Wali Kota Habib Hadi saat menandatangani pelepasan hak atas tanah bekas hotel Rela Hati. (Foto:Welly/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)
image_pdfimage_print

KANIGARAN – Setelah 2 (dua) tahun Pemerintah Kota Probolinggo berupaya untuk membeli lahan bekas hotel Rela Hati, akhirnya harapan itu terwujud. Kamis (19/12) Wali Kota Probolinggo, Hadi Zainal Abidin bersama Sekretaris Daerah Kota Probolinggo, Ninik Ira Wibawati menerima pelepasan hak atas tanah dari pemiliknya, H. Abd. Rokhim. Penandatanganan pelepasan hak atas tanah tersebut dilaksanakan di ruang transit, kantor Wali Kota Probolinggo.

Pelepasan hak atas tanah eks Hotel Rela Hati ini difasilitasi oleh Notaris, Entjik Mamat Abror. Abror menjelaskan, pengadaan tanah oleh Pemerintah Kota Probolinggo ini sudah sesuai dengan RT-RW. Tanah ini juga sudah dinilai (appraisal) pada 19 November 2019, dan masih berlaku sampai saat ini. Appraisal sendiri berlaku selama 3 bulan.

Abror juga menegaskan, pelepasan hak atas tanah eks hotel Rela Hati ini tanpa  proses penetapan lokasi. “Tidak perlu penetapan lokasi. Karena ukuran tanahnya di bawah 5 ha. Jadi prosesnya tidak terlalu lama. Ukuran tanahnya 1.325 m²,” ujar Abror.

Wali Kota Habib Hadi menegaskan proses pelepasan hak atas tanah ini memang terkesan molor. Namun itu bukan sesuatu hal yang disengaja. “Molornya waktu bukan karena kesengajaan dari Pemerintah Kota Probolinggo, tapi semata-mata karena mengikuti prosedur. Pemerintah berminat membeli tanah ini karena melihat ke depan. Kami akan fungsikan sebagai syiar agama. Kita akan gunakan untuk perluasan area Masjid Agung,” ujar Habib Hadi.

Suasana saat Wali Kota Habib Hadi bertemu dengan pemilik tanah eks hotel Rela Hati di Ruang Transit. (Foto:Welly/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)

Terkait dengan kapan perluasan masjid agung akan dimulai, Habib menegaskan akan segera merealisasikan. “Tahun 2020 masuk pada Musrenbang. Insha Allah tahun 2021 akan kita mulai perluasan Masjid Agung. Kita akan lihat potensi keuangannya. Terkait hal ini, jika ada rehab Masjid Agung, harap dikonsultasikan dulu. Karena bisa jadi ketika akan kita bangun, kita rusak lagi untuk perluasan. Kan sayang kalau seperti itu,” pungkas Habib Hadi.

Tanah eks Hotel Rela Hati ini sebenarnya merupakan aset dari BMT. UGT Sidogiri, Pasuruan. Pada tahun 2010, Abd. Rokhim sebagai Direktur Keuangan lembaga keuangan pondok pesantren Sidogiri itu membeli tanah eks hotel ini. Pemerintah Kota Probolinggo sendiri sejak tahun 2017 menyatakan minatnya untuk mengambil alih tanah ini. Pemerintah Kota Probolinggo akhirnya bersepakat untuk membayar sebesar Rp. 6.293.750.000,- untuk proses penguasaan atas tanah ini.

BMT. UGT Sidogiri masih memiliki tanggungan tunggakan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) selama 6 tahun, senilai Rp. 6.111.000. Abd. Rokhim berjanji untuk segera melunasi tunggakan PBB-nya itu. “Kalau tidak hari ini, paling lambat besok sudah kami lunasi”, ujarnya sebelum meninggalkan lokasi. (Abdurhamzah/humas)