Harga Beras Pengaruhi Inflasi 

image_pdfimage_print

 

KANIGARAN – Kota Probolinggo berada di urutan kedua yang mengalami Inflasi di Jawa Timur setelah Surabaya yakni 0,69 persen. Namun secara kumulatif tahunan (year on year ,Desember 2017 terhadap Desember 2016) sudah relatif rendah yakni 3,18 persen.

Hal itu disampaikan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Achmad Sudiyanto saat merilis inflasi Kota Probolinggo tahun 2017, di Radio Suara Kota, Selasa (23/1). Siang itu,  Asisten Perekonomian dan Pembangunan didampingi oleh Kepala BPS (Badan Pusat Statistik) Wahyudi, Kepala Bulog Tomi, Perwakilan BI Malang Siti Sinoreta dan beberapa tim TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah).

Kepala BPS Wahyudi menuturkan, ada 10 komoditas yang mempengaruhi inflasi di Kota Probolinggo. Yakni beras, telur ayam ras, tomat sayur, rempela hati ayam, daging ayam ras, rokok kretek, angkutan antar kota, bahan pelumas/oli, dan kentang.

Disamping mengalami kenaikan harga, ada komoditas yang mengalami penurunan harga yang menghambat laju inflasi. Adapun komoditas yang mengalami deflasi adalah minyak goreng, tempe, jagung muda, telepon selular, kelapa, bawang merah, udang basah, celana panjang jeans, gula pasir, sabun cream, dan detergen. Ia berharap pada tahun 2018 ini bisa lebih landai dari tahun-tahun sebelumnya.

Harga beras yang melambung tinggi menjadi topik utama dalam inflasi di Kota Probolinggo saat ini. Untuk itu, Ahmad Sudiyanto menyampaikan beberapa kebijakan yang sudah dilakukan Pemerintah Kota Probolinggo yakni koordinasi dengan instansi terkait dan operasi pasar bersama dengan Satgas pangan dan Bulog. 

“Saya minta masyarakat Kota Probolinggo tidak panik, kami akan terus berupaya menjaga stok guna menstabilkan harga beras serta memberikan beberapa bantuan kepada masyarakat yang kurang mampu khususnya,” tutur Sudi panggilan akrabnya.

Seperti penuturan Kepala Bulog Divre Probolinggo Tomy, bahwa bulog siap memperkuat stok. Saat ini stok beras 13.000 ton aman untuk 3-4 bulan kedepan sambil menunggu musim panen. “Kami juga akan terus melalukan operasi pasar dengan menggelontorkan beras berkualitas medium dengan harga Rp 9.350,” jelas Tomy. Beberapa program bantuan juga akan diberikan seperti Raskin (Beras untuk masyarakat miskin), Rasidi (Beras bersubsidi) serta Rastra (Beras untuk masyarakat sejahtera).

Untuk membantu meminimalisir pengusaha-pengusaha yang menimbun beras atau mempermaikan harga beras Satgas Pangan Polres Probolinggo Kota juga terus melakukan sidak pasar . “Kami imbau kepada masyarakat untuk melaporkan kepada Satgas Pangan apabila menemukan hal-hal yang demikian”, jelas Harsono.

Disamping itu Siti Sinoreta menjelaskan bahwa Inflasi sangat peka bagi para penerima penghasilan tetap. “Kedepannya kita tidak hanya harus memikirkan bagaimana menekan laju inflasi namun bagaimana mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi supaya terjadi keseimbangan,” ungkapnya.  (malinda/humas)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.