Lagi, Ribuan Turis Australia Serbu Kota Probolinggo

 

“It’s lovely.. It’s clean and colourful (Ini menyenangkan.. Bersih dan berwarna),” begitu kesan Cloe, warga Australia, saat ditanya pendapatnya tentang Kota Probolinggo. “We want to see what’s going on in this city, and I think (Kota Probolinggo) so nice (Kami ingin melihat seperti apa kota ini, dan saya rasa (Kota Probolinggo) bagus),” sambung perempuan yang berlibur bersama tiga belas keluarganya itu. 

Cloe hanyalah satu diantara ribuan wisatawan asing penumpang kapal pesiar Princess Cruises “Come Back New” yang ikut “nyerbu” Kota Probolinggo, Kamis (28/9) pagi. Di Jalanan protokol dan sejumlah lokasi wisata dapat dijumpai turis yang tengah menikmati Kota Mangga ini. 

Kapal Princess Cruises berkapasitas 2272 penumpang. Kapal ini berangkat dari Australia pada 20 September lalu. Tujuan akhir mereka ke Lombok sebelum akhirnya kembali ke Australia 4 Oktober mendatang. 

Dari jumlah kapasitas penumpang, 1500 diantaranya berkunjung ke Kota Probolinggo. Sedangkan 80 orang memilih ke Gunung Bromo. Namun tidak semua mengambil paket tour, hanya sekitar 100 orang saja yang ikut tour guide lokal Kota Probolinggo. 

Di Kota Probolinggo, sasaran kunjungan mereka adalah Pelabuhan, Klenteng, Alun-alun, Gereja Merah, Museum Probolinggo dan Traditional Market (Pasar Baru). Yang mengesankan, ada salah seorang turis yang menangis setelah memasuki Gereja Merah yang terletak di Jalan Suroyo. Ia terkesan dengan bangunan dan sejarah gereja yang dibangun oleh Belanda tersebut. 

Di Museum Probolinggo, mereka disuguhi dengan penampilan seni budaya tradisional Kota Probolinggo. Dinas Budaya Pariwisata (Disbudpar) setempat menggandeng sanggar lokal untuk menghibur para turis agar lebih mengenal salah satu budaya di Indonesia. Ada tampilan Jaran Bodhag, Musik Patrol dan Reog. 

Princess Cruises bukanlah kapal pesiar pertama yang bersandar dan menjadikan Kota Probolinggo sebagai salah satu destinasi wisata. Untuk itu, Disbudpar kota setempat terus berupaya agar wisatawan kapal pesiar tetap memilih Kota Probolinggo dalam tujuan mereka berwisata. 

Bagaimana strategi Disbudpar untuk mempertahankan kunjungan wisatawan asing ini? “Kami harus bisa mengembangkan paket wisata dalam mempromosikan wisata di Kota Probolinggo. Sebenarnya, kami ada wisata sapi brujul, tetapi peminatnya masih belum banyak. Tentunya ini (pengembangan wisata) tidak bisa ujug-ujug tapi butuh proses, dan inilah yang sedang kami lakukan,” jawab Kabid Promosi Wisata Disbudpar, Suciati Ningsih, Kamis siang (28/9). 

Membentuk destinasi wisata baru, kata Suci – panggilan akrabnya, bukan menjadi hal mudah karena harus menciptakan hal baru yang diimbangi dengan komitmen semua pihak. Adanya wisata yang menarik akan memudahkan promosi ke pihak luar.

Menurutnya, selain wisata alam, para turis ini sangat tertarik dengan ilmu pengetahuan umum seperti Museum dan Gereja Merah. “Alhamdulillah, setiap kunjungan wisata dari kapal pesiar di tahun 2017 ini meningkat di setiap kunjungan. Sekarang saja sudah 100 paket, belum turis yang independen (jalan-jalan sendiri di kota),” tegasnya. 

Kehadiran para turis ini selain menguntungkan agen travel, sektor ekonomi riil pun ikut bergerak meningkat. Misalnya, becak pariwisata, UKM penjual barang hasil daur ulang, departemen store lokal hingga toko-toko pakaian di sekitar Jalan Panglima Sudirman. Tidak sedikit turis yang membelanjakan uangnya di Kota Probolinggo.

“Kota Probolinggo bagus, bersih dan saya rasa hiburan keseniannya juga sangat menarik,” cetus Sisca, WNI yang bekerja di Sidney, yang menghabiskan liburan kerjanya bersama Princess Cruises ini. Sebelum bersandar ke Kota Probolinggo, mereka baru saja berkunjung ke Semarang. (famydecta/humas)