Pemkot-Pemkab Probolinggo Komitmen Kembangkan Wisata dan Tukar Guling Aset

image_pdfimage_print

PROBOLINGGO–Wali Kota Probolinggo Rukmini memenuhi undangan Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) V Jember, Jumat (10/8) lalu. Pertemuan bersama Kepala Bakorwil yang juga Pj Bupati Probolinggo R.Tjahjo Widodo itu membahas tentang pengembangan potensi wisata dan pelayanan terhadap wisatawan di wilayah Kabupaten/Kota Probolinggo, serta kerjasama di bidang aset. 

“Kami ingin bisa bekerjasama dan sinergi antara Pemkot dan Pemkab Probolinggo,” tegas Pj Bupati yang menginisiasi adanya rapat koordinasi tersebut. 

Ia pun mengawali cerita pengalamannya saat berada di stasiun Probolinggo. Ia melihat ada wisatawan asing bersama anak-anaknya yang sedang duduk ngemper  di lingkungan stasiun. Dengan kemampuan Bahasa Inggris yang ia punya, Tjahjo kemudian bertanya kenapa mereka duduk disana dan akan pergi kemana. 

Dari obrolan tersebut diketahui jika wisatawan asal Swedia itu akan ke Gunung Bromo. “Mereka sudah pesan travel tapi ditunggu-tunggu selama satu jam belum datang juga. Saya tidak habis pikir, coba bayangkan jika kita diposisi mereka. Di tempat yang asing, dikejar-kejar oleh calo,” tutur pria berkumis yang kemudian menawarkan tumpangan kepada wisatawan tersebut. Tjahjo kemudian mengantar mereka ke terminal. 

Berawal dari pengalaman tersebut, Tjahjo berharap ada sinergi antara Pemkot/ Pemkab Probolinggo agar hal serupa tidak dialami oleh wisatawan asing yang akan berwisata di Probolinggo. Karena kondisi tersebut pasti akan mempengaruhi penilaian wisatawan terhadap pelayanan wisata di daerah ini. 

Oleh sebab itu, Pj Bupati yang sekaligus Kepala Bakorwil V Jember ini mengundang langsung wali kota untuk membahas sejumlah permasalahan yang ada. Wali Kota Rukmini pun menyambut baik. 

Dengan menghadirkan Kepala Dinas Perhubungan Sumadi dan Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Tutang Heru Aribowo untuk membahas secara langsung terkait sektor pariwisata. 

Akhirnya, dalam rakor tersebut disepakati bahwa ada kerjasama yang perlu dikembangkan oleh dua pemerintah ini. Yakni adanya layanan informasi pariwisata kabupaten/ kota di depan stasiun Probolinggo (saat ini dikelola oleh kota). 

Harapannya, pelayanan tersebut dilaksanakan oleh kota/ kabupaten dan provinsi. Selain itu juga transportasi layanan untuk wisatawan, dari Stasiun dan dari Pelabuhan Probolinggo menuju Objek Wisata di Kota Probolinggo dan Kabupaten Probolinggo. 

Hal lain yang dikembangkan, diharapkan bantuan dari Gubernur Jatim / Dinas Perhub Prov Jatim, Menteri Pariwisata RI;  Pengembangan Sentra Suvenir / Oleh-oleh Khas Kota/Kabupaten Probolinggo; Diklat Pramu Wisata bersama Kabupaten/Kota Probolinggo oleh Dinas Pariwisata Provinsi Jatim; Kerjasama Paket Wisata Kota dan Kabupaten Probolinggo; Kerjasama Promosi Wisata Kabupaten/Kota Probolinggo; Kerjasama untuk mendatangkan kunjungan Wisatawan/Investor/Pengusaha dalam dan Luar Negeri.

Tak hanya bahas soal sector pariwisata. Pertemuan juga juga membahas sector strategis lainnya. Diantaranya, soal pelayanan kesehatan. 

Rencana Pemkot Probolinggo memperluas RSUD dr Mohamad Saleh nampaknya akan berjalan mulus. Pihak Pemkab Probolinggo nampaknya sudah memperbolehkan Pemkot mengambil alih Laboratorium Kesehatan Daerah milik Pemkab di Jalan Panjaitan, tepat di sebelah selatan RSUD. Pengambil alihan tersebut bisa dengan sistem jual beli, tukar guling atau hibah. 

Jika Pemkab sudah memberikan lampu hijau, maka rencana Pemkot untuk membeli sebidang tanah di sebelah laboratorium akan terealisasi. “Lab itu rencananya akan kami tukar guling dengan aset Pemkot yang bersebelahan dengan rumah dinas wakil bupati. Atau ada beberapa aset yang kami usulkan untuk ditukar,” ujar Wali Kota Rukmini. 

