Asisten Peremerintahan, Gogol Sudjarwo saat membuka seminar ekraf. (Foto: Rifki/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)
image_pdfimage_print

MAYANGAN – Sebagai upaya meningkatkan peran serta pelaku ekonomi kreatif dalam pembangunan dan menumbuhkan ekosistem ekonomi kreatif di daerah, Pemerintah Kota Probolinggo melalui Bappeda Litbang mengadakan seminar pengembangan ekonomi kreatif, Senin (18/11) di Bale Hinggil.

Seminar ini diharapkan dapat menambah wawasan dan memotivasi para pelaku ekonomi kreatif (ekraf) serta menemukan formula yang dapat diaplikasikan sebagai solusi untuk pengembangan ekraf di daerah. Hasil dari seminar ini dapat memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan, mencapai iklim bisnis yang positif dan memberikan dampak sosial yang positif.

“Ya tujuan kami untuk membangun kolaborasi dan sinergi dalam ekosistem ekraf yang sehat. Menciptakan pelaku ekraf yang berkualitas, membangun komitmen bersama dalam pengembangan ekraf. Dan, bisa menambah pelaku ekraf dan terjadi pertumbuhan ekonomi,” jelas Kabid Ekonomi, Pembangunan Manusia dan Sosial Budaya, Dwi Agustin Pudji Rahayu.

Seminar ini diikuti akademisi, kalangan bisnis, komunitas dan pelaku ekraf, OPD terkait dan media. Narasumber seminar tersebut Nurareni Widi Astuti dari Bappeda Provinsi Jawa Timur yang membahas tentang perkembangan ekonomi kreatif di Jawa Timur, peluang dan tantangan. Sedangkan narasumber kedua dari Bojonegoro Creative Network (BCN) Radhinal Romadhona.

Asisten Peremerintahan, Gogol Sudjarwo membuka seminar tersebut mewakili Wali Kota Probolinggo Hadi Zainal Abidin. Gogol menegaskan, Pemerintah Kota Probolinggo telah menyusun dokumen rencana aksi daerah pengembangan ekonomi kreatif. Akan tetapi, implementasinya masih mengalami kendala dalam pengembangan ekraf di daerah.

Suasana saat berlangsungnya seminar pengembangan ekonomi kreatif, Senin (18/11) di Bale Hinggil. (Foto: Rifki/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)

Diantaranya masih kurangnya kolaborasi dan sinergi antar akademisi, dunia usaha, komunitas, pemerintah, media dan belum adanya perguruan tinggi dengan program studi yang terkait ekraf. Ditambah lagi kurangnya komitmen bersama dalam pengembangan ekraf di Kota Probolinggo.

“Dari kegiatan ini kami berharap peran serta pelaku ekraf dalam pembangunan dan menumbuhkan ekosistem ekraf di Kota Probolinggo. Kami juga berharap instansi terkait juga dapat merencanakan program kegiatan intervensi dalam mendukung ekraf,” ungkap Gogol.

Membahas soal BCN, Bojonegoro Creative Network adalah perkumpulan lintas komunitas kreatif di Bojonegoro yang dibentuk pada 2017 lalu inisiasi dari Bekraf dan ICCN serta pemerintah daerah melalui Dinas Industri dan Ketenagakerjaan.

Setidaknya ada 25 komunias di BCN, yang merepresentasikan kolaborasi para aktor dalam konsep pethahelix. Di Bojonegoro terdapat miniatur konsep pentahelix dan punya creative corner cafe. BCN berfungsi untuk mengaktivasi simpul-simpul kreatif di Bojonegoro dengan cara menciptakan ruang-ruang berkreasi bagi komunitas. (famydecta/humas)