Olah Tanaman Jahe di Sekolah (Processed the ginger in the school)

image_pdfimage_print

 

                Banyak sekali cara untuk menjalin hubungan antara guru dengan wali murid (orang tua siswa), seperti yang dilakukan oleh SDN Kanigaran 5. Pihak sekolah mengajak wali murid membuat produk-produk makanan atau minuman.

                 So many ways to build the relationship between teachers and the parent of the students, like what SDN Kanigaran 5 did. the school asked the parent in making the food or beverage products.

 

“Untuk menjalin hubungan dengan para wali murid kami membentuk sebuah kelompuk yang terdiri dari para guru dan juga orang tua murid. Dalam kelompok ini nantinya kami akan membuat produk makanan atau minuman yang akan dijual,” ujar Leli, salah seorang guru di SDN Kanigaran 5.

                “To build the relationship between the parent of the students, we create a group consisting of the teachers and the students’ parent. In this group, we made food or beverage products that would be sold,” said Leli, one of the teacher of SDN Kanigaran 5.

 

                Produk yang diproduksi oleh SD tersebut adalah minuman yang terbuat dari cincau hitam. Ide ini tercetus berasal dari banyaknya tanaman jahe yang ditanam di sekolah. Melihat peluang tersebut, para guru dan wali murid sepakat untuk membuat produk dari jahe yang salah satunya adalah es cincau hitam.

                The products of SDN Kanigaran 5 is beverage made of black grass jelly. This idea come from many ginger planted in the school. Seeing this opportunity, the teachers and the parents agreed  to make products made of ginger  which were one of them was black grass jelly ice.

 

                Seperti yang diungkapkan kepala SDN Kanigaran 5 Arlin Supriati, selain untuk menjalin hubungan dengan wali murid juga sebagai nilai tambah nantinya dalam penilaian adiwiyata tingkat provinsi. “Tidak hanya untuk menjalin hubungan dengan para wali murid, hal ini juga bertujuan untuk memberikan nilai tambah bagi sekolah ini dalam penilaian adiwiyata di tingkat provinsi,” jelasnya.

                As stated by the headmaster of SDN Kanigaran 5 Arlin Supriati, not only to build the relationship with the parents, it is also the addition value for the assessment of Provincial Adiwiyata. “Not only to build the relationship with the parent, but it also aimed to give addition value for the school in the assessment of provincial Adiwiyata,” explained her.

 

                Ini kali pertama SDN Kanigaran 5 mengikuti lomba adiwiyata di tingkat provinsi. Oleh karenanya, kepala sekolah bersama pihak terkait (termasuk wali murid) berpikir serius agar meraih predikat tersebut. Produk minuman ini masih dijual di lingkungan sekolah saja.

                This is the first time for SDN Kanigaran 5 to get into provincial Adiwiyata. Therefore, the headmaster and the related parties (including the students parent) think seriously to get that predicate. This beverage products was still sold in the school area.

 

“Untuk saat ini kami hanya menjualnya di lingkungan sekolah saja, hal ini agar para siswa tidak jajan di luar. Kebanyakan siswa masih banyak yang jajan di luar, dan sudah jelas sekali makanan atau minuman yang biasa di luar sekolah biasanya kurang terjaga kebersihannya,” ujar kepala sekolah.

“For this time, we only sold it in the school area,in order to avoid the students buying outside the school area. Most of students still bought their snack in the outside of school, and it is clearly the snack from the outside was lack of hygiene,” said the headmaster.

                Awalnya, sebelum membentuk kelompok untuk membuat minuman cincau hitam ini, wali murid dikumpulkan untuk dimintai pendapat tentang gagasan ini. Banyak wali murid yang setuju dengan gagasan ini, akan tetapi hanya ada sekitar 5 orang saja yang mau membantu untuk membuat produk tersebut. Pada mulanya, para wali murid ini akan dilatih di rumah salah seorang wali murid yang juga memiliki usaha yang bergerak di bidang minuman ini.

                Firstly, before making the group, the students parent were gathered to be asked their opinion about the idea of making the beverage. Many parents agreed with this idea, but there are only 5 people who wanted to help in making this products. In the beginning, the parent will be trained in one of the student’s house who have beverage business.

 

                Setelah mengikuti beberapa pelatihan dan mendapat banyak pengetahuan tentang bagaimana pembuatan cincau hitam selanjutnya wali murid mencoba membuatnya sendiri dan mulai dijual di sekolah.

After getting some training and much knowledge about how to make the beverage of black grass jelly, the parents tried to make it themselves and sold it in the school.

                Masih menurut Arlin Supriati, sekolah tempatnya bertugas juga pernah membuat produk makanan beberapa tahun lalu seperti keripik singkong. Setelah beberapa tahun bertahan dengan keripik olahan singkong, sekarang memulai untuk membuat produk yang baru. Karena usaha ini dibangun dari kerjasama antara orang tua dan guru, maka setelah siswanya lulus dari sekolah dasar, secara otomatis wali murid sudah tidak lagi melanjutkan kegiatan tersebut.

                Still according to Arlin Supriati, this school also make some food products some years ago, such as cassava chips. After few years with the cassava chips, now they try to make new product. Because this business was built from the cooperation of the parent and the teacher, if the student graduated from the school outomatically the parent were no longer involved in this activity.

 

                Hal inilah yang menjadi kendala bagi sekolah, karena setelah orang tua murid tidak lagi aktif maka orang tua murid yang berikutnya masih belum pasti mau untuk melanjutkan produksi. “Kendala bagi kami hanya jika ketika siswa sudah mulai lulus dari sekolah ini, pastinya orang tuanya sudah tidak aktif lagi di kegiatan sekolah. Dengan begitu bisa dibilang sekitar 2-3 tahun sekali hampir dipastikan selalu berganti produk yang kami produksi. Dan untuk cincau hitam ini sendiri baru berjalan sekitar 3 bulanan,” ungkap Arlin.

                It become the problem for the school, because the new parent don’t surely want to continue the production. “The problem is that if the student has been graduated, surely the parents will no longer active in this activity. It can be said that once for 2-3 year, certainly our product has changed. For this black grass jelly, it runs for about 3 months,” said Arlin.

 

                Ia pun berharap, karena produk utama berasal dari tanaman yang ditanam di sekolah, maka produk tersebut bisa menjadi nilai plus di mata tim juri. “Harapan kami semoga sekolah ini bisa mendapatkan penghargaan adiwiyata. Karena salah satu kriteria penilaiannya yaitu pengelolaan dan pengembangan sarana pendukung sekolah,” tuturnya. (din)

                She also hoped that if the main product made of plant which was planted in the school, it will get the addition value for the jury. “Our hope is this school could get the Adiwiyata award, because the one of the criteria of the assessment is the management and the development of the supportive infrastructure of school,” added her.

Leave a Reply

Your email address will not be published.