Dalam simulasi tersebut para petugas dari BPBD menyelamatkan warga yang tertimpa reruntuhan bangunan. (Foto:Welly/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)
image_pdfimage_print

KADEMANGAN – Bencana memang tidak bisa diketahui kapan datangnya dan kepada siapa ia akan melanda. Namun, untuk mengantisipasi timbulnya korban bencana perlu dilakukan simulasi dan edukasi kepada masyarakat. Seperti yang dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Probolinggo, Rabu (18/12) siang.

Bertempat di Rusunawa Bayuangga di Jalan Brantas, Kecamatan Kademangan, simulasi bencana gempa bumi melibatkan pasukan Yon Zipur 10 Probolinggo. Wali Kota Hadi Zainal Abidin, Wawali Mochammad Soufis Subri dan Sekda drg Ninik Ira Wibawati hadir menyaksikan simulasi itu.

Diceritakan, pada saat itu terjadi bencana gempa bumi sehingga membuat 150 KK penghuni rusunawa harus tunggang langgang berlari menyelamatkan diri dan keluarganya. Peristiwa yang membuat panik warga itu semakin riuh saat diketahui ada korban yang tertimpa reruntuhan bangunan.

Disinilah peran pasukan Yon Zipur dibutuhkan karena memiliki sebuah alat pendeteksi yang dinamakan Rescue Radar. “Fungsinya sebagai life locator sebagai pencari korban di reruntuhan bangunan atau longsor,” ujar Komandan Yon Zipur 10 Probolinggo Lettu Czi Fariz Zain yang ikut hadir dalam simulasi tersebut.

Alat ini bisa berfungsi saat berada di ketinggian tertentu. Penasaran dengan cara kerjanya, Wali Kota Habib Hadi dan Wawali Subri sampai ikut naik ke lantai tiga rusunawa sambil mendapat penjelasan bagaimana alat itu bekerja.

Dari simulasi tersebut para petugas dari BPBD  meberikan intruksi kepada warga yang terkena gempa bumi. (Foto:Welly/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)

Kepala Pelaksana BPBD Prijo Djatmiko menjelaskan, meminimalisir resiko bencana sangat penting untuk mengetahui potensi ancaman bencana di sekitar kita. Untuk itu, masyarakat harus mengetahui SOP (Standar Operasional Prosedur) yang harus dilakukan ketika bencana itu terjadi.

Berdasarkan kajian potensi ancaman bencana di Kota Probolinggo meliputi banjir, banjir kiriman (lahar dingin Bromo), angin puting beliung, kebakaran dan banjir rob. “Tapi ada potensi yang dilupakan yaitu bencana gempa bumi. Ini yang perlu kita ketahui bersama apa yang harus dipersiapkan dan rencana yang disusun,” kata Prijo.

Dalam rangka mewujudkan Kota Probolinggo tangguh bencana, BPBD sudah membentuk forum pengurangan resiko bencana hampir di sebagian wilayah kota. Bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, telah disiapkan sekolah aman bencana, satuan pendidikan aman bencana sesuai SOP ancaman di lingkungan sekolah.

“Ketika keadaan darurat terjadi, bisa dilaksanakan antisipasinya. Ini membutuhkan dukungan semua lembaga baik itu pemerintah, dunia usaha, stakeholder lebih terketuk dengan penanganan bencana yang ada di Kota Probolinggo,” jelas mantan Kabag Humas dan Protokol itu. (famydecta/humas)