Kemudahan Berinvestasi di Kota Probolinggo “The Ease to Invest in Probolinggo City”

image_pdfimage_print

               Kota Probolinggo, kota yang layak menjadi tempat berinvestasi. Berbagai upaya pun terus dilakukan Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan (BPMPP) setempat untuk menarik investor masuk. Upaya tersebut antara lain selalu ikut mengisi pameran baik di tingkat regional, nasional atau internasional.

               Probolinggo is a potential city to be a place to invest. Various efforts have been implemented by local Investment and Licensing Agency (BPMPP) to attract the investors to join in. among those efforts are participating a regional, national or international exhibition.

               Wali Kota Probolinggo Rukmini pun kerap menerima kehadiran atau menggelar pertemuan dengan investor yang ingin tahu lebih banyak tentang kota mangga ini. “Beberapa waktu lalu, kami dari Jakarta untuk membicarakan investasi. Ya masih melakukan promosi-promosi tentang kemudahan berinvestasi di Kota Probolinggo,” jelas Kepala BPMPP Soemantri.

               Probolinggo Mayor Rukmini often held a meeting with investors who are curious about the city. “Several days ago, we just came back from Jakarta to discuss about investment. It was still on the stage of promoting the ease to invest in Probolinggo city,” said the head for BPMPP Soemantri.

               Sejalan dengan visi misi kota ini, yaitu “terwujudnya  kesejahteraan masyarakat kota probolinggo melalui percepatan penanggulangan kemiskinan dan penganggguran berbasis investasi produktif dan berkesinambungan”, BPMPP berkomitmen terus berusaha mengembangkan apa yang bisa dikembangkan oleh investor disini.

               As the vision of the city states “the realization of Probolinggo societies’ welfare by accelerating poverty alleviation and reducing unemployment which is based on productive and sustainable investment”, BPMPP has a commitment to keep developing what can be developed by investors in the city.

               Dalam setahun, BPMPP bisa mengikuti hingga empat kali pameran yang digelar oleh pemerintah provinsi atau event organizer yang ada kaitannya dengan investasi di berbagai daerah. Pameran tersebut bisa mengenalkan Kota Probolinggo sebagai kota investasi. Dengan UMKM yang ada, BPMPP berharap bisa memberdayakan UMKM dan mengundang investor masuk.

               In a year, BPMPP can participate in four exhibitions held by provincial government or event organizer related to investment in any regions. Those exhibitions are a media to introduce Probolinggo as a city of investment. By having the existing SMEs, BPMPP hope to be able empower them as an attractive point for the investors.

               Soemantri membeberkan, lima kecamatan di Kota Probolinggo sudah memiliki pemetaan zona khusus. Di sebelah barat, Kecamatan Kademangan terkonsentrasi pada pergudangan, pertokoan, hotel dan perumahan. Di Kecamatan Mayangan terdapat pertokoan, hotel hingga indekos. Sedangkan zona industri berada di kawasan Jl Brantas, zona perdagangan di Kecamatan Mayangan. (selengkapnya lihat tabel)

               Soemantri explained that every district in the city has a special zone mapping. In the western area, Kademangan district is focused on warehouse, shops, hotels, and settlements. Mayangan district focused on shops, hotels, and boarding houses. Meanwhile, industrial zone is concentrated on Jl. Brantas, and trade is in Mayangan district.

               Mengikuti gelaran pameran, jelas memberikan dampak positif bagi kota ini. Pasalnya, masyarakat luar (termasuk investor) yang sebelumnya tidak kenal akhirnya bisa mengenal Kota Probolinggo. Dalam waktu dekat, BPMPP bakal ikut pameran investasi di Grand City Surabaya dan Solo.

               Participating in exhibitions has definitely given a positive impact to the city because the outsiders (including investors) who were unfamiliar to Probolinggo city have known the city. In the near future, BPMPP will participate in a investment exhibition at Grand City Surabaya and Solo.

“Pameran ini sangat bermanfaat. Memang, promosi daerah tidak bisa dilakukan selama satu atau dua kali. Harus terus menerus,” imbuh Kasubid Data di Bidang Data Monitoring dan Evaluasi BPMPP Sunjoto. Ia menambahkan, pelabuhan Tanjung Tembaga Baru pun menjadi daya jual yang luar biasa jika sudah didukung infrastruktur memadai.

“The exhibition means a lot. It is true that regional promotion cannot be done in a single shot. It should be continued,” added the head for Data subdivision of Monitoring and Evaluation Data Sunjoto.

