Cerita Pilu saat Wali Kota Hadi Kunjungi Warga yang Pulang dari Wamena

Duduk di atas kasur spon sambil bersandar, Wali Kota Hadi Zainal Abidin saat berbincang dengan Rohman dan Rania. (Foto:Rifki/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)
image_pdfimage_print

KANIGARAN – Air muka wajahnya berubah seketika. Dari ceria menjadi keheranan. Ia getun. Ia hanya bisa melihat sekeliling rumah yang luasnya sekitar 1,5 meter kali 4 meter. Rumah itu memang sudah berdinding tembok, terdiri dari ruang tamu sekaligus ruang tidur dan dapur yang campur dengan kamar mandi. Hanya kelambu lusuh yang jadi pembatas antara ruangan-ruangan tersebut.

Duduk di atas kasur spon sambil bersandar, Wali Kota Hadi Zainal Abidin benar-benar merasakan rasa kecewanya. Ia kecewa karena tidak tahu ada salah satu warganya yang mengalami nasib seperti demikian. Di dinding belakang sandaran wali kota tertulis nama-nama dalam bingkaian gambar hati. Nama itu tertulis Rania, Sabar, Yasin dan Bisri.

Di rumah itu tinggal Rohman Sabari, 26 tahun; Yasin, 18 tahun dan Rania 15 tahun. Mereka yatim piatu. Rohman Sabari lah yang menjadi tulang punggung keluarga setelah ibunya meninggal saat Rania masih kelas 3 SD. Kini Rania duduk di kelas 8 MTs swasta di Kota Probolinggo.

Saat Rohman merantau ke Wamena, Papua, Yasin dan Rania hanya tinggal berdua. Yasin bekerja serabutan sebagai tukang bangunan. “Tolong jangan sampai ada warga yang seperti ini. Untung ini ada rentetan kunjungan warga dari Wamena, kalau tidak, saya tidak tahu ada warga yang seperti ini,” tegas Wali Kota Habib Hadi sesaat setelah berbincang dengan Rohman dan Rania.

Ia merasa iba dan bertanggungjawab atas apa yang dialami warganya. Habib Hadi pun menawari Rania untuk masuk ke pondok pesantren miliknya. Ia mempersilahkan Rania berkunjung ke Ponpes Riyadlus Sholihin untuk melihat-lihat tempatnya.

“Sekolah saja di pondok sampai lulus SMK. Kalau kerasan di tempat saya, enak. Semua akan saya tanggung tidak perlu biaya apapun. Kalau tidak kerasan ya itu terserah anaknya.,” ajak Habib Hadi kepada Rania.

“Mereka ini sebatang kara. Gimana kok diam saja,” sambung wali kota yang kemudian memanggil camat, lurah, RW dan RT untuk masuk ke rumah kecil itu. “Memang kita ini ada aturan yang mengikat tetapi setidaknya kita harus melakukan yang terbaik,” imbuhnya.

Menurut warga sekitar, rumah yang masuk RT 5 RW 6 itu memang milik keluarga Rohman Sabari. Sejak dulu mereka sekeluarga tinggal di rumah tersebut. Rohman memang tidak memiliki ijazah karena ia hanya lulusan SD. Ia lebih sibuk mencari uang untuk menghidup kedua adiknya.

“Insyaallah akan kami carikan kerja sesuai dengan kemampuannya. Kalau sudah begini pemerintah harus turun tangan. Semoga perusahaan yang akan saya komunikasikan tidak menutup mata,” imbuh Habib Hadi.

Rohman pun mengaku tidak menyangka akan dibantu oleh wali kota. Ia pun mengaku setuju saja jika adiknya bersekolah di pondok milik orang nomor satu di Kota Probolinggo itu. “Semoga nanti adik saya mau setelah melihat pondoknya, semoga kerasan,” kata pemuda yang bekerja di sebuah hotel di Wamena itu.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Zainullah meminta camat setempat untuk memberikan data agar mereka bisa segera mendapat bantuan sesuai kebutuhan Rohman dan adik-adiknya. (famydecta/humas)