Wali Kota Minta Orang Tua Lebih Memperhatikan Anak

image_pdfimage_print

 

Kanigaran – Pemerintah Kota Probolinggo selalu berupaya untuk memantaskan diri menjadi Kota Layak Anak (KLA). Hal tersebut juga terlihat dari kegiatan sosialisasi tentang Perlindungan Perempuan dan Anak yang diselenggarakan oleh Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) di Puri Manggala Bhakti, Rabu (07/03).

The Probolinggo City Government always tries to be a Child-Friendly City (KLA). It can be seen from the socialization of the Protection of Women and Children organized by the People’s Welfare Section (Kesra) at Puri Manggala Bhakti, Wednesday (07/03).

Wali Kota Probolinggo, yang diwakili Asisten Administrasi Umum, Rey Suwigtyo bahwa Kota Probolinggo masih belum bebas dari kekerasan. “Kasus terbaru adalah pembunuhan anak yang terjadi di perempatan Ketapang, seorang anak jalanan ditemukan terbunuh dengan banyak tusukan,” katanya. dia mengatakan bahwa Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) bisa menjadi awal dari seorang anak keluar dari rumah. ”Maka dari itu, sudah menjadi kewajiban kita untuk bisa menciptakan keamanan dan kenyamanan bagi anak-anak kita,” katanya. Dia juga menambahkan bahwa orang tua harus memberi perhatian kepada anak-anak, apalagi anak-anak-anak sekarang telah mengenal ponsel pintar,” tambah Tiyok, panggilan akrabnya. 

Mayor of Probolinggo, represented by Assistant General Administration, Rey Suwigtyo stated that the City of Probolinggo still has many violence actions. “The latest case is the murder of a child at the Ketapang intersection, a street child was found killed with many stab wounds,” he said. He said that Domestic Violence (KDRT) could be the reason of a child coming out of the house. “Therefore, it is our duty to be able to create security and comfort for our children,” he said. He also added that parents must pay attention to their children. “Moreover, children know how to use smart phone, “added Tiyok, his nickname.

Kedepan, dia berharap kegiatan seperti ini ditujukan kepada anak-anak yang rentan masalah, seperti anak jalanan. “Kita bisa bekerjasama dengan rumah-rumah singgah yang ada, dan juga Dinas Pendidikan untuk memberikan sosialisasi kepada anak-anak sekolah menengah yang masih labil dan juga rentan dengan masalah,” tambahnya. Dia juga mencontohkan bagaimana anak-anak usia SMP yang harusnya belum diperbolehkan mengendarai motor banyak mengalami tindak kriminal seperti kecelakaan atau pembegalan. “Semoga hukum Indonesia kedepan, bila ada anak melanggar hukum karena kelalaian orang tua, maka orang tualah yang harus bertanggung jawab,” jelasnya.

In the future, he hopes this event would be for problematic children, such as street children. “We can cooperate with existing shelters, and also the Educational agency to socialize more issues for middle school students,” he added. He also gave an example of how junior high school children who should not allowed to ride motorbikes experienced many incidents such as accidents or robbery. “Hopefully Indonesian law will come forward, if there are children violating the law due to negligence of the parents, then the parents should take the responsibility,” he explained.

Menurut Kepala Bagian Kesra, Aman Suryaman, kegiatan ini memang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk ikut membantu dalam hal perlindungan perempuan dan anak. “Hal ini juga untuk mewujudkan Kota Probolinggo menjadi Kota Layak Anak dan juga sebagai wadah aspirasi masyarakat dalam hal perlindungan perempuan dan anak,” kata Aman. Kegiatan ini dihadiri oleh 150 peserta yang terdiri dari perwakilan PKK Kelurahan, anggota Forum Anak dan Dewan Perwakilan Anak, dan juga perwakilan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di pemerintah Kota Probolinggo, dan menghadirkan nara sumber dari Unit PPA Polresta Probolinggo dan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB). (hariyantiagustina_humas)

According to Head of the Public Welfare Section, Aman Suryaman, this activity is aimed at increasing public awareness in protecting women and children. “This is also to realize the City of Probolinggo as a Child-Friendly City and also as a forum in protecting women and children,” Aman said. The event was attended by 150 participants consisting of representatives of PKK (family welfare movement), members of the Children’s Forum and Children Representative Council, as well as representatives of all regional working units (OPD) in the Probolinggo City government, and the speakers are from the PPA (women and children protection) Unit of Probolinggo’s Polresta and the Women’s Empowerment, Child Protection and Family Planning (DP3AKB) agency.(unofficial translation/hariyanti)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.