Sementara itu, selain pameran dan melobi investor, dibawah kendali Bappeda (Badan Perencanaan Daerah) diadakan gelar potensi daerah. Gelar potensi daerah tahun 2014 ini sudah dilaksanakan bersamaan dengan rangkaian kegiatan Semipro (seminggu di Kota Probolinggo) beberapa waktu lalu. BPMPP pun aktif ikut meramaikan Gadis Pentermas gelaran Dinas Kominfo setempat yang dilaksanakan sebulan sekali.

Meanwhile, besides exhibition and to lobby the investor, under the control of Regional Development Planning Agency (Bappeda), the city also holds a regional potency event. In 2014, it was implemented in Semipro 2014. BPMPP was also participated the event of local Communication and Information Technology Agency ‘Gadis Pentermas’ which is implemented once a month.

Yang menjadi salah satu kendala penanaman investasi di Kota Probolinggo adalah keterbatasan lahan. Penanaman investasi pun harus sesuai dengan rencana tata ruang wilayah (RTRW). Kini, Bappeda tengah melakukan identifikasi untuk bahan review RTRW. “Dari banyaknya perkembangan yang muncul, kami akan melakukan kajian. Yang jelas ditekankan adalah Kota Probolinggo sebagai kota jasa harus bisa menangkap investasi,” ungkap Kepala Bappeda Imanto.

One of the obstacles of investment in the city is the limited lands. Investment should be based on urban spatial planning (RTRW). At the moment, Bappeda is doing an identification to have review material of RTRW. “Of the emerged development, we will analyze them. Obviously, what aspect needs to be focused on is that Probolinggo as a city of service should attract investment,” said the head for Bappeda Imanto.

Sama halnya dengan BPMPP, Imanto membenarkan jika keberadaan pelabuhan jelas sangat mengkatrol investasi di masa mendatang. Pelabuhan tentu menjadi daya tarik bagi orang-orang yang ingin berinvestasi disana.

Nothing different to BPMPP, Imanto confirms that the existence of the harbor has affected the future investment. The harbor surely has attracted people who’d like to invest there.

“Bagi mereka yang jeli, pelabuhan memberikan angin segar bagi investor. Investor yang mau datang itu sangat banyak. Sudah ada beberapa investor yang melakukan komunikasi. Tahun ini pelabuhan sudah beroperasi untuk kedalaman tertentu,” ujar mantan Kepala Dinas PU ini.

“For those who caught this opportunity, the harbor could give benefits to investors. There are many investors coming. Some of them have communicated with us. This year, the harbor operates in a certain priorities,” said the former head for local Public Works Agency.

Imanto menegaskan, ada beberapa hal yang menjadi poin penting kenapa Kota Probolinggo layak menjadi tempat berinvestasi. Yaitu Kota Probolinggo punya banyak pelabuhan (Pelabuhan Tanjung Tembaga dan Pelabuhan Perikanan Pantai) untuk penunjang industri.

Imanto insists that there are several important reasons why Probolinggo is a proper city to be the place to invest. The city has many harbors (Pelabuhan Tanjung Tembaga and Pelabuhan Perikanan Pantai) as the industrial supports.

“Kota ini terletak di transisi ideal, lokasi daerah yang dapat dijangkau dari beberapa daerah seperti Pasuruan, Malang, Lumajang hingga Situbondo. Kota Probolinggo berada di hinterland (daerah yang terletak di pesisir pantai, pelabuhan). Poin kedua, Kota Probolinggo nyaman untuk berinvestasi karena kotanya yang kondusif,” tuturnya.

“The city lies on an ideal transition, an accessible location whether from Pasuruan, Malang, Lumajang, even Situbondo. Probolinggo city is located in hinterland. The second point is that the city is a conducive city to make an investment,” he said.

Kemudian, perlintasan menuju wisata Gunung Bromo pun menjadi catatan penting untuk tempat transit wisatawan. Yang terakhir, Kota Probolinggo punya UMK (upah minimum karyawan) jauh di atas provinsi atau kota besar yang tentunya meringankan perusahaan.

Then, the access to Bromo Mountain is another important point that it can be the transit place for tourists. The last one, the minimum wage (UMK) of Probolinggo city is much smaller than provinces or big cities which surely give benefit to the companies.

“Dampak yang paling bisa dirasakan dengan adanya investasi perusahaan adalah penyerapan tenaga kerja sehingga dapat menanggulangi pengangguran. Selain itu, Kota Probolinggo juga menjadi titik pantau perkembangan ekonomi oleh Bank Indonesia,” kata Imanto. (fa)

“The most affecting impact by having investment is the employment that could reduce unemployment. Besides, the economic development of Probolinggo city has also been observed by Bank Indonesia,” said Imanto.

Leave a Reply

Your email address will not be published.