Wali Kota Rukmini: Mari Tingkatkan Konsumsi Ikan

image_pdfimage_print

 

WONOASIH – Pemerintah Kota Probolinggo kembali menggelar Semarak Pagi Kota Probolinggo (SPKP). SPKP perdana kali ini digelar di Kecamatan Wonoasih, Minggu (11/3). Acara ini diikuti oleh 48 peserta yang terdiri dari 28 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kota Probolinggo, 2 sekolah, 10 perusahaan, dan sisanya dari UKM setempat. 

Nampak hadir mendampingi wali kota antara lain Sekda Bambang Agus Suwignyo, Asisten Adm. Umum Rey Suwigtyo, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Achmad Sudiyanto, serta sejumlah kepala OPD. 

Camat Wonoasih, Dwi Hermanto menyatakan bahwa melalui SPKP kali ini, panitia mengusung tema dengan memfokuskan pada optimalisasi sumber daya alam dan peningkatan kualitas hidup. “Pada kegiatan kali ini, kami mengusung tema Mewujudkan Kota Probolinggo yang Maju dan Sejahtera Melalui Optimalisasi Pemanfaatan Sumber Daya Alam dan Peningkatan Kualitas Hidup,” tutur Dwi Hermanto. 

Sumber daya alam yang dimaksud ialah peningkatan konsumsi ikan sekaligus peningkatan hasil pertanian di wilayah Kota Probolinggo. Tema ini disambut baik oleh Wali Kota Rukmini. Menurutnya, tema ini sangat tepat mengingat jumlah konsumsi ikan di Kota Probolinggo masih di bawah rata-rata. 

“Hasil perikanan tahun lalu sebanyak 20.000 ton. Sedangkan yang dikonsumsi hanya 7.140 ton. Sisanya dikirim ke luar daerah bahkan ke luar negeri. Tingkat konsumsi ikan per kapita masih dibawah rata-rata nasional,” tutur Rukmini. 

Diketahui, tahun lalu angka konsumsi makan ikan  di Kota Probolinggo mencapai 35,70 kg per kapita per tahun. Meskipun angka ini termasuk dalam 5 besar konsumsi ikan terbanyak di Jawa Timur, namun jumlah tersebut masih di bawah target nasional sebesar 43,50 kg per kapita per tahun. 

Rukmini juga mengingatkan masyarakat tentang penggunaan cantrang sebagai alat tangkap ikan. Ia berharap masyarakat secara bertahap tidak menggunakan cantrang karena alat tangkap jenis ini telah dilarang penggunannya. 

“Di Kota Probolinggo masih banyak nelayan yang menggunakan cantrang. Hingga saat ini Kementerian Perikanan masih memberikan toleransi. Saya berharap secara bertahap masyarakat dapat meninggalkan cantrang,” jelas Rukmini. _alfien/humas

 

Probolinggo City Government held Semarak Pagi Kota Probolinggo (SPKP/kind of car free day festival). The first SPKP this year was held in Wonoasih District, on Sunday (11/3). This event was attended by 48 participants consisting of 28 regional working units (OPD) of the Probolinggo City Government, 2 schools, 10 companies, and the rest are from local SMEs.

The mayor was accompanied by regional secretary Bambang Agus Suwignyo, Assistant for general administration Rey Suwigtyo, Assistant for Economics and Development department Achmad Sudiyanto, and head of working units.

Head of Wonoasih Sub-District, Dwi Hermanto stated that through SPKP, the committee focus on optimizing natural resources and improving the quality of life. “The theme of SPKP this time is “Mewujudkan Kota Probolinggo yang Maju dan Sejahtera Melalui Optimalisasi Pemanfaatan Sumber Daya Alam dan Peningkatan Kualitas Hidup” (Realizing an Advanced and Prosperous City of Probolinggo Through Optimizing the Use of Natural Resources and Improving the Quality of Life),” said Dwi Hermanto.

The natural resource here is an increase in fish consumption as well as an increase in agricultural products in the Probolinggo City. This theme was welcomed by the Mayor of Rukmini. According to her, this theme is very appropriate considering the fish consumption in Probolinggo City is still underrated.

“Last year, fishery products were about 20,000 tons, whereas it only 7,140 tons were consumed. The rest is sent out of town and even is exported. “The level of fish consumption per capita is still below the national average,” said Rukmini.

For information, last year the fish consumption in Probolinggo City reached 35.70 kg per capita per year. Although it is in the top 5 most fish consumption in East Java, this number is still below the national target of 43.50 kg per capita per year.

Rukmini also reminded the public about the use of cantrang (kind of Danish seine net identified as unsustainable and not environmentally friendly) as a fishing equipment. She hoped that the people will replace cantrang to something else because the usage of cantrang is prohibited.

“In Probolinggo, there are still many fishermen who use cantrang. Until now the Ministry of Fisheries is still giving tolerance. I hope the fishermen can replace cantrang, “explained Rukmini.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.