Sampai Oktober, Terjadi 55 Kasus KDRT 

image_pdfimage_print

 

Wali Kota Rukmini menyesalkan masih tingginya kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Kota Probolinggo. Sampai dengan bulan Oktober 2017, setidaknya ada 55 kasus yang dilaporkan ke pihak berwajib. Untuk itu, Wali Kota meminta petugas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di Kota Probolinggo lebih intens mengawasi kasus-kasus seperti ini. 

Permintaan tersebut disampaikan Wali Kota saat membuka Sosialisasi Indentifikasi Pencegahan dan Penanganan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kota Probolinggo, Jum’at (3/11), di Puri Manggala Bhakti, Kantor Wali Kota Probolinggo, Kecamatan Kanigaran. 

“Harus dicegah. Tahun depan tidak boleh lebih dari 55. Ini (kasus KDRT) harus ditekan. Jangan ada lagi kasus-kasus di Kepolisian ada orang tua yang menyiksa anaknya. Ada istri yang disiksa suaminya, atau mungkin istri yang terlalu semangat akhirnya juga melakukan kekerasan terhadap suaminya,” ujar Wali Kota yang disambut tawa peserta sosialisasi. 

Dalam kesempatan itu, Wali Kota mengucapkan terima kasih karena banyak pria yang ikut sosialisasi. “Terima kasih karena kegiatan ini tidak didominasi Ibu-ibu. Justru saya lihat banyak bapak-bapak yang datang. Tugas kita mensosialisasikan pencegahan KDRT. Jadi ini tugas bersama, bukan hanya wanita. Kita harus menghilangkan persepsi masyarakat yang menganggap wajar jika ada suami menyiksa istri. Ada orang tua yang menyiksa anaknya. Suami harus menghormati istri, begitu juga sebaliknya,” tambah Rukmini. 

Terkait dengan kekerasan terhadap anak, pihak yang paling berpotensi melakukan adalah orang-orang terdekat dari anak itu sendiri. Bisa orang tua, atau keluarga disekeliling anak. Teman sebaya juga berpotensi besar melakukan perundungan terhadap anak. 

Sementara itu, Kepala DP3AKB Kota Probolinggo, Sukam menjelaskan sosialisasi tersebut guna memberikan informasi kepada peserta tentang pentingnya pencegahan KDRT. Sosialisasi dilaksanakan selama 2 hari (3-4/11). Untuk hari pertama, peserta sosialisasi diisi oleh tokoh agama dan tokoh masyarakat, dan hari kedua diisi oleh Kepala Sekolah, Guru Bimbingan Konseling, dan Guru Kesiswaan. (abdurhamzah/humas)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.