Wawali Soufis Subri memberikan sambutan saat membuka pameran batik. (Foto:Welly/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)
image_pdfimage_print

KANIGARAN – Rangkaian festival batik 2019 “Eksotika Batik Kuno Probolinggo” gelaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Probolinggo diawali dengan pembukaan pameran batik oleh Ketua Dekranasda setempat Aminah Hadi Zainal Abidin, Minggu (17/11) pagi di depan kantor wali kota, Jalan Panglima Sudirman.

Kepala Disbudpar Tutang Heru Aribowo menjelaskan, pameran batik ini dilaksanakan untuk mengembangkan batik kuno sebagai potensi unggulan Kota Probolinggo. “Dengan tujuan mempromosikan ke masyarakat luar, melestarikan batik kuni sebagai warisan leluhur dan menumbuhkan rasa cinta pada karya seni,” ungkapnya.

Pameran yang membentang di depan kantor wali kota hingga kantor Dinas Satpol PP ini diikuti UMKM komunitas batik Kota Probolinggo (KIBRO) berjumlah 21 orang. Di setiap stand, pembatik memamerkan karya terbaiknya dengan harga bervariasi dan teknik pewarnaan batik yang beragam.

Wawali Mochammad Soufis Subri, dalam sambutannya menyatakan, festival batik sudah diadakan dari tahun ke tahun dengan berbagai macam format agar batik Kota Probolinggo terus berkembang. Batik, memiliki berbagai dimensi bukan hanya sekadar coretan di atas kain.

Ketua Dekranasda Aminah Hadi Zainal Abidin dan Wakil Ketua Dekranasda Diah Kristansi Subri meninjau stand pameran batik. (Foto:Welly/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo) 

“Ada dimensi kreativitas, budaya, pemberdayaan ekonomi dan entertain serta fashion. Kami berharap dengan berkembangnya batik menjadi salah satu ikon peningkatan ekonomi pelaku batik. Bukan hanya memajang batik tetapi dikemas memiliki unsur entertain dan fashion mengarah pada edukasi bahwa batik adalah peninggalan nenek moyang kita,” jelas Subri.

Berbicara batik, lanjut Subri, banyak akar pembatik di Kota Probolinggo. Tetapi, para pembatik harus terus banyak belajar agar batik kota ini memiliki daya saing dengan daerah yang lebih maju batiknya.

“Tidak boleh mau menimba ilmu. Tidak boleh egois menerima kehadiran desain batik di Kota Probolinggo. Tidak hanya mangga dan anggur tetapi pendalungan harus digali,” terang wawali.

Wawali Subri pun berharap, pelaku batik serasa berada di rumahnya sendiri dan berjaya di rumahnya sendiri. “Ada tiga yang mendasari sebuah kegiatan, yaitu regulasi, penegakkan regulasi dan motif ekonomi,” tutur pengusaha konstruksi ini.

Ya, seremonial pembukaan pameran batik ditandai dengan Ketua Dekranasda Aminah Hadi Zainal Abidin dan Wakil Ketua Dekranasda Diah Kristansi Subri melukis di selembar kain. Dilanjutkan pengguntingan pita oleh Aminah kemudian meninjau stand pameran batik. (famydecta/humas)

Pembukaan pameran batik ditandai dengan Ketua Dekranasda Aminah Hadi Zainal Abidin dan Wakil Ketua Dekranasda Diah Kristansi Subri memotong pita. (Foto:Welly/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)