Kunjungi Kota Probolinggo, Bakorwil Nikmati City Tour

image_pdfimage_print

MAYANGAN – Pemerintah Kota Probolinggo siang tadi (10/7) menerima kunjungan Kepala Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) V Jember, Tjahjo Widodo. Kunjungan ini merupakan salah satu bagian kerjasama fasilitasi pengembangan wisata dan pasar ber-SNI antara Pemerintah Kota Probolinggo dengan Bakorwil V Jember.

Perbincangan diantara kedua belah pihak digelar di Gedung Sabha Bina Praja, Kantor Wali Kota Probolinggo. Dalam kunjungan ini, Bakorwil V Jember ingin membantu untuk mengembangkan fasilitas pariwisata yang ada di Kota Probolinggo. Kepala Bakorwil V Jember juga bahkan sempat menikmati city tour ke sejumlah tempat wisata yang ada di Kota Mangga ini. 

Beranjak dari Kantor Wali Kota Probolinggo, rombongan menuju Museum Dr. Saleh hingga Gereja Merah, Klentheng Tri Dharma, Alun-alun kota, Bee Jay Bakau Resort hingga Taman Wisata Studi Lingkungan (TWSL) juga tak luput dari rangkaian kunjungan. Rombongan berhenti di Museum Probolinggo untuk melihat segala potensi budaya yang ada di Kota Probolinggo. 

Wali Kota Rukmini menyampaikan harapannya agar melalui kunjungan Kepala Bakorwil ini, kebutuhan Kota Probolinggo di sektor pariwisata bisa terpenuhi. “Semoga dengan adanya kunjungan Kepala Bakorwil V Jember, kebutuhan terkait potensi pariwisata yang sudah ada ini bisa terpenuhi, termasuk bus pariwisata yang nantinya digunakan untuk city tour. Alhamdulilah Kepala Bakorwil V Jember mengapresiasi motif batik kita,” tutur Rukmini. 

Kepala Bappeda Litbang, Rey Suwigtyo menyatakan bahwa kunjungan ini merupakan salah satu langkah kerjasama antara Pemerintah Kota Probolinggo dengan Bakorwil. “Program city tour akan menjadi ikon di wilayah Bakorwil 5 Jember. Termasuk pasar yang Ber-SNI, yang diusulkan oleh Kepala Bakorwil adalah Pasar Baru,” jelas pria yang akrab dipanggil Tyok ini. 

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan dan Perindustrian (DKUPP), Gatot Wahyudi menyatakan masih banyak kriteria yang harus dipenuhi untuk menuju pasar ber-SNI. 

“Yang memungkinkan untuk menjadi pasar ber-SNI adalah Pasar Baru dan Pasar Kronong karena pasar ini yang sudah direvitalisasi. Dan, nanti harus dibuat pola baru untuk mengubah image masyarakat, baik pembeli maupun penjual agar mereka bisa menjaga, ikut memiliki pasar,” ujar Gatot.

Menurut Gatot, beberapa kriteria untuk menjadi pasar ber-SNI antara lain pasar harus memiliki ruang laktasi, CCTV, hingga monitor TV yang dapat menunjukkan perubahan harga terkini. (alfien/humas)

 

This afternoon (10/7), Probolinggo City Government was visited by the Head of the Regional Coordination Agency (Bakorwil) V Jember, Tjahjo Widodo. This visit was one part of the collaboration on tourism and national standard market development between the Probolinggo City Government and the Bakorwil V Jember.

The meeting was held at Sabha Bina Praja hall at Probolinggo Mayor’s Office. Bakorwil V Jember wanted to help developing tourism facilities in Probolinggo City. The Head of Bakorwil V Jember even had time to enjoy the city tour to a number of tourist attractions in this mango city (Probolinggo known as mango producer).

Starting from the Mayor’s office, the group headed to the dr. Saleh museum, the Red Church, Tri Dharma Klentheng, Alun-alun kota, Bee Jay Bakau Resort and Taman Wisata Studi Lingkungan (TWSL/mini zoo). The city tour finished at the Probolinggo Museum to see all the cultural potential of Probolinggo City.

Mayor Rukmini expressed her hope that the Head of the Bakorwil would fulfill the needs of Probolinggo city in tourism sector. “Hopefully with this visit, the needs related to the existing tourism potential can be fulfilled, including tourism buses which will be used for city tours. Alhamdulillah (thank God) the Head of Bakorwil V Jember appreciated our batik motives, “said Rukmini.

Head of Bappeda Litbang, Rey Suwigtyo stated that this visit was one of cooperation between the Probolinggo City Government and Bakorwil. “The city tour program will be an icon in the Bakorwil 5 Jember. So as national standard market, the Head of the Bakorwil determined Pasar Baru as the pilot,” explained the man who is familiarly called Tyok.

Meanwhile, Head of the Cooperative, Micro, Trade and Industry Agency (DKUPP), Gatot Wahyudi stated that there were still many requirements in order to meet national standard market.

“The possible ones to be national standard market are Pasar Baru and Pasar Kronong because those markets have been revitalized. And, a new pattern must be made to change the image of the people, both buyers and sellers, so that they can maintain, and feels they have the market, “Gatot said.

According to Gatot, there are some requirements for becoming a national standard market including having lactation rooms, CCTV, and TV monitors showing the latest price changes. (unofficial translation/hariyanti)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.