Drawing Pencil, Kenalkan Cagar Budaya

image_pdfimage_print

 

KANIGARAN – Kota Probolinggo masih mempunyai ciri peninggalan kolonial Belanda yang terlihat dalam beberapa bangunan yang ada, dan masih berdiri kokoh di tengah-tengah Kota Probolinggo. Terdapat sepuluh bangunan yang masuk dalam kategori cagar budaya yang telah diresmikan dalam surat keputusan wali kota Probolinggo, diantaranya adalah Markas Kodim 0820 Probolinggo yang dulunya merupakan rumah dinas residen, museum Probolinggo yang menjadi tempat pesta untuk para bangsawan Belanda, gereja merah dengan arsitektur yang masih utuh, stasiun Probolinggo, dan lain-lain.

“Kita harus terus berusaha menjaga cagar budaya yang ada di Kota Probolinggo ini agar keasliannya bangunan tidak berubah,” kata Endarwati, Kepala Bidang Kebudayaan di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Probolinggo.  

Dia mengatakan hal itumerupakan tanggung jawab semua lapisan masyarakat, tidak melulu pemerintah, tak terkecuali para pelajar. Berbagai cara dilakukan untuk mendekatkan dan mengenalkan bangunan cagar budaya yang ada kepada para siswa-siswa Kota Probolinggo. Kali ini, Disbudpar mengenalkan bangunan-bangunan tersebut dengan mengadakan lomba menggambar bangunan cagar budaya, Minggu (19/11). 

“Ada empat tempat yang dipilih sebagai obyek gambar, yakni museum Probolinggo, gereja merah, markas Kodim 0820, dan kantor wali kota,” kata Endar. Dia menambahkan bahwa kantor wali kota dijadikan obyek agar para peserta mengenal lebih dekat dengan pemimpin yang memimpin kota.

Lomba diikuti oleh perwakilan dari seluruh Sekolah Menengah Atas (SMA) yang ada di Kota Probolinggo. Sebanyak 80 peserta akan memperebutkan tropi, piagam dan uang pembinaan yang disediakan oleh Disbudpar. 

Rina, salah satu peserta terlihat sangat tekun menggambar wajah museum Probolinggo. Dia mengatakan baru pertama kali menggambar dengan obyek. “Biasanya menggambar mural,” kata perempuan berjilbab yang mengaku pernah menjuarai lomba mural. 

Lomba menggambar bangunan cagar budaya ini merupakan rangkaian kegiatan apresiasi seni yang digagas oleh Disbudpar. “Kita (Disbudpar) telah menampilkan kesenian Probolinggoan (seni tradisi) waktu lalu, yang akan berlanjut dengan penampilan seni teater dan seni tari,” kata Endarwati. Dia mengatakan bahwa apresiasi seni ini memang ditujukan untuk merangkum dan memberi kesempatan semua seni yang ada untuk tampil. 

Siswa SMAK Mater Dei, Jonatan MA menjadi juara lomba. Disusul Andre Dwi dari SMKN 3, Ahmad Soleh dari SMAN 1, Mahrus Alauddin J siswa MAN 2,Sania Lukita Sari dari SMAN 4 dan Ade Utomo dari SMAK Mater Dei. (hariyantia/humas) 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.