Ketua Bawaslu Kota Probolinggo memberikan fandel kepada wawali Soufis Subri. (Foto: RIfki/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)
image_pdfimage_print

 KANIGARAN – Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kota Probolinggo menggelar Heritage of Probolinggo Festival Budaya dan Kearifan Lokal, pada tanggal 17 hingga 18 November. Hari  pertama dibuka dengan festival kuliner sedangkan malam harinya, puncak acara Heritage of Probolinggo dengan menampilkan berbagai kesenian lokal.

Gelaran Heritage of Probolinggo yang dilaksanakan di Museum Kota Probolinggo ini, menampilkan Tari Remo dan Tari Sambarina. Tarian tersebut merupakan salah satu tarian yang berasal dari Madura.  Ada juga kesenian ludruk remaja (ludraj) yang menceritakan tentang Ande-ande lumur dari sanggar panji laras serta menghadirkan artis dari Jawa Timur.

“Mudah-mudahan pada pemilu yang akan datang, masyarakat lebih proaktif untuk ikut serta menjadi partisipan pengawas pemilu. Evaluasi dari pemilu sebelumnya pada tahun 2013 dan 2014 Kota Probolinggo masuk di zona merah. Alhamdulillah, pelaksanaan pemilu kemarin, dengan koordinasi dengan sesama penyelenggara baik dengan pemerintah, forkopimda, tokoh masyarakat dan masyarakat Kota Probolinggo, terwujud pemilu yang demokratis yang kualitas dan berintegritas sesuai dengan harapan kita semua,” ujar Ketua Bawaslu Kota Probolinggo, Azam Fikri.

Ketua Bawaslu Provinsi Jawa Timur, Totok Haryono menyampaikan kegiatan ini merupakan rasa syukur kepada pimpinan  partai politik, peserta pemilu, kepala daerah, forkopimda dan masyarakat. Yang sudah bahu membahu dalam pelaksanaan pemilu tahun 2018, sehingga pemilu 2018 dan pemilu 2019, di Probolinggo menjadi salah satu yang terbaik.

Acara hari ini tidak terlepas dari tagline “Awasi pemilu bersama Bawaslu  Tegakkan Keadilan Pemilu”. Yang artinya bahwa  rakyat adalah mitra strategis Bawaslu. “Saya berharap acara ini semakin meningkatkan  pengawasan, dan meningkatkan partisipasi masyarakat. Sehingga, pemilu kedepan akan menjadi lebih baik lagi.  Probolinggo akan menjadi salah satu  kota  yang terbaik dalam proses  penyelenggaraan pemilu,” ungkap Totok.

Sementara itu, Wakil Wali Kota, Muhammad Soufis Subri menyampaikan apresiasinya pada kegiatan festival budaya yang  diselenggarakan oleh Bawaslu Kota Probolinggo. Pemilu pada tahun 2013 Kota Probolinggo menjadi zona merah. “Alhamdulillah atas kerja keras  dari semua pihak  baik TNI, Polri, Bawaslu, KPU, Pemerintah Kota Probolinggo dan Masyarakat Kota Probolinggo serta para pimpinan politik Kota Probolinggo. Sehingga pilkada, pemilihan legislatif, pilgub dan pilpres semua bisa dilalui dengan baik,” ujarnya.

Berbicara soal heritage, Wawali Subri menegaskan banyak tempat- tempat di Kota Probolinggo memiliki peninggalan masa lalu. Salah satunya, Gereja Merah yang hanya ada dua di dunia yakni Indonesia dan Belanda.  Kemudian, museum kesehatan dan museum Probolinggo  di jalan Suroyo  sekarang isinya ada benda-benda pusaka dan batik-batik kuno.

Wawali juga menjelaskan, Bawaslu di Kota Probolinggo itu ada dan eksis, tidak hanya muncul pada saat pemilu dilaksanakan Heritage of Probolinggo menjadi ajang edukasi bagi seluruh masyarakat Kota Probolinggo. Banyak hal dan permasalahan yang muncul pada saat pemilu dan kita harus terus mengantisipasi. Kita harus terus bersinergi antara semua bukan hanya  tugas  dari Bawaslu dan KPU tetapi ini adalah tugas dari semua semua masyarakat Kota Probolinggo.

“Kegiatan ini sangat penting agar pemilu yang akan datang betul-betul bisa dihadapi dengan lebih baik. Saya berharap  ketua partai menjadi peranan yang strategis. Mari kita bersama- sama untuk  pelaksanaan pemilu yang akan datang  agar lebih baik lagi.  Semoga pemilu kedepan bisa baik, jujur dan adil,” ucap Subri.

Malam itu, ada pembagian fandel kepada Organisasi perangkat Daerah (OPD) yang telah bekerjasama dengan  Bawaslu Kota Probolinggo. Yakni Pemerintah Kota Probolinggo, Dandim 0820 Probolinggo, Kejaksaan Negeri Kota Probolinggo. Sekaligus penyerahan penghargaan bagi pemantau pemilu yang diberikan kepada Dishub Kota Probolinggo, STIA Bayuangga, Pengadilan Negeri, Lira dan Satpol PP Kota Probolinggo. (noviati/humas)