Kerapan Sapi Brujul Meriahkan Harjaprov ke 74

Salah satu peserta karapan sapi brujul berusaha memperebutkan piala gubernur. (Foto:Welly/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)
image_pdfimage_print

WONOASIH. Wakil Wali Kota Probolinggo, Mochammad Soufis Subri membuka Kerapan Sapi Brujul, Sabtu, (19/10). Kerapan yang digelar di lapangan kerapan sapi brujul, Kelurahan Jrebeng Kidul itu merupakan salah satu agenda dalam memeriahkan peringatan hari jadi ke 74 Provinsi Jawa Timur tahun 2019. Sebanyak 50 pasang sapi mengikuti lomba yang memperebutkan piala Gubernur Jawa Timur ini. Tidak hanya berasal dari Kota Probolinggo, peserta lomba juga berasal dari Kabupaten Probolinggo.

Menurut Subri, Kerapan Sapi Brujul diinisiasi oleh Kepala Bakorwil V Jawa Timur di Jember untuk masuk dalam agenda HUT ke-74 Jawa Timur. Untuk itu, sebelum membuka kegiatan itu, Subri merasa perlu berterima kasih kepada Kepala Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) V Jawa Timur di Jember, R. Tjahjo Widodo yang juga hadir pada kesempatan itu.

“Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bakorwil, dalam hal ini Pak Tjahjo yang begitu semangat menginisiasi kegiatan Karapan Sapi Brujul ini. Sehingga, event terkait Harjaprov ke 74 Jawa Timur, saat ini bisa diadakan lomba sapi brujul di Kota Probolinggo. Kami juga berterima kasih kepada Ibu Gubernuryang telah berkenan menempatkan kegiatan hari jadi provinsi yang ke 74 terkait lomba sapi brujul di Kota Probolinggo,” ucap Subri.

Wawali saat melepas salah satu karapan sapi brujul. (Foto:Welly/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)

Subri juga mengucap syukur atas pengakuan Pemerintah Republik Indonesia kepada Kerapan Sapi Brujul sebagai warisan budaya tak benda. Menurut Subri, penetapan itu merupakan hal yang luar biasa, dan tidak mudah untuk diraih. Untuk itu, Subri berharap semua pihak mampu menjaga kelestarian Kerapan Sapi Brujul.

Subri juga meminta semua pihak bersatu, baik itu OPD (organisasi Pemerintah Daerah) maupun masyarakat untuk terus mendukung dan melestarikan Kerapan Sapi Brujul. Hal ini bertujuan untuk mengangkat citra Kerapan Sapi Brujul agar lebih dikenal di dunia internasional. Kerapan Sapi Brujul sendiri menurut Subri memiliki beberapa dimensi.

“Ada dimensi pariwisata, jelas. Ada dimensi ekonomi, pasti. Ada juga dimensi sosial. Karena tidak mudah kita berkumpul di sebuah tempat, panas-panasan. Bahkan semua merasa satu keluarga. Ini semua dalam rangka menunjukkan aksi terkait kemampuan sapi-sapi kita, yang sudah dirawat bertahun-tahun. Untuk itu, mari kita pelihara wisata ini, kita pelihara budaya ini, jangan sampai melenceng kepada hal-hal yang tidak sebagaimana mestinya,” pungkas Subri.

Tjahjo dalam kesempatan itu menegaskan bahwa penetapan Kerapan Sapi Brujul sebagai warisan budaya tak benda merupakan kesempatan bagi Pemerintah Kota Probolinggo untuk menjual budayanya itu kepada dunia. Tjahjo berharap setiap kali ada jadwal kapal pesiar yang bersandar di Pelabuhan Probolinggo, Kerapan Sapi Brujul agar ditawarkan kepada mereka. jika setiap ada kapal pesiar bersandar, dan Kerapan Sapi Brujul ini dilaksanakan, maka Kerapan Sapi Brujul akan semakin dikenal luas oleh dunia.

Dalam kesempatan itu, juga diperkenalkan udeng (ikat kepala) khas Kota Probolinggo. Udeng Pendhalungan ini dibagikan kepada seluruh tamu undangan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Probolinggo. (Abdurhamzah/humas)

Wawali saat memberikan sambutan sebelum karapan sapi brujul dimulai. (Foto:Welly/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)