“Kabupaten (Pemkab Probolinggo) mau menyerahkan ke kota lab milik Dinas Kesehatan tersebut. Kalau mau ya Kantor Dishub sekalian (di Jalan Panglima Sudirman). Bagaimana mekanismenya mari kita nanti rumuskan bersama,” ujar Kepala Badan Keuangan Daerah Kabupaten Pobolinggo, Santiyono yang ikut hadir dalam rakor. 

Sejumlah aset Kota/ Kabupaten Probolinggo yang rencananya ditukar guling adalah Museum Probolinggo (ada sebagian milik kabupaten sehingga mempersulit pembuatan sertifikat), Lab Kesehatan Daerah (Jalan Panjaitan), Kantor Dishub Kabupaten Probolinggo (Sukabumi, Mayangan Kota Probolinggo), Gudang Farmasi (Jalan Anggrek).

Untuk aset milik Pemkot yang diusulkan untuk ditukar adalah Kantor SPSI (Jalan Imam Bonjol timur Rumdin Wabup) atau mungkin milik kota / provinsi, Kantor Dinas Sosial Kota Probolinggo (Jalan Raya Dringu), Lahan Pembibitan Kedung Sumpit (Jalan Wonomerto) dan Lahan Persawahan 4056 M2 (Desa Kalisalam, Dringu). 

Wali Kota Rukmini sepakat dengan adanya pengembangan potensi wisata antara kota/kabupaten bersama provinsi. Seperti pelayanan informasi wisata yang terintegritas, transportasi untuk wisatawan dari pelabuhan atau stasiun yang dilayani oleh kota/kabupaten dan provinsi. 

“Mudah-mudahan segera terakomodasi dengan baik. Untuk Kota Probolinggo potensi wisata tidak ada yang meng-internasional berbeda dengan Kabupaten yang punya Gunung Bromo. Oleh karena itu Bagaimana kita bisa melayani dengan baik agar wistawan asing tidak telantar. Saling kerjasama siapa tahu provinsi menyediakan. Dan, Bagaimana kerjasama paket wisata oleh agen secara terpadu antara kota dan kabupaten agar wisatawan bisa diajak keliling sampe ke sentra UKM dengan adanya transportasi wisata ini,” jelas Rukmini. 

Pj Bupati pun menuturkan soal tukar guling nanti bisa dilakukan tukar menukar, kabupaten bersedia menempati yang mana. Persoalan investor, ujar Tjahjo, harus dicari dan berharap Gubernur Jatim mau memfasilitasi. Intinya, kota/kabupaten harus bersinergi dalam memberikan pelayanan pada wisatawan termasuk adanya hubungan langsung antara UKM dan wisatawan tersebut.

“Museum Probolinggo ini sangat bagus dan menarik. Harus kita ekspose. Dari museum itu kita tahu Bagaimana nilai seni sesepuh kita yang sangat luar biasa. Sehingga harapannya museum menjadi jujugan semua wisawatan dan menjadi salah satu destinasi wisata. Kita akan upayakan kerjasama dengan instansi yang ada dengan suatu hasil kinerja yang riil,” tegas Tjahjo Widodo. 

Diketahui, perjanjian kerjasama antara Kabupaten dan Kota Probolinggo sudah ada. Tinggal operasionalnya dilaksanakan oleh Organisasi Perangkat Kerja (OPD) terkait. 

Selain Disbudpar dan Dishub, ada Asisten Pemerintahan, Asisten Ekonomi dan Pembangunan, Kabag Humas dan Protokol, Kabag Pemerintahan dan Bidang Aset BPPKAD juga ikut alam pertemuan itu. 

Sedangkan Kabupaten Probolinggo, ada Asisten Pemerintahan, Kepala Badan Keuangan Daerah, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, Kabag Pemerintahan, perwakilan Bappeda, Bagian Hukum dan Dinas Kominfo. (famydecta/humas)

 

PROBOLINGGO – Mayor of Probolinggo Rukmini fulfilled the invitation of Regional Coordinating Board (Bakorwil) V Jember, Friday (10/8). The meeting with the Head of the Bakorwil and Probolinggo Acting Regent R. Tjahjo Widodo discussed the development of tourism potential and services for tourists in the Regency / City of Probolinggo, as well as cooperation in the field of assets.

“We want to be able to work together and synergize between the Probolinggo Municipality and Probolinggo Regency Government,” said the Acting Regent who initiated the coordination meeting.

He also began the story of his experience while at Probolinggo station. He saw there were foreign tourists with their children who were sitting in the station environment. With the English skills he had, Tjahjo then asked why they were sitting there and where they are headed.

From the conversation, it is known that the Swedish tourist was going to Mount Bromo. “They have ordered travel but have been waiting for an hour. I can’t help thinking; just imagine if we are in their position. In a foreign place, being chased by brokers,” said the man with a mustache who then offered a ride to the tourist. Tjahjo then escorted them to the terminal.

