Lelang Kain Batik di Festival Batik

image_pdfimage_print

MAYANGAN – Suasana pelataran Museum Probolinggo yang terletak di Jalan Suroyo, Kota Probolinggo, Kamis (16/11) nampak berbeda. Berbagai kegiatan digelar memeriahkan Festival Batik 2017 yang digeber Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar). Diantaranya workshop membatik kontemporer oleh siswa SMKN 3, membatik klasik menggunakan canting oleh siswa SMKN 1, pameran UKM batik hingga fashion show.
Istimewanya, festival batik yang kali pertama diadakan di Kota Probolinggo ini menghadirkan Miss Cosmopolitan 2017 Sherylta Prastycha. Bersama model dari Colour Model Malang asuhan Agung Sudir Putra, Sheryltha berlenggak-lenggok di atas catwalk sambil memamerkan kain batik karya 21 pembatik asal Kota Probolinggo yang tergabung dalam KIBRO KOTA (Kelompok IKM Batik Probolinggo Kota).  
Ada misi besar yang dibawa Disbudpar dalam festival batik ini, selain untuk meningkatkan promosi wisata juga untuk meningkatkan nilai lebih batik Kota Probolinggo. “Sekaligus membangun kreatifitas pembatik dan membuka jaringan pemasaran bagi batik Kota Probolinggo,” terang Kepala Disbudpar Agus Efendi, saat menyampaikan laporannya.
Dalam kesempatan itu, Wali Kota Rukmini juga menegaskan, pihaknya mengarahkan UKM batik yang tergabung dalam KIBRO Kota untuk terus berinovasi dalam mengembangkan batik. Termasuk mengembangkan replika 38 motif batik kuno yang berhasil didapatkan Rukmini saat berkunjung ke Belanda. Motif-motif batik tersebut dibawa ke Belanda sejak tahun 1963 silam.
“UKM batik harus mampu berkolaborasi dalam meningkatkan kualitas dan nilai tambah, caranya bekerjasama dengan desainer, toko baju, percetakan kaos untuk membuat syal, tas, topi, souvenir atau merchandise lainnya,” tegas wali kota.
Pemerintah Kota Probolinggo, lanjut Rukmini, kini sedang membahas tentang pembuatan sentra khusus batik dan berupaya mengenalkan potensi batik Kota Probolinggo. “Terima kasih peran serta para pembatik di Kota Probolinggo, semoga festival ini menjadi wadah bagi para pembatik dalam berkreasi,” serunya.
Siang itu, di puncak festival, Wali Kota Rukmini melelang puluhan kain batik karya-karya terbaik para pembatik dengan harga bervariatif. Batik termahal seharga Rp 5 juta milik Nico Sawiji berhasil dimiliki notaris Ernowo. “Batik ini akan saya berikan kepada istri saya sebagai kado pernikahan perak kami,” kata Ernowo kepada wali kota.
Bukan Ernowo saja, sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) pun ikut andil dalam lelang kain batik. Diantaranya Sekretaris DPRD, Kepala Disnaker, Kepala Disbudpar, Kepala BPPKAD, Kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip, Kepala Dinas Pertanian, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, Direktur PT KTI, dan pimpinan Bank Jatim.
Festival batik ini pun diapresiasi para pembatik. Pasalnya, melalui kegiatan tersebut para pembatik bisa menunjukkan kreatifitas dan karya-karyanya. “Kami juga berterimakasih pada Pemerintah Kota Probolinggo, kepada wali kota yang sudah menggagas festival batik semacam ini. Terus terang kami merasa dihargai dan dibantu. Perhatian wali kota terhadap batik tidak pernah berhenti,” tutur Agus Hariyanto, mantan Ketua KIBRO Kota. (famy decta/humas)

Leave a Reply

Your email address will not be published.