Rukmini Harapkan Santri Sebarkan Kemaslahatan

image_pdfimage_print

Mayangan – Pemerintah Kota (Pemkot) Probolinggo, Senin (22/10) pagi menggelar upacara dalam rangka memperingati Hari Jadi yang ke 73 Provinsi Jawa Timur (Jatim), Hari Sumpah Pemuda ke 90 dan Hari Santri ke 4 Tahun 2018.  Upacara tersebut digelar di Alun-Alun Kota Probolinggo.

Wali Kota Probolinggo, Rukmini bertindak sebagai inspektur upacara. Tampak hadir Ketua DPRD Kota Probolinggo Agus Rudiyanto Ghafur, Sekretaris Daerah Bambang Agus Suwignyo, jajaran Forkopimda dan Kepala OPD Kota Probolinggo. Peserta upacara sendiri terdiri dari Aparatur Sipil Negara (ASN), Mahasiswa, Pelajar, serta perwakilan Santri di Kota Probolinggo.

Terkait dengan peringatan hari Jadi Jawa Timur, Wali Kota membacakan sambutan Gubernur Soekarwo. Dalam sambutannya, Gubernur menegaskan bahwa peringatan hari jadi Provinsi Jawa Timur yang ke 73 ini,  merupakan momentum untuk menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan. Selain itu merupakan sarana pendorong semangat memiliki dan membangun daerah, serta memperkuat rasa kecintaan masyarakat di wilayah Jawa Timur dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Hari jadi Provinsi Jatim yang ke 73 ini mengusung tema “Makmurkan Jawa Timur Melalui Industri UMKM Berbasis Digital”. Tema tersebut merupakan sebuah tekad dan semangat Provinsi Jawa Timur untuk membangun ekonomi berbasis digital, agar mampu tumbuh inklusif dan berkelanjutan dengan fokus pada segmen industri UMKM.

“Semoga pada peringatan hari jadi Provisi Jawa Timur yang ke 73 ini, menjadi momentum kebangkitan E-COMMERCE (perdagangan elektronik) dan ekonomi digital jawa timur, untuk mampu bersaing dan mandiri dalam membangun ekonomi di tengah kondisi global yang sangat dinamis”, ujar Rukmini membacakan sambutan Soekarwo.

Dalam peringatan hari santri, Rukmini menyampaikan bahwa momentum Hari Santri perlu ditransformasikan menjadi gerakan penguatan paham kebangsaan yang bersintesis dengan keagamaan. Spirit nasionalisme bagian dari iman perlu terus digelorakan di tengah arus ideologi fundametalisme agama yang mempertentangkan Islam dan nasionalisme.

“Hari Santri juga harus digunakan sebagai revitalisasi etos moral kesederhanaan, asketisme dan spiritualisme yang melekat sebagai karakter kaum santri. Etos ini penting ditengah merebaknya korupsi, narkoba, LGBT dan hoax yang mengancam masa depan bangsa” ujar Rukmini.

Saat ini santri juga hidup di tengah era digital, maka santri perlu memperalat teknologi informasi, sebagai media dakwah dan sarana menyebarkan kebaikan dan kemaslahatan serta meredukasi penggunaannya yang tidak sejalan dengan upaya untuk menjaga agama, jiwa, nalar, harta, keluarga dan martabat seseorang.

“Khusus untuk anak-anakku para santri, kalian adalah bagian penting sejarah perubahan bangsa Indonesia mendatang. Nikmati kesederhanaan hidup di pesantren, meskipun makan dengan lauk seadanya dan sehari-hari menggunakan sarung dan sendal jepit”, tambah Rukmini. 

Terkait dengan peringatan hari Sumpah Pemuda, Rukmini dalam kesempatan itu menyampaikan bahwa segenap elemen masyarakat patut bersyukur atas sumbangsih para pemuda Indonesia yang sudah melahirkan Sumpah Pemuda. Sudah seharusnya kita meneladani langkah-langkah dan keberanian mereka mampu menorehkan sejarah emas untuk bangsanya.

“Hari ini, sarana transportasi umum sangat mudah, untuk menjangkau ujung timur dan barat Indonesia hanya dibutuhkan beberapa jam saja. Untuk berkomunikasi dengan pemuda di plosok-plosok negeri ini, cukup dengan menggunakan alat komunikasi dan tidak menunggu datangnya tukang pos hingga berbulan-bulan lamanya. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi menjadikan interaksi sosial berlangsung selama 24 jam, kapanpun dan di manapun”, kata Rukmini.

Rukmini juga mengatakan, Presiden Republik Indonesia pertama Bung Karno pernah menyampaikan, bahwa jangan mewarisi abu sumpah pemuda, tapi warisilah api sumpah pemuda. Kalau sekedar mewarisi abu, maka tentunya akan puas dengan Indonesia yang sekarang sudah satu bahasa, satu bangsa dan satu tanah air. Tetapi ini bukan tujuan akhir.

“Kita seharusnya malu dengan para pemuda 1928, sudah saatnya kita melangkah ke tujuan lain yang lebih besar, yaitu mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, saatnya kita berani bersatu untuk kemajuan dan kejayaan Indonesia”, jelas Rukmini. (soni/humas)

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.