Starting from this experience, Tjahjo hopes that there will be a synergy between the municipality and Probolinggo Regency so that similar things will not be experienced by foreign tourists who will be traveling in Probolinggo. Because these conditions will definitely affect the rating of tourists on tourism services in this area.

Therefore, the Acting Regent and the Head of the Jember Bakorwil V invited the mayor to discuss a number of problems. Mayor Rukmini welcomed him.

Attending the meeting were the Head of Probolinggo City’s Transportation Service, Sumadi, and Head of Culture and Tourism Office, Tutang Heru Aribowo to discuss directly related to the tourism sector.

Finally, in the coordination meeting it was agreed that there would be cooperation that needed to be developed by these two governments. Namely the existence of district / city tourism information services in front of Probolinggo station (currently managed by the city).

The hope is that the service will be carried out by the city / regency and province. In addition, service transportation for tourists, from the Station and from the Port of Probolinggo to Tourism Objects in Probolinggo City and Probolinggo Regency.

Another thing that was developed, it is expected that assistance from the Governor of East Java / East Java Provincial Civil Service Office, Minister of Tourism of the Republic of Indonesia; Development of Probolinggo City / Regency Souvenir / Souvenir Center; Tour Guide Training with the Regency / City of Probolinggo conducted by the East Java Provincial Tourism Office; Collaboration between the City and Probolinggo District Tour Packages; Cooperation in Probolinggo Regency / City Tourism Promotion; Cooperation to bring in Tourist / Investor / Entrepreneur visits at home and abroad.

Not only discussing the tourism sector. The meeting also discussed other strategic sectors. Among them was about health services.

The plan for the Probolinggo Municipality to expand Dr Mohamad Saleh Hospital seems to be running smoothly. The Probolinggo Regency Government seems to have allowed the City Government to take over the Regional Health Laboratory of the Regency Government on Jalan Panjaitan, just at the southern of city’s hospital. The takeover can be a system of buying and selling, swapping or grants.

If the Regency Government has given the permission, then the City Government’s plan to buy a piece of land next to the laboratory will be realized. “The lab is planned to be exchanged with the assets of the City Government adjacent to the deputy regent’s official residence. Or there are some assets that we propose to exchange,” said Mayor Rukmini.

“The Regency want to submit to the city lab owned by the Health Office. If possible, the city can have our asset in the Transportation Agency (on Jalan Panglima Sudirman). We can discuss the mechanism together,” said Head of the Regional Finance Agency of Pobolinggo Regency, Santiyono, who was present at the coordination meeting.

A number of Probolinggo City / Regency assets that are planned to be exchanged are Probolinggo Museum (some belong to the regency making it difficult to make certificates), Regional Health Lab (Jalan Panjaitan), Probolinggo Regency Transportation Agency (Sukabumi, Mayangan Probolinggo City), Pharmacy Warehouse (Jalan Anggrek) .

The assets of the City Government proposed to be exchanged are the SPSI Office (Jalan Imam Bonjol Timur Rumdin Wabup) or may belong to the city / province, the Social Service Office of Probolinggo City (Dringu Highway), Kedung Sumpit Nursery (Jalan Wonomerto) and Rice Fields 4056 M2 (Desa Kalisalam, Dringu).

Mayor Rukmini agreed with the development of tourism potential between cities / regency and provinces. Such as integrated tourist information services, transportation for tourists from the port or stations served by the city / regency and province.

“Hopefully it will be accommodated soon. For Probolinggo city, there is no international tourism potential like the Regency that has Mount Bromo. Therefore, how can we serve well so that foreign tourists are not abandoned. Mutual cooperation, and we hope the province will support us. And, how is the cooperation of tour packages by agents in an integrated manner between cities and regency so that tourists can be invited around to the SME centers with the existence of this tourist transportation,” explained Rukmini.

The Acting Regent also said that the exchange would later be carried out in exchange, which the regency were willing to occupy. The issue of investors, said Tjahjo, must be sought and hoped the East Java Governor would facilitate. In essence, city / regency must synergize in providing services to tourists including the direct relationship between SMEs and tourists.

“Probolinggo Museum is very nice and interesting. We have to expose. From the museum we know how the value of our elders’ art is extraordinary. We hope that the museum could be a main destination for all tourist. We will try to collaborate with existing institutions with a real performance result,” said Tjahjo Widodo.

It is known, the cooperation agreement between the Regency and the City of Probolinggo already exists. The operational mechanism would be out by the relevant working units (OPD).

In addition to Disbudpar (tourism agency) and Dishub (transportation service), there were Assisstant fo Government Affair, Economic and Development Assistants, Head of Public Relations and Protocol Department, Head of Government and Asset Division of BPPKAD who also participated in the meeting.

Whereas Probolinggo Regency, there is a Government Assistant, Head of the Regional Finance Agency, Head of the Food and Agriculture Resilience Service, the Head of Government Affairs Department, representatives of Bappeda (planning department), the Legal Section and the Ministry of Communication and Information.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.