Yuk, Kunjungi Probolinggo Tempo Doeloe

Wali Kota Habib Hadi saat memukul gong sebagai tanda dibukanya Probolinggo Tempo Doeloe. (Foto:Rizal/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)
image_pdfimage_print

MAYANGAN – Probolinggo Tempo Doeloe (PTD) kembali digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Probolinggo, selama sepekan, mulai 9 November hingga 16 November mendatang. Selain menikmati seperti apa zaman lawas, masyarakat juga bisa mendapatkan kupon berhadiah umroh yang akan diundi pada penutupan PTD, 16 November.

Bertempat di Stadion Bayuangga Jalan Kaca Piring, masyarakat dimanjakan berbagai hiburan dan stand yang diisi OPD di lingkungan Pemerintah Kota Probolinggo, pelaku usaha pariwisata, perbankan dan UMKM.

PTD ketiga ini digeber kembali untuk mengembangkan dan melestarikan sejarah sebagai obyek pariwisata. “Sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat, ekonomi kreatif guna mendukung pengembangan pariwisata. Kami berupaya melestarikan budaya lokal tetap terjaga dan tidak punah,” terang Kepala Disbudpar Tutang Heru Aribowo.

Pembukaan PTD, Sabtu (9/11) berlangsung menarik. Ada dolanan tradisional yang ditampilkan pelajar SD seperti permainan cublek-cublek suweng, jamuran, sepur-sepuran. Stand-stand pun menyajikan suasana lawas yang begitu klasik dan menarik untuk jadi spot ber-swa foto.

Rebutan Gunungan Mangga pun jadi sasaran masyarakat yang hadir di Stadion Bayuangga. (Foto:Rizal/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo) 

Wali Kota Hadi Zainal Abidin menegaskan, ia mempertahankan PTD untuk dilaksanakan dan akan mengevaluasi apa saja yang kurang sehingga ke depan, harapan masyarakat menyempurnakan event di Kota Probolinggo dapat terwujud.

PTD, menurut Habib Hadi, mencoba mengingatkan kepada semua orang bagaimana masa kecil dan permainan yang dulu selalu dimainkan. “Kalau sekarang zamannya sudah berbeda. Banyak yang mencari jalan pintas yaitu gadget. Orangtua memberikan gadget sehingga anaknya tidak bisa berbaur. Permainan tradisional ini tidak membahayakan, main gadget lebih bahaya,” tegasnya.

Pengenalan pada permainan tradisional sangat penting. Zaman sekarang memang sudah maju tetapi orangtua harus membentengi anak dari tradisi yang sudah ada. PTD menggambarkan ketinggian masyarakat untuk mengembangkan dan melestarikan kesenian budaya lokal dan mengajak masyarakat bisa mengenangnya.

“Ini sebuah festival rakyat yang dikemas secara apik dan unik karena penjaga stand memakai baju tradisional ditambah suasana yang klasik,” ucap Habib Hadi yang berharap masyarakat kenal budaya lokalnya.

Wali Kota menekankan, PTD memberikan hal-hal tradisional dan mengenalkan ke kaum milenial bahwa permainan dulu sangat bagus dan mengedukasi. Ia pun siap menerima masukan masyarakat dan berharap pemerintah semakin mengembangkan event guna bisa memberikan informasi ke masyarakat tentang kesenian yang bisa dikenang dan dilestarikan.

PTD yang digelar bersamaan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW ini memberikan hadiah istimewa untuk masyarakat. Yaitu umroh dan banyak hadiah lainnya.

“Hadiah ini bentuk perhatian pemerintah untuk momen positif kali ini. Ayo warga Kota Probolinggo dan sekitarnya hadir disini mulai tanggal 9 sampai 16 November. Selain dapat kupon, masyarakat bisa menikmati sajian yang ada. Ayo kita dukung dengan menyukseskan Probolinggo Tempo Doeloe,” ajak Habib Hadi.

PTD resmi dibuka dengan ditandai pemukulan gong oleh Wali Kota Habib Hadi, Wawali Mochammad Soufis Subri didampingi Ketua DPRD Abdul Mujib serta perwakilan forkopimda. Rebutan Gunungan Mangga pun jadi sasaran masyarakat yang hadir di Stadion Bayuangga. (famydecta/humas)