Responsif, Wali Kota Habib Hadi Bawa Febri ke RSUD

Wali Kota Habib Hadi saat mendatangi rumah Febri Dwi Saputra Bocah malang ini mengalami gangguan pada kaki dan tangannya. (Foto: Agus/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)
image_pdfimage_print

KADEMANGAN – Mendapati informasi warganya yang membutuhkan perhatian pemerintah, Wali Kota Probolinggo Hadi Zainal Abidin langsung responsif mendatangi rumah Febri Dwi Saputra, Kamis (26/12), pukul 06.30, di Dusun Melati RT 2 RW 1 Kelurahan Poh Sangit Kidul, Kecamatan Kademangan.

Bocah malang ini mengalami gangguan pada kaki dan tangannya. Kepada Habib Hadi-sapaan wali kota, kedua orangtua Febri, Neman (43) dan Rokayah (38) menuturkan kisah anak keduanya tersebut. “Sejak lahir sampai SD kelas 2, anak saya masih tidak apa-apa. Normal. Itu foto waktu sekolah TK. Febri masih bisa berjalan dan bersekolah,” tutur Neman menunjukkan foto anaknya.

Kejadian itu bermula pada tahun 2016. Neman mengatakan, Febri pernah jatuh saat bermain bersama teman-temannya. Lama setelah kejadian itu Febri mulai mengeluhkan kaki kirinya yang sering sakit. Bertahun-tahun keluhan itu dialami Febri, dan selama itulah kedua orangtuanya sudah berupaya melakukan pengobatan secara medis atau alternatif.

“Pernah ke rumah sakit di Surabaya, katanya nunggu panggilan tapi sampai sekarang belum dipanggil-panggil. Pernah terapi, herbal tapi tidak ada hasilnya,” tutur Neman yang bekerja sebagai tukang bangunan ini. Berawal dari kaki yang tidak bisa berjalan, dua tahun terakhir, kedua tangan Febri juga lemas tidak bisa digerakkan. Makan pun ia harus disuapi. Harusnya saat ini Febri sudah duduk di bangku sekolah kelas 5 SD.

Saat wali kota berkunjung, Febri sedang tiduran di kasurnya. Kepada wali kota, Febri mengaku ingin sembuh dan kembali bersekolah. Tanpa basa-basi, Habib Hadi yang datang ke rumah warganya tanpa didampingi pejabat itu langsung menghubungi camat, lurah dan puskesmas. Habib Hadi memerintahkan Febri segera dibawa ke RSUD dr Mohamad Saleh.

“Kita coba periksakan lagi, mungkin bisa untuk mendapatkan penanganan medis. RSUD juga saya minta berkoordinasi dengan RSUD dr Soetomo di Surabaya untuk memastikan kondisi Febri ini seperti apa,” kata Habib Hadi.

Febri Dwi Saputra saat dibawa ke RSUD menggunakan ambulan. (Foto: Agus/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)

Keluarga Febri sudah mempunyai BPJS Kesehatan yang ditanggung pemerintah, sehingga penanganan administrasi akan lebih mudah. Dari rumahnya Febri dibawa ke poli anak di RSUD dr Mohamad Saleh menggunakan ambulance puskesmas didampingi ibunya.

“Saya salut, Febri masih punya semangat yang tinggi. Ia ingin sembuh, bisa bersekolah dan beraktivitas seperti teman-temannya. Saya berharap, ia punya semangat menata masa depan. Pemerintah yang mengambil langkah medis, insyaallah ada solusi, namanya juga kita berikhtiar,” harapnya.

Wali Kota Habib Hadi mengimbau kepada masyarakat, apabila ada warga yang membutuhkan perhatian pemerintah namun belum terdengar oleh pemerintah, diharapkan warga segera memberikan informasi ke RT/RW, lurah atau camat setempat agar bisa disampaikan ke puskesmas.

Pemerintah Kota Probolinggo jelas akan responsif dalam memberikan penanganan kepada warganya. “Sampaikan kepada kami, kesulitan menemui saya bisa langsung inbox ke media sosial. Kalau tidak punya (media sosial) bisa langsung ke RT,RW, lurah atau camat. Semisal sudah melapor tidak ada respon dari mereka, saya turun sendiri nanti,” tegas Habib Hadi.

Ya, pemerintahan di era Habib Hadi bersama wakilnya, Mochammad Soufis Subri memang konsern dengan pendidikan, kesehatan serta kemiskinan. Salah satu kebijakan di bidang kesehatan, masyarakat sudah tidak perlu khawatir berobat jika sakit karena ada program UHC (Universal Health Coverage). Selain itu, 18 unit ambulance untuk kelurahan pun siap dioperasionalkan.

“Ini adalah upaya memberikan percepatan pertolongan kepada masyarakat. Disamping butuh masyarakat yang butuh perhatian, jika ada kedaruratan bisa juga dimanfaatkan untuk masyarakat,” imbuh wali kota, yang pagi itu akhirnya didampingi Camat Kademangan Pujo Agung Satrio dan Lurah Poh Sangit Kidul.

“RT, RW, lurah dan camat kembali saya ingatkan lebih peka dan paham dengan wilayahnya. Jika ada warganya jangan sampai terpublikasi dulu, tangani dulu. Karena pemerintah wajib merespon informasi seperti ini,” sambungnya. (famydecta/humas)

Febri Dwi Saputra harus disuapi oleh ibunya saat makan karena tangannya tidak bisa bergerak. (Foto: Agus/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)