atas rekomendasi relasinya. Rencananya, ia satu tahun berada disana. “Saya tidak akan mengizinkan berangkat lagi,” kata Rizky Romadhoni, istri Khusnan.

“Biar sudah usaha disini sedikit-sedikit tidak apa-apa ya, yang penting tenang dan dekat keluarga. Alhamdulillah sehat semua yang pulang ke Probolinggo ini,” tutur wali kota.

Siti Mastumah, warga Jalan Belimbing, Kelurahan Sumber Wetan, Kecamatan Kedopok pulang sendirian. Suaminya masih bertahan di Wamena, dengan alasan kebutuhan anak-anaknya yang masih mondok dan masih kecil sangat banyak. Maka ia akan terus bekerja (punya toko) di Wamena.

“Kalau saya masih trauma dan maunya pulang pokoknya. Tidak bisa tenang saya disana karena sangat mengerikan,” ujar perempuan yang sudah di Wamena sejak tahun 2000 ini dan berpenghasilan Rp 1 juta per harinya ini.

Wali Kota Habbib Hadi saat mengunjungi rumah warga Kelurahan Kedungasem, Kota Probolinggo yang baru pulang dari Papua. (Foto: Rifki/Humas dan Protokol Kota Probolinggo)

Sementara itu, warga Jalan Klengkeng, Kecamatan Wonoasih, Homisun yang baru 8 bulan kembali ke Wamena (sejak 2007 bekerja disana),mengaku bersyukur bisa sampai di Probolinggo dengan selamat. Menggunakan pesawat Hercules, Homisun dan warga lainnya sempat berada di penampungan Biak selama lima hari. Kemudian menuju Makassar dan turun di bandara Abdurahman Saleh Malang.

Homisun pernah menderita malaria saat di Wamena pada tahun 2008 lalu. Habib Hadi pun meminta tim kesehatan memperhatikan kondisi kesehatan Homisun selama berada di Probolinggo.

Tidak berhenti disitu, Habib Hadi juga mendatangi Rudi Hartono warga Jalan KH Genggong, Kelurahan Kedungasem yang tinggal di Wamena sejak 2008 lalu bersama keluarganya. Selama di Wamena ia menjadi pedagang pasar. Saat ditanya apakah masih mau kembali, tegas Rudi menjawab,”Masih lihat situasi dulu, Bib. Kalau sudah aman ya tidak apa-apa.”

Kunjungan wali kota ini berakhir di rumah Rohman Sabari dan M.Angga, warga KH Genggong gang Kemangi, Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Kanigaran. Rohman yang baru 8 bulan di Wamena bekerja di sebuah hotel, sedangkan Angga berdagang.

“Mereka ini warga yang sudah datang. Saya melihat, memberi bantuan dan mengecek kesehatan bersama tim medis. Jika ada warga yang butuh penanganan khusus akan kami tindaklanjuti. Seperti tadi ada yang hamil butuh pemeriksaan untuk mengecek tumbuh kembang bayinya supaya tidak ada hal yang tidak diinginkan,” ujar wali kota.

Terkait data di posko kecamatan yang mencapai 200 lebih warga yang ada di Wamena, Papua, wali kota mengaku akan selalu meng-update data sesuai laporan warga melalui RT/RW, lurah dan camat setempat.

“Kami akan terus memonitor dengan kerja sama Dinas Sosial setempat karena didata hanya menyebutkan Probolinggo, tanpa kota dan kabupaten. Saya mengimbau agar masyarakat memberkan masukan supaya ada kepastian datanya,” kata Habib Hadi. (famydecta/humas)

Wali Kota Habbib Hadi saat mengunjungi rumah warga Kelurahan Sumber Wetan, Kota Probolinggo yang baru pulang dari Papua. (Foto: Rifki/Humas dan Protokol Kota Probolinggo)