AKBP Alfian : Aman, Harga Mati!

image_pdfimage_print

 

 

MAYANGAN – Mengantisipasi terjadinya kerusuhan saat pilkada (pemilihan kepala daerah) tahun 2014 lalu di Kota Probolinggo terjadi lagi, Polres Probolinggo Kota menggelar simulasi latihan Pra Operasi Mantap Praja Prabu Semeru 2018 di Terminal Baru Pelabuhan Probolinggo, Kamis (7/12). Latihan ini melibatkan berbagai unsur diantaranya TNI, Polri dan Pemkot setempat. 

Seperti diketahui, pada pilkada lalu kerusuhan hebat terjadi di Kelurahan Mayangan, Kecamatan Mayangan. Kebrutalan massa lantaran tidak terima dengan hasil pemungutan suara yang kala itu memenangkan pasangan calon Rukmini dan Suhadak (kepala daerah terpilih). Massa nekat membakar sebuah kendaraan operasional polisi dan telinga Kapolres Probolinggo Kota pun jadi korban.

Simulasi pagi itu, diawali dengan operasi cipta kondisi. Menggambarkan suasana Kota Probolinggo yang kondusif. Aktifitas masyarakat bekerja seperti biasa. Satuan TNI, Polri dan pemerintah bersatu bahu-membahu menjaga Kota Probolinggo. Kerusuhan terjadi ketika masa kampanye pasangan calon pilkada 2018 di Lapangan Karya Bakti. Pengamanan berlapis dilakukan hingga kemudian ada beberapa pelaku berupaya menggagalkan kampanye. Setelah kejar-kejaran Polisi akhirnya berhasil membekuk para pelaku. 

Sampai pada masa tenang, Polisi bersama Satpol PP, anggota KPU dan Panwaslu Kota Probolinggo membersihkan alat peraga yang masih terpasang di sejumlah jalanan. Keriuhan kembali terjadi ketika pemungutan suara berlangsung di TPS 7 Kelurahan Mayangan. Saat penghitungan suara ada salah satu saksi pasangan calon yang tidak terima dengan hasilnya. Kejadian inilah yang akhirnya memicu aksi demo yang anarkis oleh ratusan orang ke kantor KPU Kota Probolinggo. 

Aksi massa itu ditangani oleh Polres Probolinggo Kota dan Brimob Polda Jatim. Anjing K9 pun tak berhasil meredam massa yang makin tak terkendali. Tak mempan dengan pasukan bertameng, Brimob sampai mengeluarkan gas air mata dan mobil canon untuk mengusir mundur massa. Massa pun makin beringas, membakar ban hingga menyerang petugas. Sejumlah oknum tergeletak namun berhasil ditolong oleh tim kesehatan kepolisian. 

Demo anarkis teredam. Tidak demikian dengan kondisi Kota Probolinggo. Penjarahan terjadi dimana-mana. Pertokoan diserang. ATM dibobol. Hingga seseorang yang sedang menjalankan usahanya pun tak luput dari penjarahan. Brimob kembali turun tangan dengan tim sniper-nya. Beruntung, atas kerjasama Polres dan Brimob, seorang provokator sekaligus pelaku penjarahan berhasil dilumpuhkan. 

Salah seorang tim sukses pun diculik oleh seseorang. Polisi mengejar pelaku yang mengendarai mobil hingga hampir bertabrakan. Tim sukses disandera, tim Brimob kembali membebaskan dari rumah pelaku menggunakan bahan peledak. 

Aksi teror tidak sampai disitu. Dibawah kursi Wali Kota Rukmini terpasang bom aktif yang dapat meledak sewaktu-waktu. Anggota Polres Probolinggo Kota bersama Brimob buru-buru mengevakuasi Rukmini ke dalam mobil. Bom berhasil diamankan dan diledakkan di dalam tabung khusus milik tim jihandak. 

Butuh waktu beberapa lama bagi Polisi untuk meyakinkan Kota Probolinggo kembali kondusif. Bersama TNI dan Satpol PP, Polisi mengamankan wilayah baik di daerah perbatasan atau di tengah kota. Akhirnya, Kota Probolinggo pun dinyatakan kondusif oleh kepolisian dan masyarakat dapat melakukan aktifitasnya seperti biasa. 

Simulasi ini membuat wali kota tercenggang. Ia tidak menyangka jika ada bom sungguhan di bawah mejanya. “Iya, saya sampai kaget. Kok beneran bomnya. Dan, saya ikut saja waktu dievakuasi oleh petugas,” cerita Rukmini mengisahkan perasaannya. 

Peristiwa tahun 2014 silam sangat melekat di hati Rukmini. Namun, ia bersyukur jika pelaku kerusuhan yang sudah dihukum itu bukanlah warga Kota Probolinggo. Ia yakin warga Kota Probolinggo tidak akan menyukai kerusuhan sampai merusak kotanya sendiri. 

“Saya sangat mengapresiasi latihan ini. Dengan begitu (latihan) Pak Kapolres (AKBP Alfian Nurizal) menunjukkan kesiapannya menghadapi pilkada tahun depan. Tentunya, saya juga berharap kejadian yang lalu terulang kembali. Harapan saya, seperti Pak Kapolres, pilkada aman,” tegas Wali Kota Probolinggo Rukmini, usai menyaksikan latihan hingga usai. 

AKBP Alfian Nurizal membenarkan jika simulasi ini dilaksanakan agar kejadian pilkada lalu terulang kembali. “Waktu itu memang keos, sampai mobil Polres juga dibakar. Saat ini kami bersiap agar kejadian itu tidak terjadi lagi. Kami bersama-sama TNI dan pemerintah, bersinergi menjaga pelaksanaan pilkada, pilgub dan pileg berlangsung dengan kondusif. Seperti yang saya sampaikan, aman harga mati!,” serunya. 

Pada pilkada mendatang, Polres Probolinggo Kota telah memetakan 18 TPS kategori sangat rawan di wilayah hukumnya. 1 TPS akan dijaga 1 polisi, 4 TPS dan 8 linmas. Dana pengamanan pilkada untuk Polres Probolinggo Kota sebesar Rp 4,3 M. 

Sementara itu, Dandim 0820 Probolinggo Letkol Kav Depri Rio Saransi menyatakan sebanyak 550 personil TNI/Polri dan gabungan disiapkan dalam pengamanan pilkada, pilgub dan pileg. Jika diperlukan, sesuai dengan instruksi pimpinnya, apabila kekurangan personil maka dapat BKO dari yonif lain. 

“Kami siap menciptakan Kota Probolinggo yang kondusif. Kami pun siap bergerak bila diminta. Kami bersinergi bersama,” kata Depri, yang memastikan tidak ada anggotanya yang akan berpolitik praktis. Bahkan ia sudah memberikan pembekalan kepada anggotanya untuk selalu menjaga netralitas dalam pemilu. “Jelas akan ada sanksi jika ada anggota TNI yang ditemukan berpolitik,” sambungnya. (famydecta/humas) 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.