Wawali Soufis Subri beserta istri dan sekda saat membuka pasar tradisional di Kampung Barongan. (Foto:Rizal/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)
image_pdfimage_print

WONOASIH – Kecamatan Wonoasih kembali menggali potensi wisata di daerahnya. Minggu (1/12) pagi, telah dibuka gelar pasar Barongan Grajakan di Kelurahan Wonoasih oleh Wakil Wali Kota Mochammad Soufis Subri. Tidak hanya pembukaan pasar, saat itu juga dilaksanakan penyerahan posyandu award Kecamatan Wonoasih 2019.

Blok Kongsi, demikian warga setempat menyebut lokasi pasar Barongan Grajakan itu. Lokasinya tepat berbatasan dengan wilayah Kabupaten Probolinggo. Menyusuri jalan permukiman nuansa pedesaan, barulah sampai di tempat yang banyak ditumbuhi pohon bambu. Maka benar saja lokasi itu disebut Barongan (atau Berungan, kata warga Probolinggo).

Bernuansa serba bambu pasar itu berada di tempat yang agak tinggi dari jalan aspal. Memasuki pasar ada gapura bambu, di sebelahnya terdapat petugas yang menyediakan koin untuk berbelanja di pasar. Setiap koin bambu dihargai Rp 2500. Selain keunikan koin sebagai transaksi di pasar, menu yang disajikan pun jajanan tradisional saja yang dibungkus daun pisang.

Seperti minuman pokak, pokak cincau dan sinom. Kudapannya ada jemblem, klepon cetot, mawut, nduk sunduk, ogal-agil, ketan sambel dan gethuk pleret. Jual beli di pasar itu terjadi hanya beberapa saat karena saking larisnya. Acara seremonial belum selesai pun sudah banyak warga yang beli.

“Tempat ini adalah sarana edukasi bagi masyarakat Kampung Grajakan untuk mengelola lingkungan dengan potensi yang sudah ada. Dari tempat inilah kami berharap bisa menjadi salah satu destinasi wisata yang menarik,” ujar Camat Wonoasih Deus Nawandi

Selain mengapresiasi kegiatan yang menghidupkan hal bersifat heritage ini, Wawali Subri yang hadir bersama sang istri, Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Kota Probolinggo Diah Kristanti Subri, juga menekankan ada potensi ikon dan kemandirian ekonomi masyarakat.

“Ini (heritage) harus dikenalkan ke anak-anak muda. Unik. Karena tidak semua anak bangsa tahu apa peninggalan nenek moyangnya Kegiatan seperti ini akan kita giatkan lagi, selain ikon ada potensi kemandirian ekonomi masyarakat Kota Probolinggo yang ada di daerah pinggir ini,” kata Wawali Subri sambil menunjukkan makanan tradisional yang dibawanya.

Ia pun berharap, Pasar Barongan bukan hanya hari ini saja. Karena ada keterkaitan dengan kemandirian ekonomi maka pasar harus berjalan terus menerus. “Pinggiran kota punya daya saing baik dari sisi wisata dan ekonomi karena ada keterlibatan masyarakatnya. Artinya, pemerintah dan masyarakat bersinergi, berjalan beriringan menjadikan Kota Probolinggo yang lebih baik,” tuturnya.

Wisata bambu akan dipantau oleh wawali dengan melibatkan kecamatan lainnya yang ada di Kota Probolinggo. Ia berjanji, pemerintah setempat akan mensupport kegiatan tradisional bisa berkembang. Wisata bambu merupakan salah satu alternatif bagi Kota Probolinggo karena memiliki potensi bambu yang cukup banyak.

“Wisata bambu dan campuran vegetasi alam yang ada disekitarnya akan kita tata. Agar alam sekitarnya tidak rusak dan dimanfaatkan dengan baik. Tempat ini adalah lokasi pertama, nanti kita siapkan di tempat lain, tunggu tanggal mainnya,” jelas Subri kepada sejumlah jurnalis, usai pembukaan pasar berlangsung.

Wawali saat membeli jajanan tradisional menggunakan uang bambu . (Foto:Rizal/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)

Beri Award untuk 6 Posyandu

Posyandu award diberikan kepada kader di Kecamatan Wonoasih. Award ini sekaligus mengkampanyekan kepada masyarakat tentang pelayanan kesehatan di posyandu, termasuk menyikapi isu stunting. “Kami bersinergi dengan Dinas Kesehatan, puskesmas dan elemen terkait untuk mendorong inovasi kader posyandu agar menarik animo masyarakat,” tegas Camat Wonoasih, Deus Nawandi.

Setelah melalui proses penilaian oleh para juri dengan standar penilaian berdasarkan input, proses, output dan inovasi. Juara pertama diberikan kepada posyandu Mawar Kelurahan Kedung Asem, juara kedua posyandu Kenanga Kelurahan Jrebeng Kidul dan juara ketiga posyandu Jeruk Kelurahan Pakistaji.

Sedangkan juara harapan 1 posyandu Anggur Kelurahan Kedunggaleng, disusul posyandu Asoka Kelurahan Sumber Taman dan posyandu Sedap Malam Kelurahan Wonoasih.

Yang paling menarik perhatian adalah saat salah seorang anak kader posyandu membacakan sebuah puisi. Puisi itu cukup membuat yang mendengarnya tercengang. Satu petikannya berbunyi “Ibuku seorang kader (posyandu), sering rapat walaupun bukan pejabat…” bait lainnya menyebut jika sang anak sering ditinggalkan karena tugas kader dan pulang kegiatan membawa nasi kotak.

Semua orang tertawa, termasuk para kader yang hadir di acara pagi itu. Kendati demikian, Wawali Subri memberikan ucapan terima kasih kepada para kader yang sudah bekerja dengan sepenuh hati. “Kader punya tugas meningkatkan animo masyarakat agar anak-anak dan ibu hamil bisa memeriksakan kesehatan di posyandu. Pengabdiannya begitu luar biasa,” tutur Subri.

Wakil Ketua TP PKK Diah Kristanti Subri pun tersentuh dengan bait puisi yang dibawakan anak laki-laki tersebut. Di dalam media sosialnya ia menulis,”Semoga menjadi catatan amal ibu-ibu kader yang surga adalah balasannya. Aamiin.” Penyerahan posyandu award diberikan oleh Diah Kristandi didampingi Ketua TP PKK Kecamatan Wonoasih. (famydecta/humas)