TPID Kota Probolinggo Belajar ke TPID Mataram yang Jadi TPID Kota Terbaik

Suasana saat TPID Kota Probolinggo melakukan studi tiru untuk mempelajari kiat TPID Kota Mataram. (Foto:Agus/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)
image_pdfimage_print

MATARAM – Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Mataram telah menerima predikat sebagai TPID kota terbaik tahun 2019 di wilayah Indonesia Bagian Timur. Untuk itu, TPID Kota Probolinggo pun melakukan studi tiru untuk mempelajari kiat TPID di Kota Seribu Masjid ini.

Studi tiru dipimpin Wakil Wali Kota Probolinggo Mochammad Soufis Subri, diterima Asisten Administrasi Umum Pemkot Mataram, Baiq Evi Ganevia, di Ruang Kenari, Kantor Wali Kota Mataram, Kamis (14/11) siang. Di ruangan itu, tim TPID dua daerah ini bertemu untuk saling berdiskusi.

Sesuai rilis inflasi BPS Kota Probolinggo, pada bulan Oktober 2019, Kota Probolinggo mengalami inflasi month to month sebesar 0,12 persen terhadap Indeks Harga Konsumen (IHK) bulan sebelumnya sedangkan untuk year to year sebesar 1,39 persen dan untuk year on year di bulan Oktober th 2019 ini laju inflasi tercatat sebesar 2,48 persen. Sedangkan pertumbuhan ekonomi tahun 2018 mencapai 5,94 persen.

“IPM (Indeks Pembangunan Manusia) Kota Probolinggo Th 2018 di angka 72,53 sedang target th 2019 72,9. Setelah belajar dari sini, kami berharap inflasi Kota lebih terkendali dan pertumbuhan ekonomi bisa lebih tinggi lagi,” ujar Wawali Subri, saat memberikan sambutan perkenalan dalam kunjungan tersebut.

Wawali saat meberikan sambutan saat melakukan studi tiru ke Kota Mataram. (Foto/Agus/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)

Menurut Asisten Administrasi Umum Kota Mataram, Baiq Evi Ganevia, inflasi di Kota Mataram merupakan barometer inflasi di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan bobot 80 persen. Jadi, inflasi Kota Mataram menjadi cerminan inflasi di NTB
“Karakteristik inflasi lebih banyak dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan saat adanya kegiatan keagamaan, liburan sekolah dan liburan akhir tahun. Curah hujan tinggi pada bulan tertentu dan kenaikan harga pada komoditas memengaruhi kenaikan harga,” jelas Baiq Evi.

Diakui Asisten Administrasi Umum, bahwa pada tahun 2018 Kota Mataram dibayang-bayangi kenaikan harga dipicu gempa Lombok pada Agustus silam. Namun ternyata inflasi year on year relatif stabil pada level 13 persen dengan deviasi 1 persen.

“Berkat kerja keras Pemerintah Daerah, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait serta pihak yang tergabung dalam TPID seperti Bulog, satgas pangan, kami berhasil meraih predikat PPID kota terbaik tahun 2019 di wilayah Indonesia Bagian Timur. Ini memotivasi kami berupaya lebih baik dalam pengendalian inflasi,” tutur Baiq Evi.

Kepala BPS Kota Mataram, Isa mengungkapkan, dari hasil laporan tiap bulan mengenai inflasi memang terkendali dan semakin baik kondisinya di tahun 2019. Bahkan di tahun ini sudah lima kali mengalami deflasi. Di sisa dua bulan ini, Isa yakin inflasi akan terkendali sampai akhir tahun nanti. Inflasi Kota Mataram di bulan Oktober mencapai 1,40 persen.

“Proyeksi kami, dua bulan ke depan tidak terlalu bergejolak karena bulan November dan Desember harga mulai kembali normal. Inflasi sempat di 0,49 persen karena budaya di masyarakat Lombok khususnya perayaan Maulid yang masih dalam mengonsumsi makanan meningkat. Kami optimis harga dapat dikendalikan bahkan lebih rendah,” ucap Isa.

Hal senada disampaikan Agus, Kabid Ekonomi Sosial Budaya pada Bappeda Kota Mataram. Strategi 4 K dalam pengendalian inflasi, yaitu keterjangkauan; ketersediaan; kelancaran distribusi dan komitmen kebijakan berjalan seirama. Koordinasi pihaknya dengan TPID Provinsi NTB pun berjalan dengan baik terkait pengendalian inflasi.

Menurut Agus, bila ada harga komoditas yang melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) TPID segera mengambil langkah-langkah. Bahkan satgas pangan di Kota Mataram pernah menangkap distributor komoditas yang curang dan terbukti menimbun.

“Intinya adalah komitmen dan sinergitas. Distribusi pun kami jaga disamping memaksimalkan pusat informasi pangan. Dan, komitmen kepala daerah sangat positif. Jika ada lonjakan harga, Bapak Wali Kota koordinasi langsung tanpa perlu bertemu karena banyak sarana yang bisa dimanfaatkan lalu kami sidak pasar,” beber Agus, yang ikut menyambut kunjungan siang itu.

Sementara itu, Wawali Subri bersama TPID mempelajari bagaimana inflasi di Kota Mataram sampai bisa mendapatkan award. Karena secara pengendalian inflasi, antara Kota Probolinggo dan Kota Mataram cenderung punya karakteristik yang sama. Year to year, pengendalian inflasi kedua daerah ini pun sudah bagus dan terjaga.

“Ini yang kami gali dengan study tiru. Kami tidak semata membahas inflasi tetapi daya beli masyarakah malah turun, ini yang harus dijaga. Kami menggali dari sisi apa keberhasilan Kota Mataram ini. Karena TPID Kota Mataram punya kiat dan strategi lebih baik dan kami pelajari bersama-sama agar berdampak secara keseluruhan pada masyarakat,” ungkap Subri. (famydecta/humas)