Ada Kisah Perjuangan Pemuda dan dr Saleh di Upacara Sumpah Pemuda

Penampilan teaterikal kisah perjuangan Pemuda Kota Probolinggo bersama Dokter Muhammad Saleh pada upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda dan Hari Jadi ke-74 Provinsi Jawa Timur. (Foto:Welly/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)
image_pdfimage_print

PROBOLINGGO – Perjuangan Pemuda Kota Probolinggo bersama Dokter Muhammad Saleh ditampilkan dalam teaterikal di upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda dan Hari Jadi ke-74 Provinsi Jawa Timur, Senin (28/10). Kisah ini menceritakan bahwa kaum muda di tanah ini juga berperan dalam secuil sejarah perjuangan bangsa.

Sekitar tahun 1947, di masa kolonial, tepatnya sebelum perang kolonial pertama di Kota Probolinggo. Keadaan kota sangat tidak nyaman. Perasaan was-was dan takut masih menyelimuti semua warga. Kondisi ini membuat seluruh remaja dan pemuda Kota Probolinggo bersatu membangun kekuatan untuk melawan demi menghentikan kesewenang-wenangan kolonial.

Salah satu tempat mereka berkumpul adalah kediaman dokter Muhammad Saleh. Alih-alih sedang merawat kawan-kawannya yang menjadi korban pertempuran, para pemuda dan remaja itu berkumpul mendiskusikan strategi pertempuran.

Hingga pada suatu hari, keberadaan perkumpulan kaum muda di rumah dr Saleh itu diketahui oleh pihak VOC. Tanpa diduga tiga orang pasukan Belanda mendatangi rumah dr Saleh untuk menangkap sang dokter, karena dianggap melindungi atau turut campur dalam pertempuran.

Namun, dr Saleh berhasil meyakinkan pihak VOC bahwa beliau hanya bertindak sebagai dokter yang merawat orang sakit atau mengalami cidera. Adegan penangkapan itu membuat kaum gerilyawan muda menjadi sangat marah dan mencari tahu siapa yang berkhianat dan tega melaporkan ke VOC.

Ternyata, teman baik dari anak bungsu dr Saleh yang menjadi pengkhianatnya. Ia mengaku berkhianat karena tergiur dengan apa yang dijanjikan oleh pihak VOC yaitu diberi emas. “Tetapi saya berterimakasih karena saya sudah diberi tempat selama di rumah dokter,” kata perempuan pengkhianat itu. Beberapa hari kemudian pengkhianat itu ditemukan mati tertembak.

Teaterikal garapan Muhammad Abduh ini, melibatkan pelajar SMAN 2, SMAN3 dan SMAN4 Kota Probolinggo. Pertunjukkan ini pun sudah berhasil menyabet sejumlah prestasi seperti sebagai 3 terbaik non ranking dalam fragmen kesejarahan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur tahun 2012; pertunjukan terbaik Motivasi Bela Negara Kodam V Brawijaya tahun 2013 dan terpilih sebagai pertunjukan peringatan Hari Pendidikan Jawa Timur tahun 2013 lalu.

Melalui pertunjukan ini, Muhammad Abduh ingin menyampaikan bahwa ada perjuangan di Kota Probolinggo meski tidak terkenal seperti daerah lain. “Aksi heroik kaum pemuda ini Kota Probolinggo ada, saking di buku sejarah tidak tertulis. Dan, memang sejak zaman kolonial dulu, Kota Probolinggo termasuk daerah penting yang orang tidak tahu,” cerita Abduh.

Ia mengatakan, dr Muhammad Saleh adalah dokter pribumi yang ditunjuk dan dipercaya oleh Belanda. Sebelum ditugaskan di Probolinggo, dr Saleh pernah ditugaskan Belanda di Kalimantan. “Kalau bukan orang hebat tidak mungkin dipercaya. dr Saleh juga salah satu pendiri Budi Utomo. Pesan yang ingin saya sampaikan melalui teaterikal ini adalah semangat membela negara harus dibawa oleh generasi muda,” pesan pemuda yang berdinas di Disbudpar setempat ini.

Wakil Wali Kota Soufis Subri saat menjadi inspektur pada upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda dan Hari Jadi ke-74 Provinsi Jawa Timur.  (Foto:Welly/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)

 Subri: Pemuda Harus Bisa Menaklukkan Dunia

Wakil Wali Kota Mochammad Soufis Subri menyatakan, kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi serta mudahnya akses terhadap sosial media telah menjelma menjadi tempat favorit berkumpulnya anak-anak muda lintas negara, lintas budaya, lintas agama, dan interaksi mereka di sosial media berjalan real time 24 jam.

“Disinilah diharapkan peran pemuda dapat bersaing dalam bentuk apapun tentunya dalam hal yang positif. Pemuda adalah masa depan bangsa dan negara, pemuda juga harapan bagi dunia, pemuda Indonesia harus maju dan berani menaklukkan dunia. Saya berharap kedepan akan banyak muncul tokoh-tokoh muda yang mendunia,” tegas wawali.

Kemajuan tidak akan pernah tercapai dalam arti yang sesungguhnya kalau masa depan itu hanya dipandang sekedar sebagai proses lanjut dari masa kini yang akan tiba dengan sendirinya. Tapi bagaimana generasi muda merespon kemajuan itu dengan kearifan menghargai keluhuran perjuangan dari generasi sebelumnya tanpa terjebak dalam kejayaan dan romantisme masa lalu, serta kenyataan-kenyataan masa kini sehingga membuat mereka tidak lagi sanggup keluar untuk menatap masa depan.

“Kalau pemuda generasi terdahulu mampu keluar dari jebakan sikap-sikap primordial suku, agama, ras dan kultur, menuju persatuan dan kesatuan bangsa maka tugas pemuda saat ini adalah harus sanggup membuka pandangan ke luar batas-batas tembok kekinian dunia, demi menyongsong masa depan dunia yang lebih baik” ujar Subri.

Dalam upacara yang juga memeringati Hari Jadi Provinsi Jawa Timur itu, Wawali Subri juga menyampaikan poin sambutan Gubernur Khofifah Indar Parawansa. Bahwa dalam perjalanan mengarungi ombak dinamika yang ada, kita semua senantiasa teguh bergerak bersama dan bekerja bersama menuju satu arah tujuan, yaitu mewujudkan Nawa Bhakti Satya untuk Jawa Timur yang maju dan sejahtera. Inilah yang mendasari dipilihnya tema HUT Jatim ke-74, yaitu “Semangat Nawa Bhakti Satya, untuk Jawa Timur Maju Sejahtera”.

Nawa Bhakti Satya adalah sebuah nafas yang senantiasa tercermin dalam setiap langkah dan pengabdian insan pemerintah serta masyarakat Jawa Timur. Kesembilan bhakti ini menggambarkan prinsip-prinsip yang kita hadirkan untuk mencapai kemajuan jawa timur yang mensejahterakan setiap insan di provinsi ini.

“Demikianlah poin-poin penting dari arahan Gubernur Jawa Timur. Semoga kita, Pemerintah Kota Probolinggo bisa ikut serta berpartisipasi dalam mewujudkan cita-cita Gubernur Jawa Timur dalam merealisasikan Nawa Bhakti Satya,” terang wawali mengakhiri amanat inspektur upacara, pagi itu. Setelah upacara, dilanjutkan tasyakuran pemotongan tumpeng dan tabur bunga di Taman Makan Pahlawan (TMP). (famydecta/humas)

Suasana saat berlangsungnya upacara, diamana para peserta upacara memakai pakaian adat nusantara. (Foto:Welly/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)