Rukmini: Jangan Jual Lahan Produktif pada Pengembang

image_pdfimage_print

 

Wali Kota Rukmini menggelar rapat koordinasi dengan Dewan Ketahanan Pangan Kota Probolingo, Rabu (27/9), di Gedung Shaba Bina Praja. Rapat ini merupakan yang pertama kalinya digelar sejak Dewan Ketahanan Pangan setempat resmi dibentuk. 

Dewan Ketahanan Pangan dibentuk sebagai upaya untuk menjaga kestabilan ketersediaan, distribusi dan konsumsi pangan khususnya di wilayah Kota Probolinggo. Untuk mewujudkan hal tersebut, forum ini menjadi salah satu upaya menjaga stok pangan tetap terkendali.

Sesuai dengan data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, jumlah konsumsi beras masyarakat Kota Probolinggo pada tahun 2017 adalah 20.671 ton. Sedangkan produksi beras pada tahun lalu hanya mencapai 8.000 ton. Hal ini menjadi perhatian serius Wali Kota Rukmini mengingat kekurangan persediaan beras mencapai kurang lebih 12.000 ton.

“Saya minta agar lahan produktif jangan dijual ke developer (pengembang). Setiap lahan produktif harus ada SK-nya sehingga tidak mudah diperjualbelikan. Masyarakat harus tahu tentang hal ini. Oleh karenanya, camat dan Badan Penanaman Modal dan Perijinan Terpadu Satu Pintu (BPMPTSP) harus masuk dalam kepengurusan Dewan Ketahanan Pangan ini,” tegas Rukmini.

Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan setempat, Budi Krisyanto menyatakan meskipun produksi beras di Kota Probolinggo masih kurang, hal tersebut bisa diantisipasi dengan melimpahnya produksi ikan yang ada. Menurutnya, ikan bisa menjadi alternatif sebagai makanan pengganti beras.

“Saya berharap agar tugas Dewan Ketahanan Pangan dapat lebih dikonkritkan lagi dengan membuat kebijakan yang dapat mendorong masyarakat agar tidak terlalu bergantung pada beras dan bisa mengonsumsi makanan alternatif seperti singkong maupun ikan,” tutur Budi Kris.

Rukmini menyambut baik saran dari Budi Kris mengenai makanan alternatif pengganti beras. Ia juga meminta agar Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan dapat kembali mencanangkan program One Day No Rice (satu hari tanpa nasi) yang dulu sempat dilaksanakan di Kota Probolinggo.

“Kita bisa mencanangkan lagi program One Day No Rice yang digelar seminggu sekali. Hal ini bertujuan untuk mewujudkan penganekaragaman makanan sehingga masyarakat tidak bergantung pada nasi. Imbauan Gubernur Jatim juga harus diperhatikan agar masyarakat dapat lebih menghemat beras,” tutur Rukmini. 

Perwakilan dari Bulog Sub Divre Probolinggo menyatakan bahwa meskipun produksi beras masih belum memenuhi permintaan konsumsi masyarakat Kota Probolinggo, hal tersebut tidak perlu dikhawatirkan mengingat Kota Probolinggo merupakan pengendali alur beras.

“Seperti di Jakarta, lahan produktifnya sangat terbatas. Namun karena Jakarta merupakan pengendali alur beras, permintaan akan beras masih bisa terpenuhi. Hal ini sama dengan Kota Probolinggo yang juga merupakan pengendali alur beras,” tuturnya. (alfien/humas)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.