TP PKK Kota Probolinggo saat studi tiru ke TP PKK Kabupaten Banyuwangi guna memperbanyak hal terkait PKK. (Foto:Rifki/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)
image_pdfimage_print

BANYUWANGI–Sejak dilantik sekitar 10 bulan lalu, kepengurusan tim Penggerak PKK Kota Probolinggo terus berupaya membuat sejumlah gebrakan baru. Maklum saja, pengurus di organisasi kesejahteraan keluarga yang diketuai Aminah Hadi Zainal Abidin ini banyak diisi personel baru yang lebih fresh dan punya semangat tinggi.
Untuk belajar banyak hal terkait program PKK, TP PKK Kota Probolinggo bertolak ke TP PKK Kabupaten Banyuwangi, Kamis (5/12). Rombongan ini dipimpin Wakil Ketua I Diah Kristanti Subri. Rombongan terdiri dari perwakilan pokja 1 sampai 4 dan pengurus di sekretariat PKK.

Kunjungan di Panti PKK yang berada satu kompleks dengan Pendapa Kabupaten Banyuwangi itu diterima Wakil Ketua I TP PKK Kabupaten Banyuwangi Minuk Eliawati Yusuf Widyatmoko; Sekretaris Laili Dwi Damayanti serta pengurus pokja sekaligus sekretariat PKK.

Dalam sambutannya, Diah Kristanti Subri menyampaikan niatannya datang ke Banyuwangi bersama sejumlah pengurus. “Selain bersilaturahmi, kami ingin berilmu, berguru ke Tim Penggerak PKK Kabupaten Banyuwangi. Karena PKK ini tidak ada sekolahnya. Cuma butuh keikhlasan, ketulusan, kegigihan menjalankan 10 program PKK yang tidak lain khususnya untuk kesejahteraan keluarga,” katanya.

Istri Wakil Wali Kota Probolinggo Mochammad Soufis Subri ini menambahkan, sepulang dari Banyuwangi ia berharap sekretariat dan pokja bisa mengaplikasikan apa yang diperoleh dari hasil studi tiru.
“Kami ingin tahu bagaimana administrasi dan program agar insyaallah kami bisa langsung landing sesampai di Kota Probolinggo,” imbuh mantan pegawai perbankan ini.

Alasan Pilih Banyuwangi
Banyuwangi sengaja dipilih sebagai lokasi studi tiru karena dikenal banyak memiliki inovasi dan penghargaan. Salah satu program inovasi unggulan PKK Kabupaten Banyuwangi adalah Bengkel Sakinah yang ditangani pokja 1 dan meja 6 di posyandu di desa/kelurahan.

“Selain itu kami juga ada talkshow dengan mengundang narasumber berbeda-beda seperti psikolog dan lainnya. Kami juga punya aplikasi yang memudahkan kader di desa-desa tinggal mengisi sehingga dapat mengurangi anggaran dan mempermudah tenaga kader,” kata Minuk, Wakil Ketua I TP PKK Kabupaten Banyuwangi saat menyampaikan sambutan selamat datang.

Seperti di Kota Probolinggo, pengurus PKK di kabupaten yang dipimpin Bupati Abdullah Azwar Anas ini tidak harus istri pejabat. Kepengurusan diambil dari macam-macam unsur kesehatan, dokter, ibu rumah tangga dan beberapa istri pejabat atau ASN.
“Kami merangkul banyak elemen, dari NU, Fatayat ada juga LSM. Kebetulan Bapak Bupati memilih orang yang mau bekerja untuk Banyuwangi yang lebih baik,” sambung Sekretaris TP PKK Laili.

Bengkel Sakinah Turunkan Perceraian
Terkait program Bengkel Sakinah, jelas Laili, embrionya berasal dari program Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. Program ini untuk memberikan edukasi kepada pasangan yang akan menikah dan memberikan konsultasi berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat.

Peran PKK lebih pada memfasilitasi atau pendampingan untuk mencarikan solusi dimana masyarakat bisa menyelesaikan masalahnya.

Menurut Laili, Bengkel Sakinah sebagai upaya pemerintah melalui PKK menurunkan angka perceraian di Banyuwangi yang pada tahun 2016 mencapai 8 ribu kasus. Dengan Bengkel Sakinah, angka perceraian berhasil ditekan dan menurun menjadi 6 ribu kasus di tahun ini.

Kemiripan Program
Kepada kader PKK Kota Probolinggo, Laili menyarankan agar kader bisa ikut berperan aktif saat musrenbang yang dimulai dari kelurahan hingga tingkat kota. Sejumlah program PKK pun bisa menggunakan dana desa/kelurahan, seperti yang sudah dilakukan di Banyuwangi. PKK tidak pernah menerima dana cash namun programnya nempel di OPD terkait.

Secara garis besar, penerapan di Kabupaten Banyuwangi ada sedikit kemiripan dengan Kota Probolinggo. Misalnya, Kota Probolinggo sudah merombak kepengurusan yang tidak melulu istri pejabat. Serta, punya program Pos Cinta yang sudah diresmikan Ketua TP PKK Aminah Hadi Zainal Abidin beberapa bulan lalu. Program ini hampir mirip dengan Bengkel Cinta, namun belum menyentuh kelurahan/posyandu.

“Adanya aplikasi, sistem untuk data base PKK ini sangat menarik dan harus dimiliki Kota Probolinggo. Kemudian penggunaan dana kelurahan untuk mendukung program PKK juga bisa kita coba terapkan, karena Kota Probolinggo juga punya dana kelurahan,” ujar Wakil Ketua I Diah Kristanti lagi.

Seperti diketahui, Wali Kota Hadi Zainal Abidin beberapa kali menegaskan jika peran serta dan program PKK harus betul-betul dirasakan masyarakat. PKK setempat pun mengaku sanggup dan akan berupaya untuk bersinergi dengan Pemerintah Kota Probolinggo.

Tim yang dikirim ke Banyuwangi ini, nantinya akan menjadi perumus program kerja PKK ke depannya. Diharapkan setelah ini kerja sama antara TP PKK dengan OPD terkait dapat semakin terjalin.

Para pengurus TP PKK Kota Probolinggo saat kunjung lapangan ke Kelurahan Taman Baru, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi. (Foto:Rifki/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)

Kunjung Lapang
Studi tiru siang itu dilanjutkan kunjungan lapang ke Kelurahan Taman Baru, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi. Di kelurahan ini sudah menerapkan sistem aplikasi Peddas (Pencatatan Data Dasar) untuk Dasa Wisma.

Camat Banyuwangi Muhammad Lutfi dan Lurah Taman Baru Abdurahman beserta pengurus PKK ikut menyambut rombongan.

Kelurahan ini juga menjuarai sebuah simulasi, diberi nama simulasi Sayuwiwit.

Yakni berupa permainan yang didalamnya ada materi tentang permasalahan yang ada di lingkungan sekitar. Materi yang diangkat adalah kebiasaan masyarakat menjemur pakaian di depan rumah yang dirasa tidak etis.
Permasalahan ini ternyata mendapat atensi serius dari Bupati Banyuwangi, karena Banyuwangi harus rapi, bersih, indah dan berseri. (famydecta/humas)