Launching Kampung Tematik di Cangkruan

image_pdfimage_print

 

KADEMANGAN – Kecamatan Kademangan baru saja meluncurkan program baru andalannya, yakni Kampung Tematik. Sesuai dengan jargonnya, program ini merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan Kademangan Bangkit. Kampung Tematik diresmikan secara langsung oleh Wali Kota Rukmini dalam acara cangkruan di kantor Kecamatan Kademangan, Senin pagi (30/7). 

Kademangan Bangkit merupakan salah satu inovasi yang dimunculkan untuk mewujudkan Kademangan yang bersih, aman, nyaman, gotong royong, kerja keras, inovatif, dan tertib. “Kampung Tematik jadi salah satu upaya untuk mewujudkan Kademangan Bangkit. Melalui program ini, kami ingin agar setiap warga kademangan melalui RW masing-masing dapat saling bergotong royong untuk menunjukkan kreasinya, dengan memaksimalkan potensi yang dimiliki,” jelas Camat Kademangan Pujo A. Satrio. 

Demi mensukseskan program ini, Kecamatan Kademangan bekerjasama dengan Radar Bromo untuk menggelar Kademangan Bangkit Award 2018 dengan tema “Lomba Kampung Tematik Antar RW Se-Kecamatan Kademangan Kota Probolinggo”. Tahap sosialisasi dan pendaftaran terkait lomba ini telah rampung sejak pertengahan Juli lalu. Saat ini, tiap RW yang mengikuti lomba ini diwajibkan membuat konsep kampung tematik untuk segera diserahkan ke panitia. 

Tiap RW yang mengikuti lomba memiliki potensi masing masing. Mereka pun memiliki konsep yang berbeda-beda. “Seperti di Pohsangit Kidul, ada Kampung Tole yang merupakan singkatan dari kampung ternak olah lele. Ada juga kampung U2lor yakni, usaha urup-urup dan olahan kelor,” ujar Pujo. 

Wali Kota Rukmini mengapresiasi program yang dicanangkan Kecamatan Kademangan kali ini. Namun ia berharap dalam prosesnya nanti para peserta diwajibkan untuk mengutamakan sisi kesehatan di setiap tema yang mereka kembangkan. 

“Seperti program usaha urup-urup dan olahan kelor tadi, harus memperhatikan kebersihannya. Bagaimana caranya agar usaha urup-urup tidak identik dengan kotor dan tidak sehat. Harus dikemas dengan baik. Misalnya ada ban bekas, jangan sampai ada genangan airnya sehingga nanti bisa menjadi tempat munculnya jentik nyamuk aedes aegypti,” terang Rukmini. 

Sementara itu, Kapolres Probolinggo Kota AKBP Alfian Nurrizal yang hadir dalam acara ini mengimbau kepada warga Kota Probolinggo pada umumnya untuk tidak lagi menggunakan petasan dalam acara pernikahan. Hal ini dilakukan sebagai tindak lanjut korban petasan meledak di Jrebeng Kulon, Kedopok baru-baru ini. 

“Saya sudah instruksikan kepada jajaran saya agar petasan yang dinyalakan di hajatan pernikahan tidak diijinkan. Apabila nanti masih ditemukan bahan peledak atau petasan dalam hajatan pernikahan, maka akan saya periksa, dan bukan tidak mungkin akan melalui proses hukum,” tegas Alfian._alfien/humas

 

Kademangan sub-district has just launched its new program, Thematic Village. In accordance with its jargon, this program is one of the efforts to realize the Kademangan Bangkit (Rising Kademangan). The Thematic Village was inaugurated directly by the Mayor of Rukmini in cangkruan event at the Kademangan sub-district office, on Monday morning (30/7).

Kademangan Bangkit is one of the innovations to create a clean, safe, comfortable, mutual cooperation, hard work, innovative and orderly Kademangan. “The Thematic Village is one of the efforts to realize the Kademangan Bangkit. Through this program, we want every citizen of Kademangan through RW (community unit) working together to show their creations, by maximizing their potential, “explained the Head of Kademangan Pujo A. Satrio.

To succed this program, Kademangan sub-district collaborates with Radar Bromo to hold the Kademangan Bangkit Award 2018 themed “Lomba Kampung Tematik antar RW se-kecamatan Kademangan Kota Probolinggo/ Thematic Village Contest on RW level of Kademangan Sub-district, Probolinggo City”. The socialization and registration stage has been completed since mid-July. Now, every RW participating in this competition is required to make a thematic village concept submitted to the committee.

Each RW has its own potential. They also have different concepts. “As in Pohsangit Kidul, there is a Kampung Tole which stands for kampung ternak olah lele (village of processed catfish products). There are also kampung U2lor, namely, the urup-urup (scavenging) and kelor (moringa oleifera)-processed businesses, “Pujo said.

Mayor Rukmini appreciated the program launched by Kademangan sub-district this time. But she hoped that the participants will be obliged to prioritize the healthy side of their theme.

“Like the urup-urup and processed kelor program, they must pay attention to cleanliness, on how to make the urup-urup cleaner and healthier. It must be packed well. For example, if there are some used tires, do not let any water on it since it will be a place for aedes aegypti mosquito larvae, “explained Rukmini.

Meanwhile, the Chief of the Probolinggo City Police, AKBP Alfian Nurrizal in this event appealed to residents of Probolinggo in general to no longer use firecrackers at weddings. It is as a continuation to the recent explosion of firecrackers in Jrebeng Kulon, Kedopok.

“I have instructed my staff to not allow firecrackers in wedding ceremonies. If there were explosives or firecrackers found in the wedding ceremony, I will check it, and it is not impossible to face a legal proceeding,” Alfian said. (unofficial translation/hariyanti)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.