LARUNG SESAJI, UPAYA LESTARIKAN WARISAN BUDAYA

image_pdfimage_print

MAYANGAN –  Untuk menjaga dan melestarikan seni budaya sebagai warisan, Pemerintah Kota Probolinggo menggelar larung sesaji bumi dalam rangka memperingati 1 Muharram 1440 Hijiriyah / tahun 2018, Sabtu (15/9) di Pelabuhan Pelelangan Ikan. 

Panita pelaksana kegiatan Ki Suherwan Adi Projo mengatakan kegiatan ini dilakukan untuk melestarikan nilai – nilai luhur nenek moyang leluhur peletak dasar adat istiadat budaya suroan, menggalang kesatuan dan persatuan seluruh warga Kota Probolinggo. “Mewujudkan keselamatan umat dan keseimbangan alam yang dapat mensejahterakan alam yang dapat mensejahterakan kehidupan masyarakat,” ujar Ki Suherwan.

Dalam kesempatan itu Asisten Pemerintahan Gogol Sujarwo menyampaikan kegiatan ini merupakan budaya larung sesaji bumi yang identik dengan upacara adat bersih Kota Probolinggo. Kegiatan ini merupakan perwujudan dari sikap kesadaran spiritual dan tanggung jawab.

“Semoga kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan dan dipertahankan, dan semoga kita semua khususnya masyarakat Kota Probolinggo diberikan kesejahteraan, ketentraman dan kedamaian,” harap GoGol. 

Sebelum acara seremonial berlangsung, masyarakat dimanjakan dengan berbagai tari tarian dari sanggar mardi budoyo, diantaranya ada Reog Ponorogo, Jaran Bodag yang merupakan kesenian khas Kota Probolinggo. Mita/Humas.

 

Larung Sesaji to Preserve Cultural Heritage

To keep and to preserve cultural arts, the Probolinggo City Government held a Larung Sesaji Bumi (releasing offering to the sea) to commemorate 1 Muharram 1440 Hijiriyah/2018, on Saturday (9/15) at the Pelabuhan Pelelangan Ikan (PPI).

The organizing committee, Ki Suherwan Adi Projo said that this activity was carried out to preserve the noble values of the ancestors who made “Suroan” (ritual in month Suro/Muharram) cultural customs, and also to unite all Probolinggo City residents. “And to create people’s safety and the balance of nature to prosper people’s lives,” said Ki Suherwan.

On that occasion, Assistant for Governmental Affairs Gogol Sujarwo stated that this activity is identical to traditional ceremony of Bersih Kota Probolinggo (city cleaning). This activity is an embodiment of the attitude of spiritual awareness and responsibility.

“Hopefully, we can continue to carry out and to maintain this kind of activity, and hopefully all of us, especially the people of Probolinggo City, will be given prosperity, and peacefulness,” hoped GoGol.

Before the ceremonial event took place, the people were showed various dances from the sanggar Mardi Budoyo, including Reog Ponorogo, and a special art of Probolinggo City, Jaran Bodag. (unofficial translation/hariyanti)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.