Kelurahan Kedungasem Juara Ke-4 Pelaksana Gotong Royong Tingkat Jatim

Wali Kota Habib Hadi saat menerima penghargaan pelaksana gotong royong tingkat jatim dari Gubernur Jawa Timur. (Foto:Agus/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)
image_pdfimage_print

SITUBONDO – Prestasi membanggakan ditorehkan salah satu kelurahan paling ujung di Kota Probolinggo, yakni Kelurahan Kedungasem, Kecamatan Wonoasih. Bagaimana tidak, kelurahan ini berhasil menjadi juara ke-4 Pelaksana Gotong Royong tingkat Jawa Timur untuk kategori kelurahan.

Secara langsung Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyerahkan penghargaan itu kepada Wali Kota Probolinggo Hadi Zainal Abidin, Sabtu (19/10) siang, pada acara Puncak Perayaan Peringatan Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat XVI dan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-47 Provinsi Jatim, di Kampung Kerapu, Kabupaten Situbondo.

Apa sebenarnya yang melatarbelakangi prestasi Kelurahan Kedungasem tersebut? Lurah Kedungasem Nurhadi, yang ditemui disela kegiatan di Kampung Kerapu menceritakan, memang ada beberapa indikator yang dinilai oleh tim juri terkait bagaimana kelurahan menggiatkan kegiatan bottom up.

“Ide itu dari masyarakat, lalu kita gali dan terbentuk kegotongroyongan di RW 1 sampai RW 8 Kelurahan Kedungasem,” ujar Nurhadi. Kini ada beberapa ikon di kelurahan tersebut, antara lain ikon kampung protol, kampung partisipatif yang idenya berasal dari masyarakat yang kemudian disupport oleh kelurahan dan kecamatan.

Menurut Nurhadi, yang menjadi tantangan dalam mewujudkan kegotongroyongan di masyarakat adalah bagaimana merubah mindset masyarakat secara bertahap. Karena masyarakat tidak tahu dan tidak mengerti harus berbuat apa di lingkungannya.

“Misalnya kami membuat instalasi pengolahan air limbah. Masyarakat jangan menerima manfaatnya saja tapi diajak bergerak dan bergabung. Mereka berpartisipasi dari contoh kecil memberikan makanan dan minuman secara bergilir. Ini juga bentuk kegotongroyongan. Jika kita dahului nanti masyarakat akan sungkan dan ikut bergabung,” cerita pria yang menjadi Lurah Kedungasem selama 1 tahun 2 bulan ini.

Beberapa waktu sebelumnya, kelurahan bersama kecamatan berencana membuat mini tubbing di Sungai Bungor RW 11. Awalnya hanya 5 orang saja, tetapi yang datang sampai 150 orang termasuk melibatkan tiga pilar (Babinsa dan Babinkamtibmas).

Bagi Lurah Nurhadi, penghargaan ini hanya sebuah pemicu dan stimulan, karena ending yang dituju bukan itu saja. “Tapi masyarakat kami bangga bahwa Kelurahan Kedungasem yang tidak pernah muncul, akhirnya bisa muncul dan merubah mindset. Kami berharap seluruh masyarakat tidak menunggu program pemerintah saja,” ujar peraih kampung partisipatif se-Kecamatan Wonoasih ini.

Selain Kelurahan Kedungasem, kelurahan lain yang menjadi juara adalah Kelurahan Sentul, Kecamatan Kepanjen Kidul, Kota Blitar; Kelurahan Nambangan Kidul, Kecamatan Mangunharjo, Kota Madiun; Kelurahan Mojo, Kecamatan Gubeng, Kota Surabaya.

Wali Kota Probolinggo Hadi Zainal Abidin mengaku sangat bangga dengan prestasi yang diraih Kelurahan Kedungasem. Ia berharap, tidak hanya Kedungasem, semua masyarakat di Kota Probolinggo harus mempunyai rasa kegotongroyongan yang tinggi.

“Kota Probolinggo punya banyak kampung tematik, yang merepresentasikan keunggulan berdasarkan potensi yang ada di daerah masing-masing. Terbentuknya kampung tematik tak lepas dari peran serta masyarakat bersama pemerintah. Alhamdulillah sesuai dengan visi misi kami, yaitu membangun bersama rakyat,” tegas Habib Hadi-sapaan akrab wali kota.

Orang nomor satu di Kota Probolinggo ini pun akan memotivasi semua kelurahan dan kecamatan agar terus dapat mewadahi ide kreatif dari masyarakat senyampang masih sejalan dengan program pemerintah. “Tidak cukup Kedungasem saja, semua kelurahan harus punya prestasi,” imbuh Habib Hadi. (famydecta/humas)