Sukses Tahun Lalu, SFP Kembali Meriahkan Semipro

image_pdfimage_print

 

KANIGARAN- Satu jalur Jl. Panglima Sudirman di depan Kantor Wali Kota Probolinggo ditutup, Minggu (2/9). Lantaran  ruas jalan itu kembali digunakan sebagai panggung para model memamerkan busananya. Ini merupakan tahun ke dua, pagelaran busana bertajuk Sudirman Fashion Street itu digelar.

Tahun lalu, tema yang mereka usung Casual Monocrom. Acara yang baru pertama digelar itu terbilang sukses, karena antusias masyarakat yang cukup tinggi. Ingin mengulang sukses tahun lalu, panitia kembali menggelar kegiatan serupa dengan tema Casual Pendalungan. 

Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata, Suciati Ningsih dalam sambutannya menyatakan, acara ini digelar tidak lebih untuk menyadarkan masyarakat Kota Probolinggo agar lebih mencintai pakaiannya sendiri, khas Pendalungan. “Sudirman Fashion Parade adalah salah satu cara untuk mengembangkan dunia fashion di Kota Probolinggo. Tema besarnya adalah casual Pendalungan. Semoga kita lebih cinta terhadap busana Pendalungan,” ungkap Suciati dalam laporannya. 

Wali Kota Rukmini hadir mengenakan setelan batik hijau. Dalam kesempatan itu, Wali Kota mengapresiasi acara-acara yang mempromosikan budaya Kota Probolinggo. “Kegiatan seperti ini harus dilanjutkan. Saya mengapresiasi kreativitaskreativitas anak-anak muda Kota Probolinggo. Harus dikembangkan, apalagi saat ini temanya casual Pendalungan. Sangat identik dengan Kota Probolinggo,” ungkap Rukmini. 

Rukmini berharap apa yang di mulai ini nantinya bisa jadi destinasi wisata. “Sudirman Fashion Parade ini memang masih tidak sebesar festival lainnya. Namun kedepan saya harap menjadi destinasi yang bisa dipromosikan ke luar Kota Probolinggo, atau bahkan luar negeri,” harap Wali Kota. 

David Aryo Brawijaya, koordinator acara menjelaskan konsep casual Pendalungan itu. “Kenapa harus casual, ya karena kita ingin mempermudah peserta mencari pakaian. Casual itu kan pakaian sehari-hari. Pendalungannya kita ambil unsur warnanya saja. Kalau wanita atasan kutu baru, laki-laki ya atasan Sakera, udeng, atau Basofi (khas Jawa Timur) itu,” terang David.

Dalam parade ini, panitia juga melombakan dengan kategori umur 13 sampai 20 tahun. Pemenang mendapatkan uang tunai, piagam, dan trophy. Para pemenang juga tampil dalam acara penutupan Semipro (3/9) di panggung utama, Alun-Alun Kota Probolinggo. (abdurhamzah/humas)

 

SFP to Enliven Semipro Again

One lane of Jl. Panglima Sudirman in front of the Probolinggo Mayor’s Office was closed on Sunday (2/9) because the road will be used as a stage for the models showing off their clothes. This is the second year, a fashion show titled Sudirman Fashion Street was held.

Last year, they adopted Casual Monocrom theme. That first event got a success, because of the high enthusiasm of the community. Wanting to repeat the success of last year, the committee held again similar activity with Casual Pendalungan theme this year.

The Head of Tourism Marketing division, Suciati Ningsih stated that this event was held to make the people of Probolinggo aware of their own clothes, typical of Pendalungan. “Sudirman Fashion Parade is a way to develop the fashion world in the City of Probolinggo. The theme is casual Pendalungan. Hopefully we will love our Pendalungan clothing more,” Suciati said in her report.

That night, Mayor Rukmini was wearing a green batik suit. On that occasion, the Mayor appreciated the events that promoted the culture of the City of Probolinggo. “This kind activity must be continued. I appreciate the creativity of young people in Probolinggo City. It must be developed, especially when this theme is casual Pendalungan. It is very identical with Probolinggo City, “said Rukmini.

Rukmini hoped that it will be a tourist destination. “This Sudirman Fashion Parade is still not as big as other festivals. But in the future I hope it will be a tourism destination that can be promoted outside of Probolinggo City, or even go abroad, “hoped the Mayor.

David Aryo Brawijaya, the event coordinator explained on the casual concept of the Pendalungan. “Why should it be casual, because we want to make it easier for participants to find some clothes. Casual is our daily clothes. We take the color elements for making it such Pendalungan clothes. “For women we have kutu baru kebaya, and for men there are Sakera shirt, udeng (headband), or Basofi (typical East Java),” explained David.

In this parade, the committee also competed with 13 to 20 years categories. The winners will get cash, certificates and trophies. The winners will also be performed at the closing ceremony of Semipro (3/9) on the main stage at Probolinggo City Square. (unofficial translation/hariyanti)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.