Wali Kota Habib Hadi dan Wakil Wali Kota Soufis Subri saat meninjau lokasi yang akan dijadikan sel baru di TPA.(Foto:Rizal/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)
image_pdfimage_print

MAYANGAN – Di tahun pertama kepemimpinan Wali Kota Probolinggo Hadi Zainal Abidin dan Wawali Mochammad Soufis Subri berhasil merealisasi pembangunan sel baru untuk pembuangan sampah di Taman Pemprosesan Akhir (TPA) di Jalan Anggrek.

Kota Probolinggo memang membutuhkan penanganan sampah yang cukup serius, setelah dua sel mendekati overload. Sel ketiga seluas 4200 m2 dengan kedalaman 2 meter akhirnya selesai dibangun pada tahun 2019, diperkirakan awal tahun 2020 sudah siap dioperasikan.

Sel ketiga ini diperkirakan bisa menampung sampah 3-4 tahun mendatang. Perkiraan ini sesuai dengan sel kedua yang mempunyai luasan hampir sama. Apakah sembari menunggu sel ketiga penuh, Pemerintah Kota Probolinggo akan diam saja? Jawabannya tidak.

“Selama 3-4 tahun ini akan kami lakukan pengurangan sampah yang lebih masif di masyarakat. Termasuk sasaran kami pengelolaan sampah hotel, karena sisa makanan tidak semuanya harus di TPA tapi bisa dilakukan proses dari semua sumber sampah,” jelas Kepala Dinas Lingkungan Hidup Budi Krisyanto.

Keluhan di masyarakat masih ada RT,RW dan lurah yang relatif belum maksimal menangani sampah. Budi mengatakan, perlu ada integrasi, harmonisasi dengan didampingi RT/RW kelurahan agar masalah sampah di lingkungan bisa menjadi lebih baik.

“Dengan begitu masalah sampah di lingkungan bisa baik. Sampah yang masuk ke TPA lebih berkurang dan umur TPA lebih panjang,” imbuh Budi Kris. Saat ini sampah yang masuk ke TPA 56-60 ton per hari dari 240 ribu jiwa penduduk Kota Probolinggo. Tidak semua sampah masuk ke TPA, ada yang sudah melalui proses daur ulang, dibakar, dibuang ke sungai atau upaya lainnya.

Senin (23/12) pagi, Wali Kota Habib Hadi dan Wawali Subri meninjau sel baru yang ada di sisi timur setelah jalan masuk ke TPA. Sel baru yang dibangun dengan dana senilai Rp 3,9 Miliar terselesaikan dalam waktu 105 hari dari batas waktu pengerjaan selama 120 hari.

“Kami lihat karena ini baru selesai pekerjaanya. Kami harus menyiapkan apa yang jadi tantangan. Dengan sel baru ini, meskipun sebelah timur (sel dua) masih belum penuh tapi kita siapkan. Harus ada solusi dengan teknologi, cara, metode baru sehingga terdampak dan gas methan bisa bermanfaat,” jelas Habib Hadi, saat ditemui di TPA.

Habib Hadi ingin berupaya mencari solusi tumpukan sampah bisa memunculkan ekonomi. “Jalau tidak berinovasi, ya terus seperti ini, numpuk (sampah). Kita memproduksi sampah, tapi harus bisa mengelola sampahnya. Bukan hanya dibuang ke TPA tapi diolah supaya ada hasil ekonomi,” seru mantan anggota DPR RI ini.

Beberapa waktu lalu, wali kota ke Swedia untuk belajar banyak hal khususnya lingkungan. “Kita sesuaikan dengan kondisi di kota. Insyaallah bisa diterapkan. Swedia sudah menerapkannya di Palu, kita coba di Pobolinggo apa bisa memanfaat sampah menjadi lebih bermanfaat,” tegas Habib Hadi.

Disinggung terkait TPA regional, Habib Hadi menyatakan itu jadi harapannya juga. Sebab investor melihat bila setiap hari ada 100 ton sampah yang masuk ke TPA bisa dirubah menjadi energi listrik.

“TPA regional menjadi harapan, karena investor melihatnya dalam satu hari jika lebih 100 ton yang masuk, sampah bisa dirubah jadi energi listrik. Kita akan lakukan terobosan sesuai fakta yang ada. Harapan kami, impian kami masalah sampah tidak menjadi tumpukan melainkan berdampak manfaat yang ramah lingkungan. Mudah-mudahan bisa berjalan sesuai harapan,” imbuh wali kota. (famydecta/humas