Wali Kota Minta Toga Tomas Antisipasi Potensi Konflik

image_pdfimage_print

 

KANIGARAN. Menghadapi tahun 2018 yang merupakan tahun politik, potensi terjadinya konflik di masyarakat cukup tinggi. Wali Kota Probolinggo, Rukmini menyikapi dengan meminta tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk tidak bosan-bosan membimbing masyarakat. Permintaan tersebut disampaikan Rukmini saat membuka fasilitasi Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD) dengan tokoh agama (Toga) dan tokoh masyarakat (Tomas), Kamis (7/12) di Puri Manggala Bhakti. 

“Tahun depan akan ada Pemilukada serentak. Saya titip kepada Toga dan Tomas untuk menjaga wilayah masing-masing. Kita harus bersama-sama mengantisipasi potensi konflik yang mungkin saja terjadi. Jangan sampai kejadian kerusuhan Pemilukada tahun 2013 terulang. Untuk itu, saya harapkan Toga dan Tomas tidak bosan-bosan membimbing masyarakat agar tidak mudah termakan isu-isu di media sosial terutama informasi yang sifatnya hoax,” harap Rukmini.

Agus Rudiyanto Ghaffur, Ketua DPRD Kota Probolinggo justru melihat potensi konflik yang mungkin saja terjadi di Kota Probolinggo terkait dengan keberadaan ojek online. “Potensi konflik antara ojek online dengan ASAP (Aliansi Sopir Angkot Probolinggo) justru harus diseriusi. Kita tentu tidak ingin ada ojek online yang tiba-tiba dicegat di tengah jalan oleh sopir angkutan kota. Kita semua sepakat operasional ojek online masih belum memiliki izin. Ini harus dipenuhi dulu,” ungkap Agus. 

Selain itu, Agus juga mengkritik angkutan umum. “Kadang beberapa sopir angkot tidak mematuhi trayek yang sudah ditentukan Pemkot. Saya juga pernah mendapat laporan, ada penumpang luar kota ketinggalan barang di angkot. Dia bingung mau lapor ke siapa. Selain itu, perilaku sopir angkot yang terlalu lama menunggu penumpang banyak dikeluhkan masyarakat. Banyak yang telat kerja atau sekolah gara-gara itu. ASAP harus bisa berkompetisi dengan angkutan yang berbasis online,” terang ketua DPRD itu. 

Wakapolresta Probolinggo, Djumadi  menyoroti soal peredaran pil koplo di Kota Probolinggo. “Saya pertama kali bertugas di sini jujur kaget. Banyak sekali kasus pil koplo. Justru kalangan pelajar yang banyak mengkonsumsi. Terakhir, kita dapati pemasoknya dari Jember. Di sini dibagi-bagi lagi untuk diedarkan. Sasaran mereka paling banyak kalangan pelajar. Kita harus menghentikan hal ini,” Ujar Pria asal Ponorogo itu. (Abdurhamzah/humas) 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.